Senin, 12 Juni 2017

The Dawn

Fajar




Untuk para Mystic.





Satu, dua, tiga minggu, bangkit Mara ke permukaan.
Berusaha menyamakan kedudukan ia dengan kesadaran.
Beku, ruang hati, gelap.
Ia datang menyelinap.

Ke hadapanku, hadir Kegelapan dan Cahaya, berdampingan.
Berdiri kami di dalam sebuah ruangan.
Ruang di antara, adalah Maya.
Malam dan siang, yaitu fajar, satu di antaranya.



Kemudian suara Sang Agung, berkata,

"Wahai pengelanaku, ketahuilah di mana kau berada sekarang.
Ketahuilah apa yang kau lihat di hadapanmu."


Bertekuk lutut aku, berkata,

"Wahai Sang Agung, aku mengenalinya, tempat aku berada sekarang,
dan aku mengenali mereka yang ku lihat di hadapanku."




Menoleh Maya menatapku dalam. Kemudian tertunduk dan menepi.
Tinggal Kegelapan dan Cahaya, aku datang menghampiri.


"Kegelapan dan Cahaya, tak terpisahkan. Apakah kau tahu itu?

Mereka hadir saat malam dan siang. Begitu, karena bumi berlaku.
Tempat kau berpijak, tempat kau hidup, tempat kau ada, alamiah, begitu."



Perhatian tertuju kepada bumi, Sang Ibunda.
Jauh ke dalam, ke pusat, inti bumi, jantung kehidupannya.
Ia hidup, berjiwa, ia berkata, bersedih dan pula berbahagia.

Kearifannya menjaga tanah dan lautan
Kearifannya mengatur api dan hujan.
Kearifannya mengatur angin dan kesuburan.
Bisikan halusnya tumbuh menjadi tanaman dan bunga.
Akulah kehidupan pada kehidupan. Aku hidup karenanya. 

Sambutku pada Kegelapan dan Cahaya selayak saudara.
Mereka menatap dalam, tersenyum, menepi, menyibak.
Aku melangkah ke ruang-ruang lanjut yang terkuak.



"Kau telah bebas dari Kegelapan. Kau telah bebas dari Cahaya.
Kau penguasa senja dan fajar. Kau adalah Sang Matahari. Putra Cahaya.
Di ruang ini kau terima kunci kehidupan.
Terimalah dan gunakan sesuai kearifan"



"Wahai Sang Agung, aku terima kunci ini.
Tanpa ragu, aku buka pintumu di sini."


"Pahamilah bahwa aku berbicara kepada-mu dan kepada dirimu.
Pahamilah bahwa kau adalah dirimu yang lainnya senantiasa ada, menunggu.

Apakah kau mengenalinya?
Apakah kau tahu apa yang ditunggunya?"



"Wahai Sang Agung, aku ada maka diriku pun ada.
Aku mengenali tetapi melupakan.
Kini aku bersujud memohon belas kasihmu agar mendapat ampunan."


"Sayangilah kau, dan kau sayangilah dirimu.
Jadilah kau sahabat yang setia untuk dirimu. Dan dirimu sahabat yang setia untukmu.
Hanya pada Sang Ibu yang hijau tempat kau dan dirimu berjalan.
Hanya pada Sang ibu kau dan dirimu bernafas."

"Berjalanlah kau bersama dirimu, dimuka bumi Sang Ibu.
Berjalanlah di antara manusia dan berbicaralah hanya dalam bahasa kalbu kearifanmu.
Cahayaku adalah cahayamu, dan semua yang membayangimu.
Aku, kau, dan dirimu."







Maka terbuka di hadapan, pintu yang tak pernah terbuka.
Masuk perlahan cahaya menyeruak. Aku adalah cahaya.
Aku adalah misteri bagi alam dan alam adalah misteri bagiku.
Aku adalah yang terbit, alam adalah sambutanku.
Aku yang terbebas dari Maya dan Mara.
Karena Gelap dan Terang selalu berdamping di belakang.
Sedang aku telah bebas tak lagi terkekang.

Berjalanlah kau, Sang Pengelana, Sang Pencatat, Sang Pemegang tongkat Kearifan, di bumi, di antara manusia.
Yang di atas dan yang di bawah, Sang Agung adalah penguasa segala.
Yang Gelap dan yang Terang, Sang Agung adalah penguasa segala.

Kaulah sang putra Agung, cahaya terbit dari dalam.
Kaulah sang putra Cahaya, berjalan di antara manusia dan segenap alam.

Ajarkan mereka kearifanmu. Sibaklah tabir Sang Agung.
Sebagian dari mereka tak mendengarkan. Sebagian dari mereka mencemoohkan.
Mereka tak paham. Kepahaman yang dalam, menuntut pengorbanan.
Biarkan. Biarkan. 

Bila mereka berdoa, mereka berdoa kepadaku dan kepadamu. Namun mereka tidak memahami.
Kau-lah kepada siapa mereka merintih, berdoa, dan memohon belas kasih.
Kau-lah kepada siapa mereka bertanya, berkeluh, mencaci, dan memaki.
Namun mereka tidak memahami.
Biarkan. Biarkan.







Kini kau memahami.
Bahwa aku, kau, dan dirimu adalah Satu. 
Keselarasan, Keterhubungan kami adalah kebersamaan seluruh alam.
Kau memahami benak kami.
Kau memahami maksud kami.
Kau memahami mengapa dan bagaimana kami.
Kini kau telah memahami.

Telah kau tempuh tujuh seluruh sadar dan awas.
Telah kau termpuh perjalanan ke bawah dan ke atas.
Kami berada di manapun kau menghadap.
Kami adalah yang kau temui di dalam terang dan gelap.

Kami yang kau temui di dalam setiap nafas.
Kami yang ada dan tiada. Yang teringat dan terlupa, Yang dulu, sekarang, dan nanti.
Kami selalu bersama tak terkurung ruang waktu, Aras, yang tak berbatas.
Kami adalah jasad yang selalu terlahir kembali, serta ruh yang mengawasi, jiwa yang menyadari.

Seluruh yang ada adalah kami. Dan kami adalah seluruh yang ada.
Kami adalah aku, kau dan dirimu, berniat, untuk saling berjumpa, maka wujudlah semesta.
Demikian. Demikian.







Kita bekumpul untuk menyepi, waktu kita, adalah Fajar.
Sang mentari yang dinanti, sejenak lagi keluar.
Bangkit kau dari tempatmu, cahayamu adalah mentari.
Gelap mengucap pamit dengan senyum tak bertepi.

Kaulah Sang Terang yang disambut oleh seluruh alam.
Kaulah Sang Pengasih dan Sang Penyayang.
Kecupan cinta Ibu di kening mengucapkan kasih terdalam.
Kau adalah Dia Sang Agung, Penguasa Gelap dan Terang.

Alam mendengarkan hatimu.
Alam merasakan ucapanmu.
Mereka memahamimu

Lantun merdu musikmu menghantarkan cinta.
Bisikan senandungmu adalah panjatan syukur tak terkira.
Cahayamu adalah Kasih kepada semua.

Senyum-mu adalah angin yang menghembuskan benih kehidupan.
Tangis haru-mu adalah hujan yang membasahi tandus tanah kekeringan.

Syukur kami panjatkan atas Kearifan yang kau bagikan.
Kami bersujud ke hadapanmu, wahai Sang Kekasih Agung.







Telah kami saksikan cobaan yang kau lalu.
Telah kami dengarkan kesaksianmu.
Telah kami saksikan kebangkitanmu.
Telah kami diperlihatkan penyatuan hatimu dengan Sang Penghuni Kalbu. 

Hanyut kau telah bersama aliran sungai illahi.
Menghantarkan sesiapa kepada muara kebenaran dan keberlimpahan hakiki.
Tiba kembali ke asalmu, ke laut hamparan Maha Bergelimang limpah
Bukan hadiah, bukan akhir, melainkan awal dari segala. Bagai pohon yang berbuah.

Sesaat lagi, terbitlah wahai Putra Cahaya.
Sesaat lagi, terbitlah wahai Sang Agung.
Hadirlah Pembawa kunci kehidupan, Pembawa kebebasan, Pembawa Kearifan.

Karuniakan mereka Kearifanmu.
Tuliskan mereka Cinta-Kasihmu.
Hadirkan Tuhan, Sang Agung bersama kemunculanmu.

Kami bersimpuh menantikanmu,
kami tertunduk menanti di waktu tersuci-mu,
tempat awal semuanya mulai tergelar,
yaitu di waktu Fajar.





Hari ini:
Senin 12 Juni 2017,
17 Ramadhan 1438,
25.57 day, 2nd month of II Akhet, 4906, Sothic year: 4
18 Sivan 5777,
17 Pon 1950,
22 Jyaistha 1939,
13.0.4.9.14; tzolkin = 13 Ix; haab = 12 Zotz




~ Erianto Rachman ~


Diteruskan ke artikel selanjutnya:
The Seeker & The Knower

Tidak ada komentar: