Selasa, 06 Juni 2017

Conversations of The Mystics: Book 1

Perbincangan Para Mistik




Pembaca yang saya hormati,

Menyampaikan pesan-pesan spiritual apalagi mistik bukanlah hal yang mudah. Bila pun dituliskan, tidak mudah untuk dipahami. Untuk mengatasi hambatan ini, saya mencoba pendekatan yang lain, yaitu yang berbentuk dialog atau percakapan antara dua tokoh dalam bahasa sehari-hari yang santai, namun sedikit bernuansa sarkastik, dan satire.

Maka, di dalam timeline/wall Facebook saya, saya sempat menayangkan (posting) percakapan-percakapan jenaka antara dua tokoh, yaitu Om dan Dul. Dua karakter ini saya ciptakan untuk mewakili seorang guru yang dipanggil "Om" oleh muridnya dan seorang murid yang dipanggil "Dul" oleh sang guru.

Sang guru adalah seorang pria yang sudah berusia 40-50 tahun. Kita tidak perlu tahu nama aslinya. Dia adalah seorang tokoh spiritual yang menyendiri di sebuah kampung kecil di lereng gunung yang tinggi. Walaupun dia dianggap sebagai guru, namun dia tidak memiliki pondok, maupun jadwal khusus bagi mereka yang ingin belajar padanya. Orang-orang kampung di sekitarnya maupun dari kampung di bawah bisa datang kepadanya kapan saja untuk belajar. Ada yang hanya ingin tahu - datang sekali lalu tidak pernah terlihat lagi, ada yang sesekali, ada yang hanya jika ada hajat khusus, ada pula yang datang terus setiap hari selama bertahun-tahun, walau tidak melulu khusus untuk belajar - hanya sekedar menemani.

Dul adalah karakter untuk tipe yang terakhir. Saya tidak menentukan usia karakter Dul ini, karena kadang ia tampak seperti seorang anak kecil, kadang remaja, kadang sudah dewasa. Biarlah begitu adanya. Sehari-hari tampak Dul lebih sering berada di dekat si Om, gurunya, ketimbang pulang ke rumah. Kebersamaan mereka membuahkan interaksi percakapan, diskusi yang menarik yang saya angkat dalam post saya. 

Namun oleh karena percakapan mereka dalam bahasa sehari-hari, mungkin hanya bisa dipahami oleh pembaca dari Indonesia saja, sedangkan pembaca saya yang berasal dari Malaysia akan sedikit merasa asing.

Selamat membaca.





Kotor itu Menyenangkan

"Dul! Ngapain kamu main becek-becekan di situ? Kotor tau...!"


"Asyik om! Seru nih!"

Emang ya... yang namannya main kotor-kotoran, dekil-dekilan, becek-becekan, berantem-beranteman, teriak-teriakan itu seru. Yah.. namanya juga anak-anak.

"Ya udah deh, Dul. Terserah kamu aja, nanti kalau udah puas, mandi yang bersih, trus naik ke atas sini ya!"

"Oke om!"

Emaknya datang,
"Suruh dia berhenti doong... kasihan tuh nanti sakit... hujan pula..!"

"Biar aja deh... kalau belum kotor, tidak akan tahu bersih. Kalau belum sakit, tidak akan menghargai sehat. Biar aja dia belajar di situ."


--------------------
Pesan:

Pemahaman mengenai kehidupan dan mengenai Ketuhanan hanya dicapai dengan pengalaman. Pengalaman bisa menyenangkan, bisa pula menyakitkan. Tetapi tanpa mengalami sendiri, pemahaman itu tidak akan tercapai.

Bagi seorang guru, memberikan pengalaman kepada murid-muridnya adalah pelajaran yang terbaik.

Berceritalah atau ajarkanlah hanya sesuatu yang memang sudah pernah dialami sendiri. Membagikan kisah orang lain yang tidak pernah dialami sendiri adalah sia-sia belaka - tidak membangkitkan pemahaman. Sehingga guru yang baik adalah yang sudah mengalami semua yang diajarkannya atau diucapkannya.

Sehebat apa pun seorang berdakwah, berceramah, berkhotbah, karena ia sangat hafal semua kalimat di dalam kitab sucinya, dan karena ia hafal semua ajaran-ajaran para Nabinya, tetapi bila yang dia ceramahkannya itu belum pernah ia alami sendiri, maka semuanya sia-sia belaka.



Kesepian

"Sungguh damai di atas sini ya Dul?"

"Iya Om, tapi sepi banget.... Aku boleh main-main di bawah?"

"Boleh saja, tidak ada yang melarang. Tapi tanggung jawab atas semua yang kamu perbuat di sana ya."

"Aku paham, Om."

(10 hari kemudian....)

"Sudah puas main-mainnya, Dul?"

"Aku di bawah hanya 1 hari kok. Sedangkan 9 hari sisanya bersih-bersih diri untuk bisa naik kembali ke sini."

"Oh gitu... Memang damai ya di sini...."


--------------------
Pesan:

Pengelana spiritual pasti akan mengalami kesepian. Karena perjalanannya akan menjauhkan dia dari hiruk-pikuk urusan duniawi, seperti mencari harta, bekerja, berpolitik, bersandiwara, dan lain sebagainya.

Pembersihan diri akan menjauhkan dari semua kegiatan duniawi seperti itu, sehingga ia akan menjadi jauh dan tak terlihat dari orang-orang yang dulunya sangat dekat dengan lingkungannya. Namun sesunggunya ia mengalamai transformasi yang sangat agung dan suci.

Perjalanan kepada Tuhan adalah perjalanan personal, pribadi, individual. Kau bertemu Tuhan dalam kesendirianmu, kondisi kosong, tanpa harta-benda, tanpa pakaian mewah. Tuhan ditemukan dalam dirimu yang sendirian, bersih, sederhana, jujur, dan suci tanpa kemelekatan.

Bersama-Nya hanya ada rasa Cinta dan Damai.

Akan tetapi, bolehkah seorang pengelana spiritual terjun kembali ke kegiatan duniawi? Boleh saja, tidak ada yang salah. Ingatlah bahwa duniawi adalah tempat yang kotor. Kau harus menyadari itu. Sehingga nanti naiklah kembali dalam kondisi bersih, seperti yang sudah pernah kau capai sebelumnya.




Lapar

"Dul, nikmat mana, sepiring nasi uduk atau sepiring steak?"

"Kalau lagi lapar, sama-sama nikmat, om!"

"Pinter! 
Kalau gitu kita makannya ntar aja ya... nunggu kamu lapar.
Sangat indah di sini ya, Dul.... semuanya nikmat."


--------------------
Pesan:

Segala sesuatu yang sesuai untukmu adalah yang datang pada saat dan tempat yang sesuai untukmu. Bukan yang dipaksakan oleh emosi atau ego.

Berusahalah sekuat tenaga, namun pasrahkan hasilnya, baik jumlah maupun waktu pencapaiannya. Karena jumlah dan waktu tidak relevan. Ia akan datang padamu di saat yang sesuai dan dengan jumlah yang sesuai untukmu.

Dan kesesuaian itu membawa kenikmatan yang sesungguhnya.





Ronda Siang

"Om! Mau kemana bawa kentongan?"

"Mau ronda, Dul!"

"Lah... tapi kan sekarang siang om?!"

"Kalau malam kamu aja yang ronda, Dul.
Maling yang berbahaya tuh yang kerjanya siang. Bajunya pada bersih rapih. Dan bukannya diem-diem malah banyak suaranya. Susah dibedain sama orang yang bukan maling."


--------------------
Pesan:

Penipuan terjadi secara terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi. Bahkan yang terparah adalah mereka yang melakukannya tidak menyadarinya. Sangat banyak kita jumpai guru spiritual yang hanya berkhotbah sesuatu yang tidak ia pahami atau alami sendiri. Berkedok-kan jubah panjang, hiasan penutup kepala bagai mahkota, dan berkemaskan agama serta kitab, namun isi ucapannya penuh kebencian, hasutan dan penghakiman. Atau mengajarkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya.





Uang Logam

"Dul, ini saya kasih kamu uang receh, tolong belikan saya telur ayam di warung yang di ujung sana ya. Harus yang di ujung sana ya.
Dan satu lagi syaratnya, uang koin itu harus tetap menghadap ke atas."

"Kok repot amat, Om? Uang kan ada dua sisi. Sisi mana pun bisa saja dipakai. Lagian, kenapa harus di warung yang di ujung? Warung sebelah juga bisa."

"Nah... kenapa ya Dul? Kamu kok bisa paham itu tapi orang-orang lain yang di bawah sana tidak?"


--------------------
Pesan:

Sangatlah banyak manusia di bumi ini yang terbelenggu oleh aturan-aturan atau dogma yang kaku, memenjara, mengurung kebebasan mereka sendiri sebagai manusia. Kebanyakan mereka memandang Tuhan hanya sebagai pemberi kebaikan. Sedangkan keburuan bukan dari Tuhan. Padahal mereka berikrar percaya bahwa Tuhan itu Maha Satu. 

Tuhan itu bagai sekeping uang logam. Kita tidak akan memahami Tuhan sepenuhnya bila hanya melihat sebelah sisi saja.

Mereka tidak memahami apa yang yang mereka yakini. Bagaimana bisa yakin akan sesuatu yang tidak dipahami? Bukankah ini yang dinamakan doktrin? 
Ya, dan sebagian besar manusia di dunia menganut agama yang merupakan doktrin semata.

Bila yakin Tuhan itu hanya satu, mengapa ada banyak agama di bumi ini? Dan mengapa mereka membenci agama lainnya?




Es Campur

Di suatu hari yang panas, si Om dan si Dul sedang santai menikmati semangkuk es campur yang segar nikmat.

Seperti rutinnya, si Dul mulai nanya deh.

"Om, ada berapa banyak orang baik dan orang tidak baik di bumi ini?"

"Jumlahnya sama, Dul!"

"Loh kok sama, Om? Bumi kita ga bakalan pernah damai dong?"

"Emangnya pernah, Dul?

Yah gitulah keseimbangan pasti terjadi. Dua sisi pasti ada dan seimbang. Dan karena itu pula manusia bisa belajar. Dan hidup pun jadi penuh macam-ragam warna-warni, di kota-kota besar yang megah.

Tapi kalau kamu tanya, ada berapa orang yang ada di bawah sana dan berapa yang di atas sini, itu beda."

"Oh gitu... ada berapa orang di atas sini, Om?"

(Celingukan kanan-kiri.)

"Sepi banget, Dul."

(Senyap.....)

"Kamu kenapa, Dul? Kok es-nya tidak dimakan lagi?"

"Tiba-tiba rasanya jadi hambar, Om."


--------------------
Pesan:

Semakin kau memahami akan kebenaran yang hakiki, kau seolah menaiki anak tangga pada sebuah gedung berbentuk piramid. Semakin ke atas, semakin sedikit orang yang ikut bersamamu. Begitulah yang terjadi.

Di dalam pemahanan itu, di dalam kesadaran itu, kenikmatan pun semakin khusus dan spesifik. Semisal; bila yang tadinya kau terkesima dengan warna-warni pilihan baju, maka di sini kau hanya melihat esensinya saja, yaitu baju. 

Cara berpikirmu menjadi sangat sederhana. Syarat hidupmu juga menjadi sangat sederhana dan mudah. Segalanya menjadi mudah. Tenang. Damai.





Undangan

"Om, dapat undangan nih untuk kasih wejangan di kampung bawah."

"Oh? Mintalah mereka naik ke sini."

"Mereka minta Om yang datang ke sana, kata mereka, sulit mau naik ke sini."

"Kamu kok bisa ke sini, Dul?
Mereka lebih membutuhkan wejangan dari kamu, Dul. Kamu saja yang kasih wejangan ke mereka ya."

"Wah si Om bisa aja..."


--------------------
Pesan:

Bagi yang sudah berada di atas, yaitu memiliki kesadaran yang baik, janganlah pernah turun lagi. Bila ada masalah, lihatlah masalah itu dari atas dan selesaikan dari atas sana. Jangan biarkan dirimu tergoda untuk menolong orang lain dengan cara turun bersama di tingkat mereka. Mereka yang ingin pertolongan harus berusaha melihat ke arahmu, bukan sebaliknya.




Koran Kosong

"Om, kok dari tadi pegang kertas kosong dan memandanginya seperti sedang membaca koran saja?
Ini saya bawakan koran beneran dari bawah. Mau baca?"

"Ah, enggak, Dul. Kamu baca saja koran itu.
Yang ini lebih tenang dan mendamaikan."


--------------------
Pesan:

Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, datang hanya bila kau sudah melepas semua kemelekatanmu.





Pemancing

"Om, tolong jelaskan, bagaimana cara om memilih murid?"

"Hmmm..... kamu bayangkan saja begini; seperti memancing ikan di kolam. Guru adalah si pemancing, ikan-ikan adalah orang-orang di bawah sana.

Betapa pun banyak ilmu spiritual yang dimilikinya, dia hanya bisa menunggu ikan-ikan itu meraih umpan di ujung kail.

Ikan yang rasa ingin tahunya cukup besar akan merasakan umpan itu dan meraihnya serta mengigitnya kuat.

Barulah kemudian sang guru mengangkat ikan itu, sebagai murid yang layak mendapatkan ilmunya.

Paham kamu, Dul?"

"Paham, om! Pemancing adalah si Om ini, dan ikan adalah mereka.
Lalu kail itu siapa, om?"

"Kamu!"


--------------------
Pesan:

Pengetahuan dan kepahaman illahi tidak bisa dipaksakan. Seseorang harus mengalami "kebangkitan" -nya sendiri dari dalam hatinya untuk kemudian memulai pencariannya. Yaitu pencarian akan kebenaran yang hakiki. Ia mulai bertanya, membaca, belajar. Dan bila murid sudah siap, guru akan muncul untuknya.





Sepucuk Surat Penting

"Dul, tolong kamu tuliskan kalimat ini di selembar kertas:

'Dengan menyebut namaku sendiri, sang pengasih dan sang penyayang.'

Nulisnya yang besar dan jelas ya, Dul.
Setelah itu masukkan ke dalam amplop."

"Hmm... ok Om, sudah. Untuk siapa surat ini?"

"Nah... Sekarang kamu pergi ke kampung di bawah yang sedang rusuh dan rakyatnya pada tidak akur itu, dan berikan surat ini kepada kepala kampungnya."

"Baik Om, tapi kok cuma satu baris kalimat begini saja? Apa cukup?"

"Eh Dul, kalau kebanyakan tidak akan mampu mereka pahami.
Lagi pula, ini namanya umpan, dan kamu kailnya."


--------------------
Pesan:

Hampir semua manusia di bumi ini tidak memahami kebenaran hakiki, bahwa semua yang eksis di alam ini, adalah eksis di dalam Tuhan. Dengan demkian, manusia memiliki atau membawa semua sifat-sifat Tuhan.

Kemudian, manusia juga sudah terlalu lama mempersonifikasikan Tuhan kedalam wujud yang terbatas, sehingga semua pemahaman mereka akan Tuhan juga menjadi terbatas. 

Bila kau ingin agar Tuhan mendamaikan suatu lingkungan, maka kau sendiri yang harus bertindak melakukan pendamaian itu. Karena saat kau berdoa; Ya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka sesungguhnya kau memanggil dirimu sendiri untuk meneruskan serta mengalirkan sifat Pengasih dan Penyayang Tuhan itu ke dalam dirimu dan ke sesama umat manusia lainnya.





Hujan

"Om! Hujan lagi tuh di luar! Kita tampung air hujannya?"

"Nampung dengan apa, Dul? Wadah apa pun tidak akan cukup!"

(Si Om berlari lalu berdiri di luar rumah sambil bermandikan air hujan. Dul mengikuti kelakuan gurunya itu.)

"Beginilah caranya kamu menampung air hujan yang berkelimpahan ini."


--------------------
Pesan:

Tuhan adalah abundance (berkelimpahan). Cinta tanpa batas, damai sempurna, kebahagiaan tak terkira. Rasakanlah di dalam hatimu. Bagikan kepada orang lain.





Sedih

"Kenapa kamu menangis, Dul?"

"Sedih, Om... banyak air hujan yang tak tertampung tadi."

"Dul, kamu masih ingat rasanya saat air hujan itu jatuh dengan derasnya ke tubuhmu tadi?"

"Ingat, Om. Rasanya sejuk, segar, juga membuat badan menggigil, kewalahan rasanya menerima curahan air yang datang begitu banyaknya."

"Nah, Rasa itulah yang sudah berhasil kau dapatkan. Jika kau ingin merasakannya lagi, kau cukup membangkitkan kembali rasa itu.
Begitulah ilmu kau terima. Dengan rasa. Hatimu yang menampung rasa itu. Hatimu seluas alam ini. Tidak ada satu tetes air pun yang tak dapat kau tampung."


--------------------
Pesan:

Rasa adalah bahasa Tuhan. Ia datang dengan keberlimpahan-Nya.
Setiap rasa dari-Nya adalah ilmu berharga buatmu. Datangnya dalam jumlah yang tak berhingga.
Bagi yang memahami.





Ember

"Mengapa kamu tuang berember-ember air ke dalam saluran air itu, Dul?"

"Karena saya ingin mengalirkan satu ember air untuk orang di bawah sana, Om. Mereka membutuhkannya."

"Oh gitu, tetapi mengapa harus banyak ember kalau yang dibutuhkan hanya satu?"

"Karena satu ember air yang saya tuang, hanya mampu tertampung dalam satu gelas kecil di bawah sana. Sebagian besar terserap tanah dalam alirannya."

"Dul, hentikan perbuatanmu itu! Berikan saja ember itu kepada mereka dan minta mereka mengambil airnya sendiri ke atas sini!"


--------------------
Pesan:

Memberikan Kepahaman illahi kepada orang yang belum 'terbangkitkan' kesadaran dari dalam dirinya, adalah tindakan yang sia-sia. 






Ceramah Gagal

"Om, bagaimana ceramahnya?"

"Sebagian orang segera pulang setelah 30 menit, sebagian pulang setelah 1 jam, dan sebagian terakhir tuh masih di dalam ruangan."

"Hah?? Kok gitu, Om?"

"Yang pertama pulang menganggap saya gila.
Yang kemudian khawatir ikutan jadi gila.
Yang masih di dalam itu pada tertidur. Jadi saya keluar saja."


--------------------
Pesan:

Kebanyakan orang menolak pengetahuan akan kebenaran yang hakiki. Hal ini disebabkan karena mereka sudah terlalu lama terpenjara doktrin dan dogma sepanjang hidup mereka. Mereka hanya mau mendengarkan apa yang sesuai dengan doktrin mereka, dan menolak pengetahuan dalam bentuk apa pun. Bahkan sebagian rela berkorban, membenci, menghukum dan membunuh sesama manusia untuk mempertahankan kepercayaan mereka.





Ceramah Sukses

"Waaah tumben semua orang betah sampai selesai di ceramah om kali ini, dan pada pulang dengan wajah hepi.
Kok bisa, om?"

"Karena isi ceramah saya ngawur semua, Dul."

"Hah??? Jangan nakut-nakutin saya dong om!"

"Bersyukurlah kamu, Dul, sudah bisa merasa takut kalau saya ngomong ngawur."


--------------------
Pesan:

Melanjutkan bagian sebelumnya di atas; kebanyakan orang memang lebih memilih untuk menerima kebohongan yang menyenangkan hati mereka. Karena hati mereka sudah tertutup dan terkunci oleh kepercayaan mereka sendiri.





Tuhan yang Utuh

"Om, tolong jelaskan pada saya mengenai Oneness atau Ke-Satu-an."

"Sebelum saya mulai menjelaskannya padamu, Dul, apakah kamu menghendaki jawaban dari saya yang akan membuatmu pulang setelah 30 menit, atau tertidur di sini? Ataukah kamu ingin saya berikan jawaban yang akan membuatmu pulang dalam keadaan bahagia?"

"Saya inginkan jawaban yang sejati."

"Baiklah, kita buktikan seberapa siapnya kamu.

Begini..."

(setahun kemudian si Dul masih berada di depan gurunya dengan kesungguhan hati yang tak goyah.)

"Dul, sekarang kamu bisa pulang. Renungkan apa yang barusan kamu terima, dan amalkan.

Bersyukurlah telah menerima dirimu sendiri apa adanya."


--------------------
Pesan:

Bila hatimu sudah terbangkitkan, terbebas dari belenggu doktrin dan dogma, maka kau akan siap menerima pengetahuan dan mencapai kepahaman illahi. 
Diperlukan kesabaran.






Tuhan yang Separuh

"Tuhan itu meliput semuanya secara utuh, baik dan buruk, benar Om?"

"Benar, Dul."

"Jadi jika kita menerima Tuhan secara utuh, lalu jika kita mengalami peristiwa baik maupun buruk, kita tetap bersykur, karena semua itu dari Tuhan juga, betul Om?"

"Betuuuuuul."

"Lalu mengapa mereka yang katanya mengenal Tuhannya, tampak bersedih, kecewa, bahkan marah dikala tertimpa keburukan?"

"Karena Tuhan mereka hanya separuh, Dul."


--------------------
Pesan:

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya di atas, Tuhan itu bagai dua sisi mata uang. Kedua sisi milik Tuhan juga, sehingga kondisi baik maupun buruk yang menimpa kita, haruslah kita sadari bahwa semua itu berasal dari Tuhan yang sama. Dan sikap yang semestinya kita tampilkan adalah bersyukur.





Numpang Lewat

"Om, ntar ada orang yang mampir ke sini untuk ketemu om, katanya mau tanya-tanya. Sekalian jalan mau ke kampung seberang."

"Oh gitu. Nanti, kalau tuh orang bener lewat sini, langsung pandu aja dia ke jalan ke kampung seberang."

"Oh gitu om. Jadi ga usah ketemu om?"

"Kalo cuma nunjukin jalan ke kampung seberang sih kamu juga bisa, Dul."


--------------------
Pesan:

Ilmu Kepahaman illahi tidak bisa didapat tanpa niat, tanpa kesungguhan, atau hanya sambil lalu. Ilmu tersebut ada harga yang harus dibayarkan. Harga itu adalah komitmenmu yang dilakukan secara fokus, sungguh-sungguh, dan sepenuh jiwa.




Erianto Rachman

Tidak ada komentar: