Selasa, 18 April 2017

Magic Egypt

Part 5: Channeling the Archetypal Energies




"Hark ye, O man, to the wisdom of magic. Hark the knowledge of powers forgotten.
Long ago in the days of the first man, warfare began between darkness and light.

Men then as now, were filled with both darkness and light;
and while in some darkness held sway, in other light filled the soul."

("Dengarkanlah kau, wahai manusia, pada kearifan magis. Dengarkanlah pengetahuan akan kekuatan yang terlupakan.
Di masal lalu sejak manusia pertama, perang dimulai di antara kegelapan dan cahaya.

Manusia kini terisi oleh keduanya - kegelapan dan cahaya;
sementara pada sebagian kegelapan dibiarkan menguasai, pada sebagian lain cahaya mengisi jiwa mereka.")

(The Emerald Tablet of Thoth, Tablet VI, The Key of Magic)




Edisi 1.5

Dianjurkan untuk membaca Part 4 terlebih dulu.

 
24 March 2017, Dendera

Jam menunjukkan pukul 1 siang, kami harus segera bergerak ke lokasi selanjutnya, Dendera, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Abydos, melalui jalan sepi dan padang pasir luas. Dendera (nama aslinya: Lunet) adalah sebuah daerah terpencil yang terkenal dengan keberadaan kuil Hathor.

Hathor

Hathor adalah dewi cinta dan kesuburan (Yunani: Aphrodite, Roman: Venus) dan merupakan salah satu dewa/dewi purba/tua (primeval goddess) - yaitu termasuk energi pola dasar awal - di Mesir Kuno.

Sedikit mengenai Hathor;

Atum Ra, dewa dari segala dewa (Tuhan) merasa murka akan perilaku manusia di bumi, kemudian menugaskan Hathor untuk menghukum manusia. Ra ingin mengembalikan bumi ke kondisi awal dan mengulang penciptaan manusia. Hathor adalah dewi cinta, ia tidak bisa melaksanakan tugas dari Ra dalam wujud pola dasarnya untuk cinta. Maka ia harus menjelma sebagai Sekhmet terlebih dulu. Sekhmet adalah energi pola dasar untuk kualitas petarung (warrior goddess) juga penyembuh (goddess of healing). Sekhmet turun ke bumi dalam wujud singa betina dan mulai menyerang umat manusia di bumi. Peristiwa pembinasaan umat manusia ini diasosiasikan ke dalam peristiwa banjir besar (banjir nabi Nuh). 

Thoth atau Djehuty / Tehuti (adalah dewa atau energi pola dasar untuk kearifan dan pengetahuan) melihat perilaku Sekhmet yang hampr menghabisi seluruh manusia di bumi, meminta kepada Ra untuk tidak membunuh semua manusia tetapi menyisakan sedikit, karena bila dibinasakan seluruhnya tidak akan ada yang dapat menyampaikan pesan-pesan kearifan dan mengingat mengapa Tuhan membinasakan mereka - manusia tidak akan belajar untuk memperbaiki perlaku mereka dan menjadi lebih baik. Ra menyetujui permintaan Thoth. Namun Sekhmet sudah terlanjur bertindak. Harus ada yang menghentikan Sekhmet.

Thoth pun dengan segala upaya berhasil menenangkan Sekhmet. Sekhmet kembali ke wujud Hathor. Peristiwa ini terjadi di sebuah tempat yang bernama Lunet, sekarang Dendera. Oleh karena itulah maka Dendera didirikan kuil besar khusus untuk pemujaan kepada Hathor - sebagai tempat dimana Hathor mewujud di muka bumi dan naik ke tempatnya yang tinggi.


Hathor adalah dewi kesuburan yang disimbolkan dalam wujud duniawinya yaitu seekor sapi betina. Penyembahan terhadap Hathor terjadi pada masa yang sangat silam, yang turut serta membentuk peradaban bangsa Mesir Kuno. Hathor adalah tokoh yang sangat penting dalam pembentukan peradaban Mesir. Anda mungkin familiar dengan kisah di dalam alkitab / injil maupun Al-Quran mengenai masyarakat Mesir yang dibebaskan oleh Nabi Musa dari Firaun di Mesir, kemudian mereka eksodus ke tanah baru yang dijanjikan - Israel. Umat Nabi Musa itu masih menyembah dewa yang berwujud patung sapi betina. Kemudian Nabi Musa menghentikan penyembahan tersebut dan membawa agama baru kepada mereka. Sapi betina itulah simbol dari Hathor.


Kiri: Hathor dalam wujud sapi betina, kanan: wajah Hathor


Bila anda memahami secara mendalam mengenai konsep Archetypes, maka sesungguhnya bukanlah sapi atau patung sapi yang mereka sembah, melainkan kualitas Tuhan untuk cinta dan kesuburan. Saat ini sebagian orang yang tidak memahami makna simbol-simbol dari ajaran Mesir Kuno akan menghakimi masyarakat Mesir Kuno sebagai penyembah patung / berhala dan agama mereka disebut sebagai paganisme. Akan tetapi dimungkinkan pula oleh karena sebagian masyarakat Mesir yang pemahamannya sudah menurun atau terpolusi, mereka menyembah patung dan hewan secara harfiah - mereka melupakan makna sesungguhnya dari simbol-simbol yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.

Bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah; mengapa sifat atau kualitas Tuhan harus dipisahkan dari Tuhan itu sendiri dan diwujudkan ke dalam simbol-simbol dewa-dewi? 

Untuk menjawab pertanyaan itu, satu petunjuk dan bahan kajian saya terdapat dalam agama Islam. Di agama Islam terdapat 99 nama-nama Allah. Setiap nama tersebut bila diartikan secara harfiah merupakan sifat / kualitas dari Tuhan / Allah, seperti Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dll hingga 99 buah nama. Dan umat Islam diperbolehkan memanggil / menyebut Allah dalam nama-nama lain-Nya di antara yang 99 itu dalam doa-doa.

Jika 99 nama-nama Allah / Tuhan itu masing-masing dimanifestasikan atau disimbolkan ke dalam wujud tertentu, maka akan jadilah dewa-dewi seperti yang kita temui di banyak ajaran-ajaran / agama-agama kuno. Namun masalahnya, manusia yang semakin tergelincir ke tingkat kesadaran yang rendah akan menyembah simbol Tuhan secara harfiah, ketimbang esensi Tuhan itu sendiri.

Jika anda bisa memahami hal ini, maka anda bisa menjawab pertanyaan saya sebelumnya.
Dan artinya anda sudah paham akan Archetype.

Semakin saya mempelajari sejarah dan mitologi Mesir, saya mulai memahami mengapa Luxor (Thebes) adalah tempat yang sangat istimewa di Mesir. Luxor adalah kota yang sangat tua dan menyimpan banyak catatan sejarah mengenai peradaban Mesir Kuno.

Kami tiba di kuil Hathor di Dendera. Kuil ini memang terletak di pelosok negeri, di tengah padang pasir yang hanya sedikit dihuni penduduk. Kami berjalan melalui koridornya yang luas dan panjang. Terasa suasana kemegahan yang terbangun selama ribuan tahun. DR. Carmen memandu kami dengan menjelaskan hal-hal penting yang harus diperhatikan. 

Bangsa Mesir Kuno sangat mementingkan keseimbangan antara kualitas Feminine dan Masculine. Semua simbol-simbol pada kuil menampakkan pentingnya hal tersebut. Pada gapura kuil selalu terukir simbol lempeng bulat - matahari yang diapit sepasang sayap (simbol untuk feminine) dan sepasang ular (simbol untuk masculine), sehingga para pendeta atau rakyat lainnya yang datang ke kuil harus benar-benar menanggalkan ego mereka di pintu kuil sebelum masuk dan melakukan kegiatan ritual spiritual mereka.

Keseimbangan antara feminine dan masculine adalah peleburan dua kutub kualitas manusia. Hasilnya adalah penghancuran (penguasaan / penekanan) ego. Kemudian menaikkan kesadaran spiritual untuk Cinta-Kasih Tuhan yang singular, tanpa dualitas.


Matahari, sayap dan ular - terukir di pintu/gerbang kuil.


Kami tiba di halaman kuil sebelah dalam dimana di sebelah kanan kami terdapat sisa bangunan kuno yang dulunya adalah sebuah rumah sakit (hospital). Rumah sakit ini melayani rakyat Mesir dengan pengobatan menggunakan energi alamiah atau energi pasif (passive energy).

Kami memasuki bangunan utama kuil, tampaklah pilar-pilar besar tinggi menjulang. Di setiap ujung pilar terukir wajah dewi Hathor. Namun semua ukiran-ukiran wajah tersebut rusak karena sempat dirusak oleh tentara Kristen Romawi dalam masa penjajahan mereka di negeri Mesir ini. Lebih buruk dari itu, kuil ini hanya dijadikan kandang kuda oleh Romawi dan mereka melakukan pembakaran jerami di sini, sehingga tampak langit-langit yang terlapisi noda jelaga tebal yang hitam. Noda jelaga ini menutupi ukiran dan lukisan yang menghiasai seluruh langit-langit kuil. 

Para Archeologists dan Egyptologists berdaya-upaya merestorasi kuil ini dengan membersihkan noda jelaga hitam di langit-langit, namun belum semuanya selesai. Dan mereka sengaja menyisakan noda jelaga di beberapa tempat guna mengingatkan kita betapa kuil suci ini pernah dirusak sedemikian rupa.


Pilar-pilar dengan wajah Hathor yang dirusak dan langit-langit yang ternodai jelaga hitam.


Oleh karena Hathor termasuk dewa awal / purba, maka di sini kita banyak melihat - melalui ukiran dan lukisan pada langit-langit kuil - mengenai proses penciptaan alam. Saya sangat antusias menyaksikan hampir semua Archetypes terlukis di kuil ini. Kuil ini adalah salah satu tempat penting dimana dapat kita jumpai semua dewa-dewi yang melandasi mitologi Mesir. Kuil ini bagaikan sebuah perpustakaan besar yang informasinya ditulis langsung oleh bangsa Mesir Kuno!

DR. Carmen Boulter menjelaskan bahwa pengetahuan bangsa Mesir Kuno meliputi dua besaran utama, yaitu Biology dan Cosmology. Biologi adalah bagaimana manusia terlahir di dunia, dan Kosmologi adalah bagaimana manusia setelah mati. Dan benar, kuil ini memang sangat jelas menceritakan bagaimana terciptanya alam - karena alam diperlukan dalam penciptaan / kelahiran manusia di dunia, - dan bagaimana kejadian setelah kehidupan / kematian.

Sangat ingin saya menuliskan seluruh kisah mitologi Mesir Kuno yang tergambarkan di kuil Hathor yang sangat istimewa ini, namun pasti akan menjadi tulisan yang sangat panjang. Saya akan singgung sedikit saja, dan saya berharap ini menjadi taburan benih rasa ingin tahu anda akan betapa luas dan dalamnya pengetahuan manusia zaman dulu, yang mungkin lebih baik dibandingkan kita. Sehingga kita dapat belajar banyak dari mereka dan menjadi kan kita manusia dengan kepahaman (knowing) yang lebih baik.

"Curiosity Leads to Wisdom"
("Rasa ingin tahu membawa kepada Kearifan")


Seperti yang pernah saya singgung, bangsa Mesir kuno sudah melakukan pengamatan terhadap langit sejak zaman yang sangat lampau, dimana mereka tidak hanya berhasil mengamati siklus kecil (hari, bulan, tahun), namun juga hingga ribuan tahun, bahkan siklus presessi 26,00 tahun (Precession of the Equinox).

Jika mereka mengamati langit dan melihat galaksi bima sakti (milky way) dalam siklus besar, akan tampak seperti gambar di bawah ini:


The Arch of Milky Way (Busur Bima Sakti)


Gambaran tersebut kemudian disimbolkan ke dalam kisah penciptaan, dengan simbol Archetype, Nut, Shu, dan Geb.


Nut (bima sakti) adalah dewi langit, ditopang oleh Shu (dewa udara).
Geb (dewa bumi) berbaring di bawah.


Tiga komponen utama; Nut, Shu dan Geb mengawali dualitas alam dan terciptanya ruang (space) yang memungkinkan munculnya kehidupan. Dari prinsip di atas, berkembanglah kemudian prosesi penciptaan hingga prosesi kelahiran Osiris, Nephthys, Seth, Isis, Horus, dll seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Kisah penciptaan ini menghiasi seluruh langit-langit aula muka kuil Hathor yang luasnya mencapai 8-10 kali lapangan futsal itu. Sangat kental pesan yang ingin disampaikan bahwa pengetahuan akan penciptaan haruslah dipahami terlebih dahulu sebelum masuk ke pengetahuan-pengetahuan lainnya.

Di sisi lebih dalam kuil terpapar banyak sekali ukiran mengenai hukum alam (Maat), prokreasi, penyembuhan, hingga kematian.

Kuil ini memiliki lantai di atas, kami menaiki tangga batunya yang sudah ter-erosi ribuan tahun langkah manusia. Di atas, kami menuju ruangan yang memuat ukiran/relief peta zodiak pada langit-langitnya. peta zodiak ini adalah replika, karena aslinya dibawa oleh bangsa Perancis saat mereka menjajah Mesir - yang sekarang dipajang di museum Louvre di Paris.

Peta zodiak ini menunjukkan bagaimana bangsa Mesir Kuno telah mengamati langit dengan sangat teliti dan dalam jangka waktu yang sangat lama. Sungguh sangat menakjubkan! Saya estimasi, diperlukan waktu paling tidak satu tahun hanya untuk memahami permukaannya saja dari pesan-pesan yang terukir di seluruh kuil ini.


Peta Zodiak.
Kiri: Peta Zodiak. Langit-langit ruangan ini cukup rendah sehingga saya harus menggunakan lensa wide dan berbaring di lantai untuk mengambil gambarnya.

Kanan: Salinan dari Peta Langit Zodiak 



Kiri: Facade Kuil Hathor, Tengah: Main Hall (aula utama), Kanan: Aula utama menghadap pintu masuk ke bagian dalam kuil



Kiri: Pilar pada aula utama, Tengah: pintu ke bagian dalam, Kanan: Main hal (aula utama)



Kiri & Tengah: Langit-langit aula utama, Kanan: Aula dalam
  

Setelah dari lantai atas (atap), kami menuju lantai bawah tanah (The Crypt). Untuk memasukinya kami harus menuruni tangga kayu seadanya, lalu merangkak menyusuri liang kecil sepanjangnya beberapa meter hingga tiba di sebuah ruangan sempit. Saya takjub melihat seluruh dinding dan langit-langit pada liang / terowongan dan seluruh crypt berukirkan simbol dan hieroglyph. Saya membayangkan betapa besar usaha yang dikerahkan untuk membangun seluruh kuil ini. Tidak ada dinding atau pun langit-langit yang kosong tanpa ukiran. Bukan saja hanya mengukirnya, namun tentunya semua ukiran, gambar, tulisan hieroglyph harus dirancang terlebih dahulu dengan seksama karena memuat pesan-pesan penting dan keramat / magis dari dan bagi seluruh umat manusia pada saat itu, dan saat ini.

Di dalam crypt saya menemukan apa yang menjadi misteri yang cukup terkenal, yaitu sebuah ukiran yang menggambarkan sesuatu yang tampak seperti bola lampu. Perlu diketahui bahwa tanpa penerangan, crypt ini gelap gulita. Para seniman pembuat ukiran zaman dahulu haruslah menggunakan penerangan untuk melakukan kerjanya. Jika anda mengusulkan obor, tidak ada sisa jelaga pada dinding maupun langit-langit di dalam crypt. Dan dalam kondisi tertutup, api pun tidak akan menyala dalam waktu lama karena oksigen akan cepat terbakar habis. Karena kondisi yang sulit inilah maka orang berteori mengenai bola lampu - bahwa bangsa Mesir kuno sudah menemukan teknologi listrik dan bola lampu.


Kiri: Lorong Crypt, Tengah: ukiran misterius menyerupai bola lampu, Kanan: Lorong crypt.
Ruangan crypt yang sempit ini mengharuskan saya menggunakan lensa wide agar dapat menangkap gambar dengan luasan yang cukup.





Renungan

Mungkin terasa kurang apa yang saya tuliskan di sini untuk mengangkat pesan utama saya mengenai Archetypal Energy (Energi Pola Dasar). Saya berharap anda menangkap ide / gambaran dasarnya. Kita berbicara mengenai energi alam semesta - Energi Kuasa Tuhan - yang eksis sejak awal penciptaannya. Energi ini bertingkat-tingkat karena proses penciptaan itu sendiri. Dimulai dari desain dasar (The Grand Design), sifat dasar utama (Pencipta, Pemelihara, Penghancur), hingga semua sifat-sifat atau kualitas-kualitas Tuhan yang menjadi bagian dari tiga kelompok sifat dasar utama tersebut. Setiap sifat / kualitas Tuhan itu adalah energi. Dan setiap energi itu hidup

Bangsa Mesir Kuno memahami dengan sangat baik akan semua ini dan meyampaikan pengetahuan suci mereka itu kepada kita. Setiap dewa atau dewi mewakili satu atau lebih sifat / kualitas Tuhan. Pertanyaan saya adalah; mengapa?
Mengapa sifat / kualitas Tuhan perlu disimbolkan / diwujudkan ke dalam dewa/dewi?

Saya harap pengalaman saya selanjutnya di kuil Karnak dapat menjawab membantu anda menjawabnya.



25 March 2017, Karnak (1)

Kami check-out dari hotel Jolly Ville untuk pindah ke kapal Sonesta Moon Goddess. Kapal ini akan membawa kami berlayar sepanjang sungai Nil menuju kota Aswan sambil singgah di kota Edfu. Kami melakukan check-in di kapal Moon Goddess yang sangat indah dan megah, memiliki 4 lantai, 40 kamar, restoran, ruang fitness, bar + launge, kios-kios souvenir, serta atap kapal terbuka dengan kolam renang, bar dan restoran - sebuah kapal pesiar bintang-5 di sungai Nil.

Kapal dijadwalkan mulai berlayar pada keesokan harinya. Setelah check-in, kami mengunjungi kuil Karnak.
Karnak adalah kompleks kuil-kuil yang dibangun secara berkelanjutan oleh raja-raja dari Middle Kingdom hingga New Kingdom, sehingga memang dapat dilihat dengan jelas lapisan perbedaan gaya arsitektur kuil ini. Semakin ke dalam, usia kuil semakin tua. Nama asli tempat dimana kuil ini dibangun adalah Ipet-isut ("The Most Selected of Places", yang artinya "Tempat paling terpilih"), dan memang di sinilah terpusatnya pelaksanaan semua ritual penting agama Amun di Luxor (Thebes).

Kompleks kuil Karnak merupakan kompleks kuil terbesar kedua setelah kuil Angkor Wat di Cambodia. Terdapat banyak kuil-kuil di kompleks ini untuk ritual penghormatan kepada dewa-dewi, juga terdapat sebuah kolam yang sangat besar yang disebut danau suci atau kolam suci (Sacred Lake / Sacred Pool).

DR Carmen menunjukan kepada kami suatu lokasi pada kuil - di sayap kiri - dimana banyak sekali pilar-pilar besar menjulang tinggi. Saat penggalian dilakukan oleh para Archeologists dan Egyptologists, salah satu pilar tersebut tumbang dan pecah yang mengungkap isi pilar yang penuh dengan puing dan pecahan tembikar. Pecahan puing-puing dan tembikar-tembikar ini kemudian disusun / direkonstruksi oleh para ahli yang menampakkan ukiran, hieroglyph, serta lukisan khas kebudayaan Amarna - zaman kekuasaan Raja Akhenaten dari dinasti ke-18 yang kontroversial itu. Sehingga disimpulkan bahwa Saat Pendeta Amun (Amun Priests) menyerang dan menghancurkan Amarna, mereka membawa puing-puing kota Amarna ke Karnak untuk dijadikan bahan bangunan pengisi pilar, dan mungkin juga untuk bagian-bagian bangunan lainnya. Dari sinilah kita mengetahui keberadaan Amarna.




Kiri: Kuil Karnak tampak depan, Tengah: Koridor kuil diapit barisan patung sphinx,
Kanan: Koridor dalam dipenuhi pilar-pilar



Kiri: Courtyard dalam
Tengah: Pilar di sayap kiri, tampak contoh rupa pecahan yang mengungkap rongga di dalam yang diisi puing-puing dari Amarna.
Kanan: Pintu dinding di sisi kiri.







Sekhmet Temple (Kuil Sekhmet)

Setelah itu DR Carmen membawa kami ke suatu lokasi di luar dinding utama kuil, menyeberangi hamparan pasir sekitar 200 meter, menuju suatu bangunan yang tampak tidak terlalu besar tapi sangat sepi dari pengunjung (sedangkan di bagian lain di kuil Karnak ini sangat ramai oleh turis). 

Tujuan kami adalah sebuah kuil yang memang tertutup bagi publik, yaitu kuil dewi Sekhmet. Kuil ini ditutup oleh pintu besi besar yang terkunci. Tak lama kemudian datanglah dua orang dengan pakaian khas Mesir - galabeya dan sorban di kepala. Salah seorang di antara mereka membawa kunci. Tampak pemandu lokal kami berbicara dengan DR Carmen, kemudian kepada si pembawa kunci (Saya tidak mengerti pembicaraan mereka karena mereka berbicara dalam bahasa Arab). Setelah pembicaraan selesai, pintu besi itu dibuka. Pemandu kami mempersilakan kami masuk ke dalam.

Ruangan yang kami masuki ini khusus dibuka untuk rombongan kami. Inilah bagian dalam kuil keramat Sekhmet yang sangat jarang dimasuki orang. Si pembawa kunci tetap berjaga di luar untuk melarang turis lain masuk. Sedangkan seorang lagi masuk ke dalam bersama kami dengan membawa sebuah lilin, dupa, dan sebongkah batu kristal.


Di dalam ruangan ini kami melihat patung besar setinggi sekitar 2.5 meter, terbuat dari batu granit hitam dengan polesan yang sangat halus mengkilap. Kami semua terpana memandangnya. Tidak seperti patung-patung lain yang pernah kami lihat sebelumnya.

"Patung ini seharusnya berada di museum!"
Begitulah teriak saya di dalam hati. Namun saya segera memahami bahwa patung ini memang harus berada di sini untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Inilah patung dewi Sekhmet, The Warrior Goddess, The Goddess of Healing (Dewi Petarung, Dewi Penyembuhan). Dan kuil ini memang diperuntukkan baginya. Seorang arab yang ikut masuk bersama kami dengan galabeya dan sorban berwarna putihnya adalah seorang guardian (penjaga / pelindung, atau pada zaman dulu jabatan ini sama dengan pendeta atau priest) yang menjaga serta memandu ritual di kuil ini. Ia berjalan di muka kemudian meletakkan lilin dan dupa di kaki patung Sekhmet itu.

Kami berdiri di sisi dinding kuil yang sempit, sambil satu-per-satu maju ke hadapan patung.
Saat giliran saya tiba, sang guardian memandu saya untuk meletakkan sebelah tangan saya pada dada Sekhmet, sedangkan tangan yang lain pada dada saya sambil menggenggam batu kristal. Kemudian ia meletakkan tangannya di atas kepala dan kening saya sambil membaca doa yang hanya dia sendiri yang tahu. Saya memejamkan mata dan menenangkan diri, membebaskan semua pikiran. Semuanya kosong.


Sang pendeta melakukan tarikan nafas panjang yang terdengar jelas, tiba-tiba saya merasakan aliran energi halus masuk dari ubun-ubun kepala tepat di telapak tangan sang guardian, masuk ke kepala, leher, hingga ke tangan kanan saya yang terletak di dada. Entah mengapa saya membuka mata saya, melihat kepada sang penjaga dengan matanya yang terpejam, menghembuskan nafas panjang, tampak bulir-bulir keringat bercucuran dari kening dan pelipisnya. Betapa hebat energi yang disalurkannya kepada saya. Kepada kami.

Saya memejamkan mata saya kembali dan menikmati seluruh proses ini sampai selesai. Batu kristal saya cium dan saya kembalikan padanya. Saya peluk beliau dengan erat seraya mengucapkan terima kasih padanya dengan diliput rasa haru, syukur, becampur bahagia.

"Aku paham!" ujar saya dalam hati! Ia pun tersenyum pada saya.
Inilah ritual yang sangat luar biasa. Lalu apa kaitan ritus ini terhadap patung dewi Sekhmet itu?

Sekhmet adalah simbol Pola Dasar untuk sifat / kualitas Tuhan Yang Maha Penyembuh / Pemberi Kesembuhan (Ia disimbolkan ke dalam wujud dewa dengan kepala singa betina). Di sini terjadilah proses Channeling - pengaliran kualitas Tuhan tersebut kepada manusia. Ingat, sifat / kualitas Tuhan adalah energi. Apa yang dialirkan adalah energi dari sifat / kualitas itu sendiri, yaitu Penyembuhan.

Di perjalanan ini, saya sempat melakukan healing / penyembuhan terhadap dua orang. Saya melakukannya dengan melakukan channeling kepada Energi Penyembuhan Tuhan dengan rasa yang sama sewaktu saya menerimanya di kuil Sekhmet. Penyembuhan itu jauh lebih berkesan dan lebih cepat dibandingkan dengan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Sungguh terasa bedanya. Di sini saya paham dan membuktikan kebenaran kepahaman saya mengenai Energi Pola Dasar (Archetypal Energy), dan mengenai simbol-simbol Tuhan. Ketakjuban saya akan pengetahuan suci bangsa Mesir Kuno ini semakin bertambah.

Pewujudan sifat / kualitas Tuhan ke dalam simbol dewa adalah cara mereka dalam menghadirkan Tuhan di antara manusia, menghadirkan Tuhan di dalam diri, sehingga channeling kepada kuasa illahi dapat terjadi.
Dan ini terbukti berhasil.

Sebesar apakah Energi / Kuasa illahi yang dapat dialirkan (channeling) kepada diri kita? Adalah bergantung pada Tingkat Kesadaran  yang telah kita capai. Dan Tingkat Kesadaran itu dilandasi oleh Kepahaman kita terhadap keberanan / realita yang hakiki (Maat).
Oleh karena itu sangatlah mutlak memahami realita alam ini - kebenaran hakiki secara keseluruhan. Dan awal jalan menuju Kepahaman adalah pengendalian ego - Keseimbangan antara dualitas kutub alam di dalam diri.

Semua pengetahuan tersebut sudah tersimbolkan dengan sangat jelas dan diwariskan oleh mereka (bangsa Mesir Kuno) kepada kita.

Jika mereka benar mengenai hal yang satu ini (hal yang sangat sakral ini), hal-hal benar apa lagi yang dapat kita pelajari dari mereka?





Mengenai Tingkat Kesadaran, dapat dibaca di artikel saya yang berjudul "The Great Attractor, Part 1, Part 2, Part 3"


Berlanjut ke Part 6


===============
Erianto Rachman


Sebagian Foto dan Video adalah hasil liputan dari Hilmy Hasanuddin.



Tidak ada komentar: