Kamis, 13 April 2017

Magic Egypt

Part 3: Whisper From The Sun




"Unto thee, O man, have I given my knowledge.
Unto thee have I given of Light.
Hear ye now and receive my wisdom brought from space planes above and beyond."

("Ke atasmu, wahai manusia, telah kuberikan pengetahuanku. Ke atasmu telah kuberikan cahaya.
Dengarkanlah sekarang dan terimalah kearifanku yang datang dari ranah-ranah ruang di atas dan yang melebihinya.")

(The Emerald Tablet of Thoth, Tablet VIII, The Key of Mysteries)



Edisi 2

Dianjurkan untuk membaca Part 2 terlebih dulu.


Mesir adalah sebuah wilayah yang menyimpan banyak rahasia. Rahasia yang berusia sangat tua. Rahasia ini berupa pengetahuan alam yang dicapai oleh manusia yang hidup di zaman itu, sebelum banjir besar nabi Nuh 12,500 BP (Before Present). Yaitu kala gugus bintang Leo adalah Heru yang terbit di Timur? Kala sungai Nil belum bermigrasi sejauh 8 km ke posisinya yang sekarang? Kala sungai Nil sejajar dengan bimasakti dan ketiga piramid di Giza sejajar dengan posisi sabuk bintang Orion (Orion's belt)?

Pencapaian kebudayaan yang tinggi menandai pencapaian pengetahuan yang tinggi pula. Pengetahuan tinggi membawa kepada Pemahaman yang mendalam mengenai alam ini. Saya selalu membedakan antara tahu dan paham. Antara pengetahuan dan kepahaman (Know dan Knowing), karena tahu didapat dari pengamatan dan kesimpulan terhadap sesuatu yang diamati. Sedangkan Kepahaman atau Knowing adalah memahami mengapa dan bagaimana sesuatu itu ada atau terjadi. Bahkan saya membawa Knowing lebih jauh - yaitu merasakan / mengalami suatu kejadian.

Bima Sakti (Milky Way)
Sungai Nil adalah sumber kehidupan bangsa Mesir, sehingga peradaban Mesir berkembang merujuk pada betapa pentingnya sungai Nil bagi mereka. Dan jika mereka melihat ke langit pada malam hari yang kala itu tidak terpolusi oleh cahaya dari bumi, tampak galaksi Bima sakti (milky way) dengan jelasnya membentang dari Upper Egypt (Selatan) ke Lower Egypt (Utara), sejajar posisinya dengan sungai Nil, bagaikan pantulan cermin antara bumi dan langi - antara sungai Nil dan Bima sakti.

As above, so below, apa yang ada di atas, juga ada di bawah, bagaikan sebuah hukum alam yang harus selalu dipatuhi (Maat), mereka berketentuan untuk selalu menjadikan langit sebagai acuan apa yang akan mereka adakan di bumi. Bangunan seperti Piramid, kuil, makam, rumah suci, adalah struktur-strukur penting yang harus dibangun sesuai hukum alam (Maat) - yaitu refleksi dari posisi-posisi bintang di langit.

Ada 5 bangunan penting yang harus taat pada Maat dalam pembuatannya, yaitu:
  • Per Aa (The High House, Rumah Tinggi).
  • Per Ka (The House of Spirit, Rumah Ruh, Kuil / temple)
  • Per Ba (The House of of the Dead, Rumah bagi yang mati, makam)
  • Per Neter (The House of Nature, Rumah Alam, Piramid) 
  • Per Wer (The House of Knowledge, Rumah Pengetahuan, Mystery School)
http://human-earth.blogspot.co.id/2014/10/the-children-of-suf.html

Setiap kali akan dibangun sebuah struktur penting, bangunan itu haruslah berkorelasi dengan posisi bintang di langit. Maka dilakukanlah ritual pengukuran khusus, karena keakuratan titik lokasi pembangunan adalah sangat penting. Sampai kini tercatat ada 138 buah piramid di Mesir yang setiap lokasi piramid itu dibangun berkorelasi dengan posisi bintang di langit. Inilah Maat, - as above so below.

Mengapa mereka sangat terobsesi dengan Maat
Karena manusia tidak mungkin terlepas dari hukum alam - Hukum Tuhan (Maat). Dan bila manusia berkehidupan sesuai atau selaras dengan Maat, maka segala sesuatu akan saling menunjang dan menguatkan.

Sungai Nil, bagi bangsa Mesir adalah aliran sungai illahi. Mematuhi Maat berarti sesuai dengan Tuhan - yaitu mengalir dan bergerak bersama Tuhan.
Kesesuaian atau kesejajaran atau synchronicity, seperti yang pernah saya tulis di salah satu Diary saya, mengakumulasi energi alam. Dengan hidup berkesesuaian dengan alam, maka apa yang kita kerjakan adalah bersama alam - bersama Tuhan - dan secara alamiah memanfaatkan energi illahi yang tak berhingga besarnya.
Sampai di sini saya harap anda bisa mulai memahami kepahaman bangsa Mesir kuno yang sangat dalam. Kita akan mulai dapat menarik kesimpulan akan betapa tingginya pemahaman mereka mengenai alam dan spiritual. 

As above so below


"Look thee above or look thee below, the same shall ye find. 
For all is but part of the Oneness that is at the Source of the Law. 
The consciousness below thee is part thine own as we are a part of thine."

("Lihatlah ke atas atau lihatlah ke bawah, kau akan temukan yang sama.
Semua adalah bagian dari Kesatuan, sebagai sumber Hukum alam.
Kesadaran di bawahmu adalah bagian darimu sebagaimana kami adalah bagian darimu.")

(The Emerald Tablet of Thoth, Tablet XI, The Key to Above and Below)



Obsesi terhadap Maat, memotivasi mereka untuk mengamati alam dengan sangat seksama. Mereka mengamati, mencatat setiap kejadian, perilaku makhuk dan pergerakan benda-benda alam, lalu melakukan kajian terhadapnya. Kajian-kajian tersebut diuji lagi dan lagi hingga tercapailah sebentuk pengetahuan yang baik.

Mereka memiliki waktu yang cukup untuk mengamati langit dan pergerakannya sesuai siklus kecil; yaitu siklus yang terjadi setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun, juga siklus besar dengan rentang puluhan tahun, ratusan, ribuan hingga 26,000 tahun (siklus presessi bumi, Precession of the Equinox). Kemudian menurunkan pengetahuan ini dari generasi ke generasi. Bagaimana mereka melakukan pengamatan astronomi dalam kurun waktu yang melebihi usia mereka? Bahkan melebihi usia beberapa generasi? Siapakah mereka atau manusia seperti apakah mereka sesungguhnya?

Kepahaman adalah kunci dalam menjawab misteri ini.
Bangsa Mesir kuno yang hidup jauh sebelum zaman pra-sejarah (Pre-Historic Egypt), dan Ancient Dynasties, dan bahkan sebelum banjir besar, adalah misteri terbesar kita. Dan hal ini tidak tercatat dalam sejarah - atau mungkin hilang saat Library of Alexandria dimusnahkan oleh invasi umat Kristen.
Benarkah tidak ada satu pun catatan yang tertinggal untuk kita?

Oleh karena sudah ada sebutan bagi bangsa Mesir kuno yang eksis dari zaman pre-historic Egypt hingga Ancient Dynasties, maka kita perlu istilah baru bagi bangsa Mesir yang eksis sebelum zaman itu - termasuk juga sebelum banjir besar - agar tidak membingungkan dalam membaca artikel ini. Kita tuliskan saja mereka bangsa Mesir Kuno (dengan garis bawah).

Dari mana kita mulai?
Tumpuan perhatian saya tertuju pada mitologi mereka. Jika kita mengetahui apa yang mereka pahami akan ketuhanan, maka kita akan juga memahami siapa mereka. Mereka meninggalkan pesan bukan dalam bentuk tulisan, melainkan gambar-gambar yang berupa simbol-simbol dengan lapisan-lapisan makna yang dalam. Dan untuk memahami makna sesungguhnya dari simbol-simbol itu, anda tidak cukup hanya menjadi Egyptologist, atau Archeologist, atau Astronom, atau Cosmologist, atau Biologist, atau Astro-Phycisist atau Linguist. Anda harus memiliki dasar pengetahuan semua disiplin ilmu yang ada, ditambah pengetahuan dan pengalaman spiritual yang baik.

Dengan kata lain, kita harus bekerja sama; menggabungkan orang-orang dari berbagai disiplin ilmu, yang berpikiran terbuka, scientists + spiritualists, dan bebas dari segala bentuk batasan-batasan semu yang dibuat oleh manusia sendiri, untuk dapat benar-benar memahami bangsa Mesir Kuno dengan baik.

Kisah utama dalam mitologi bangsa Mesir Kuno adalah kisah tiga serangkai; Osiris, Isis, dan Horus, yang saya tuliskan di Part 2.  Saya tidak mungkin menuliskan semuanya di sini, namun hanya akan mengangkat satu-dua hal saja yang menjadi dasar pemikirin saya dalam memahami semua ini.

Mitologi Mesir dihiasi dengan tokoh dewa-dewi. Siapakah mereka?
Inilah kunci pemahaman kita. Dengan mengetahui siapa mereka, maka kita akan membuka mata dan hati kepada kepahaman spiritual secara keseluruhan yang berlaku sepanjang zaman di alam ini, baik dulu maupun sekarang.

Salah satu petunjuk akan pengaruh kuat mitologi bangsa Mesir Kuno ini adalah ia sebagai landasan kisah-kisah di dalam kitab-kitab ajaran agama Abrahamik yang datang kemudian (Yahudi, Kristen dan Islam). Silakan baca: The Magician Part 1Part 2Part 3. Ini berarti banyak paralel antara ajaran agama yang sekarang dengan Mesir Kuno yang sangat tua. Hal ini bagi saya sangat penting dan merupakan indikasi validasi dari pemahaman saya.

Mereka adalah The Archetypes, Energi Pola Dasar - Sifat dan Kualitas Tuhan yang dimanifestasikan ke dalam nama dan wujud tersendiri. Jumlah mereka sebanyak jumlah sifat dan kualits Tuhan. Merekalah yang satu tetapi banyak, yang banyak tetapi satu.
Inilah kunci kepahaman (knowing) mereka.

"Hear ye these words of wisdom.
Hear ye and make them thine own.
Find in them the formless.
Mystery is but hidden knowledge.
Know and ye shall unveil.
Find the deep buried wisdom and be master of darkness and Light."

("Dengarkanlah kata-kata kearifan ini.
Dengarkanlah dan jadikanlah mereka milikmu.
Temukan di dalam mereka yang tak berwujud.
adalah Misteri, pengetahuan yang tersembunyi.
Tahu-lah maka ia akan terbuka untukmu.
Temukan kearifan yang terkubur-dalam dan jadilah penguasa atas kegelapan dan Cahaya.")

(The Emerald Tablet of Thoth, Tablet VIII, The Key of Mysteries)



22 March 2017: Abu Gorab, The Place of God

Setelah menjelajah dataran Giza, kami kembali ke hotel untuk bergabung dengan team tour kami dan berangkat bersama menelusuri The Band of Peace


Khemit

The Band of Peace adalah wilayah sepanjang sungai Nil yang meliputi Abu Rowash di utara, Giza, Abu Gorab, Abusir, Saqqara, dan Dashour. Di sini adalah tempat bermukimnya suku Khemit dan para Wisdom Keeper - mereka yang menjaga pengetahuan lisan bangsa Mesir Kuno dari generasi ke generasi. 

Khemit adalah suku asli bangsa Mesir Kuno. Asal katanya adalah "Khem" yang berarti "Hitam", adalah sebutan bagi suku ini yang berkulit hitam asli dari Afrika. Khem berasal dari Hem / Ham, yaitu salah satu anak dari Nabi Nuh yang setelah banjir besar berkelana dan mendiami wilayah Mesir ini. Kisah lainnya, Khem atau hitam juga sebutan bagi tanah Afrika utara yang berwarna hitam karena sangat subur sebelum kemudian dilanda perubahan iklim dan merubah area ini menjadi padang pasir tandus - Sahara. Maka "The Land of Khem" adalah sebutah untuk suatu wilayah yang sangat subur, atau daerah tempat bermukimnya bangsa Khemit.

Bangsa Khemit adalah bangsa yang sangat maju dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan; dari science sampai spiritual. Bangsa Arab zaman dahulu mengagumi pengetahuan yang dimiliki bangsa Khemit. Mereka datang dari Arab ke Mesir untuk belajar pengetahuan itu. Mereka menyebut ilmu bangsa Khemit dengan Al-Khemit, yang kemudian menjadi Alchemy.

Bangsa Khemit berkembang menjadi bangsa besar yang kemudian kita kenal sebagai bangsa Mesir Kuno. Mereka memahami pentingnya pelestarian ilmu pengetahuan dan kepahaman yang telah dicapainya, melalui penyampaiannya dalam simbol-simbol dan tradisi lisan. Para penerus pelestarian tradisi inilah yang disebut sebagai Wisdom Keeper. Wisdom Keeper masih ada hingga sekarang dan terus menjaga kearifan dan pengetahuan bangsa Mesir Kuno.

Bangsa Khemit berbicara dalam bahasa Suf. Inilah sesungguhnya bahasa Mesir Kuno yang simbol-simbolnya kia temukan pada bangunan-bangunan kuno di Mesir kini.


The Sun Temple of Ra & Crystal Altar

Menurut catatan mainstream, Abu Gorab adalah lokasi peninggalan makam dari raja di Dinasti pertama (Old Kingdom), juga Kuil Matahari Ra (Sun Temple of Ra) yang dibangun oleh Raja Nyuserre Ini dari Dinasti ke-5 (Old Kingdom). Kuil Matahari digunakan untuk pemujaan Dewa Ra, berbentuk segi empat dengan obelisk di tengah, serta sebuah altar yang dibuat dari batu alabaster yang jika diperhatikan dengan seksama menyerupai Quartz Crystal, sehingga Altar ini juga disebut sebagai Crystal Altar.

Menurut keterangan Hakim Aywan, sang Wisdom Keeper, Crystal Altar berbentuk bundar di tengah empat titik penjuru, sebagai simbol dari "Hotep" yang artinya kedamaian (Peace). Batu bundar ini sebenarnya adalah sebuah penutup lubang (shaft) di bawahnya, 55 meter ke dalam tanah hingga sejajar dengan permukaan laut, dan bertemu dengan air tanah yang mengalir.

Hakim menjelaskan bahwa Crystal Altar ini menghasilkan resonansi harmonic melalui getaran suara yang bermanfaat untuk meningkatkan dan menguatkan keawasan (awareness) dan membuka chakra-chakra kita agar dapat berkomunikasi dan bersatu dengan Neter (alam).

Prosesnya adalah: Aliran air yang mengalir di bawah tanah di ujung lubang sedalam 55 meter itu menghasilkan getaran yang beresonansi sepanjang lubang hingga ke atas, ke lempeng bundar di tengah Crystal Altar. Inilah resonansi alamian dari Neter. Seseorang yang bermeditasi di atas Crystal Altar ini akan terselaraskan (Attuned) dengan getaran suara alam yang membantu membangkitkan keawasan dan kepekaannya dengan alam.

Sun Temple of Ra ini posisinya berkorelasi dengan bintang HD 283271 dekat gugusan bintang - galaksi Pleiades. Pleiades berkorelasi dengan komplesk piramid di Abusir (yang akan saya singgung di tulisan Part selanjutnya). Sehingga antara gugus bintang Orion - Giza, Abusir - Pleiades, dan Sun Temple of Ra - HD 283271, akan tampak seperti gambar di bawah ini;




Terdapat pula 9 buah batuan alabaster yang dibentuk menyerupai wadah dengan lubang silinder halus di sisinya. Anda bisa melihat betapa halus buatannya - membuat kita bertanya-tanya bagamana cara mereka membuat lubang-lubang sehalus itu. Menurut catatan mainstream, wadah-wadah ini digunakan untuk menampung darah dari hewan yang dijadikan korban persembahan. Namun keterangan ini saya ragukan.

Hakim Awyan menyiratkan adanya hubungan antara wadah-wadah itu dengan obelisk yang ada di samping Crystal Altar. Obelisk ini sekarang sudah hancur, namun obelisk ini adalah obelisk tertua yang pernah ada di Mesir. Pada obelisk terdapat simbol matahari berbentuk lempeng bundar dengan tulisan hieroglyph padanya. Tulisan hieroglyph ini adalah bahasa Sufi, bertuliskan "i-bra"  yang bermakna Heart of the Sun (pusat dari matahari), atau The Place of God (tempat Tuhan).

Selain blok batuan dari alabaster, tampak pula yang dibentuk dari batuan granit, dengan potongan-potongan bersudut tajam yang cukup menarik perhatian. Adapun demikian, bangunan situs ini sudah rusak karena gempa dan penjarahan, kita tidak mungkin mengetahui kegunaan bebatuan yang dibentuk sedemikian rupa itu.


Kiri: Jalan menanjak ke situs Abu Gorab yang terletak di atas bukit. 
Tengah: Situs Abu Gorab, Kanan: Crystal Altar



Wadah dari Alabaster.





Struktur dari batu granit dengan potongan-potongan yang sulit dibuat hanya dengan menggunakan pahat dan palu.



Meditation & the Whisper

Hari itu adalah hari yang sangat berangin dan udara terasa sangat dingin. Kami berjalan menembus perkebunan mangga lalu mendaki ke lokasi reruntuhan yang dulunya adalah Sun Temple of Ra. Mata saya langsung tertuju pada sebentuk batu di tengah lokasi, itulah Crystal Altar. Dengan dipandu oleh DR Carmen Boulter, kami berjalan mendekati Altar tersebut dan menyebar mengelilinginya. Kedua telapak tangannya menyentuh batu altar.

Teman-teman mengikuti instruksi dari DR Carmen, sambil memejamkan mata seraya menenangkan tubuh serta pikiran dan membuat seluruh indera merasakan resonansi yang dihasilkan dengan sangat halus oleh altar tersebut. - hanya mereka yang sungguh peka yang dapat merasakannya - lalu sedapat mungkin mendengungkan (humming) apa yang merambat ke tubuh kita dari altar tersebut. Dengungan mengalir seiring chakra hati yang perlahan membuka, diikuti chakra-chakra lainnya. Setiap orang mengalami sambutan resonansinya sendiri-sendiri yang dimanifestasikan ke dalam dengungannya.

DR. Carmen mengatur giliran dan memberi aba-aba siapa yang naik ke atas untuk melakukan meditasi berbaring di atas altar. 

Saya merekam video dari proses ini dan memperhatikan teman-teman yang memulai lebih dulu. Kemudian saya pun mematikan kamera saya dan ikut bersama mereka. Saya letakkan semua barang bawaan di samping lalu berjalan mendekat ke posisi yang kosong. Saya tempatkan kedua telapak tangan di atas altar. Kedua mata saya pejamkan dan mulai masuk ke dalam ketenangan.

Namun ketika saya baru saja memejamkan mata, tiba-tiba tubuh saya merinding. Kaki saya lemas, dan nafas saya tidak beraturan. Saya merasa berdiri seperti ini bukanlah posisi yang nyaman untuk saya. Saya pun mengundurkan diri, berjalan ke tepi dan duduk di atas batu di samping altar membelakangi teman-teman yang lain.

Saya hanya bertumpu pada tongkat saya sambil berusaha mengatur nafas, menenangkan diri dan menikmati irama dengungan teman-teman di belakang saya sambil sesekali tubuh menahan tiupan kencang angin yang dingin. Evie datang ke arah saya dan memberikan kain-shall besarnya kepada saya sambil meletakkannya ke tubuh saya yang ternyata sudah menggigil. Tanpa bersuara dia pun kembali ke posisinya di samping altar.

Dengungan itu terus membahana, dinginnya angin masuk menusuk tubuh. Kemudian saya merasakan ledakan kecil di dasar tubuh. Ledakan rasa, rasa itu naik ke perut, ulu hati, dada, leher, kepala dan ubun-ubun. Begitu terus terjadi berulang-ulang. Ledakan itu semakin besar, besar, hingga tak tertahankan lagi, keluar dalam bentuk tangisan hebat.

Sampai artikel ini saya tulis, hanya sedikit orang yang tahu apa yang terkadi pada saya saat di Abu Gorab, bahwa saya menangis menderu-deru dengan hebatnya. Tetapi tidak ada yang mendengarkan karena tertutup suara kerasnya tiupan angin dan dengungan teman-teman yang sedang fokus melakukan meditasi.

Saya berteriak tanpa suara, "Ya Tuhan... kenapa ini!? Mengapa saya mengangis? Mengapa saya tiba-tiba bersedih?"

Terbersit pertanyaan di dalam pikiran, benarkah saya sedang bersedih?
Kemudian Tangisan berubah menjadi tawa. "Ah! kenapa sekarang saya tertawa?!"

Air mata yang deras mengalir di pipi segera mengering karena sapuan angin kencang, sebagian menetes di atas kain yang menutup tubuh sampai ke kepala dan separuh wajah. Tubuh saya bergerak, bergoyang maju mundur, dan dari kiri ke kanan tanpa henti. Terlintas wajah-wajah orang-orang yang dekat dengan saya, mereka yang saya cintai dan kasihi. Saya ucapkan terima kasih kepada mereka dengan rasa syukur. Terlintas pula ingatan segala perbuatan saya di masa lalu yang menyakiti orang lain, saya memohon maaf sedalam-dalamnya.

Saya mendengar DR Carmen memanggil nama saya. Tibalah giliran saya untuk naik berbaring di atas altar. Saya pun melakukannya. Teman-teman melanjutkan dengungan mereka. Hanya beberapa detik kemudian tubuh saya mulai meringkuk, seperti ada aliran deras yang mengalir di tubuh. Saya biarkan hal ini terjadi. Saya ikuti semua iramanya tanpa saya tahan. Beberapa menit kemudian terdengar aba-aba yang menyudahi waktu saya di atas altar untuk bergantian dengan teman yang lain. Saya pun turun dari altar dan kembali duduk di samping

Kembali duduk, saya berpikir ini semua sudah selesai. Tidak. Rasa yang dahsyat itu kembali datang. Saya terus tertawa dan menangis secara bersamaan sepanjang prosesi meditas berlangsung, yaitu sekitar hampir 2 jam lamanya.

Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi ini. Ledakan emosi bercampur-campur yang tidak saya pahami. Saya juga menahan diri untuk berpersepsi dan membiarkan diri saya mengalir bersama letupan rasa yang menguasai saya. Apa adanya. Pasrah. Saya serahkan semuanya pada Tuhan yang Satu, Tuhan Tanpa kutub, Tuhan yang Singular, Tuhan bagi seluruh alam, tanpa kecuali.

Di dalam kepasrahan itu, masuklah sebentuk rasa lain di dalam hati ini. Bagai sebuah bisikan. Bisikan yang sangat halus namun tegas. Seketika itu pula tubuh berhenti bergerak. Mata memejam lebih rapat. Angin dingin berubah menjadi lembut dan bersahabat. Posisi tubuh yang tadinya bungkuk bertumpu pada ujung tongkat, sekarang menegak. Proses ini sudah selesai. Saya merasa tenang.

Lalu saya mengangguk seraya bergumam, "Oh begitu..."

Ini adalah peristiwa terpenting kedua setelah pesan yang saya terima sewaktu melakukan meditasi di dalam The Great Pyramid di Giza. Bisikan yang saya terima di Crystal Altar Abu Gorab ini meng-afirmasi, menguatkan, me-validasi apa yang sudah saya pahami selama ini. Namun di sinilah kepahaman itu dikukuhkan sebagai kebenaran yang patut saya miliki.

Terima kasih Tuhanku... Terimalah kesaksianku.



Meditasi di Crystal Altar





Hatiku telah terbuka, aku-lah dia yang datang kemudian.
Aku berdiri di atas gerbang sucimu yang melindungi ruang mahligai kearifan agung Sang Satu.
Kuterima kearifanmu, kusadarkan semua indera, kuteguhkan kepahaman,
di sinilah aku berdiam, di tengah gerbang yang sekarang telah terselinap cahaya terang.

Cahayamu di dalam diriku, cahayamu di sekelilingku, akulah Cahaya.
Inilah kesaksianku; Tiada yang lainnya, dan aku adalah titahmu.

~ Erianto Rachman ~







Berlanjut ke Part 4



===============
Erianto Rachman


Sebagian Foto dan Video adalah hasil liputan dari Hilmy Hasanuddin.



Di sebelah saya adalah Nick Poeta dari Canada. passionnya adalah Permaculture Design.
Dia adalah seorang expert dalam memberdayakan tanah tandus - dirubah menjadi tanah subur yang sustainable.
Dia adalah perancang "Edible Forest" yaitu membuat hutan yang semua tamanannya dapat dimakan.
Sungguh pertemuan yang sangat luar biasa.
Saya, Hilmy, dan Nick sepakat untuk menjalin kerjasama yang baik untuk penyebaran pesan kemanusiaan, Climate Change + Permaculture.






1 komentar:

Firmansyah Kusasi mengatakan...

Amazing..👍✌