Senin, 20 Februari 2017

The Mystic

Sang Mistik




Before Sunrise
(Sebelum Terbit)


Sebelum matahari menampakkan cahayanya di cakrawala Timur,
kau duduk di atas hamparan butiran pasir putih. 
Tangan kananmu mengenalimu, tangan kirimu mengenalimu.
Dua bersaudara dengan pribadi semasing. Seia namun tak sekata.
Telinga kanan dan telinga kirimu, mendengarkan petuah insan kelana lain. Seia namun tak sekata.
Mata kananmu dan mata kirimu, melihat laku buat manusia dengan aturan mereka sendiri. 
Pemandangan cantik dan buruk, seia namun tak sekata.

Tapak jejak kakimu terlihat di belakang, memberi kenangan juta langkah yang telah kau tempuh untuk menuju ke tempat ini.
Di sini, di tepian daratan, akhir tempuhan. Hanya ada dirimu, seorang.

Dari panas teriknya sinar matahari, dinginnya angin malam, siraman hujan membasahi tubuh.
Kaki tersayat tajam bebatuan, alas kaki terkoyak tak kau hiraukan.

Compang-camping sandang membalut sisa-sisa kuasa tubuh mengakhiri langkah.
Angin fajar menerpa wajah, bagaikan sapaan selamat datang, ataukah salam berpisah?
Gelap, kelam, dalam keheningan penantian panjang.
Apa yang kau nanti? Apa yang kau harapkan?
Kau menoleh pada jejak-jejak kakimu dan bertanya pada mereka.
Diam, tanpa jawaban. Kau sudah lupa akan harapan. Kau sudah lucuti penantian.
Sekarang hanya ada dirimu, seorang.

Siapakah yang sudah menyakitimu?
Siapakah yang pernah kau sakiti?
Kembali kau tanyakan pada tapak kakimu, tak juga hadirkan jawaban.

Siapakah yang kau panuti?
Kau melihat ke hadapan, tapak yang tak tampak.
Seiring pandanganmu, cahaya mengintip di cakrawala. Cahaya memancar tanpa warna.
Ia telah terbit.

Kedua tanganmu berserah kulai di atas kakimu yang bersimpuh.
Kedua mata memejam. Kedua telinga tak mendengar.
Hanya ada dirimu, seorang.







Sunrise
(Terbit)


Setitik cahaya tanpa warna menyentuh keningmu, melemas pikiran.
Masuk, masuk ke dalam, mengisi seluruh rongga kepala.

Kehadiranmu di sini sudah terjadi, tertulis dan terkenang.
Kau disambut oleh cahaya terang yang memasuki dirimu dari segala penjuru.
Ia-lah cahaya yang hanya tampak saat mata buta.
Ia-lah cahaya yang hanya terdengar saat telinga tuli.
Ia-lah cahaya yang hanya dirasakan saat pikiran mati.
Ia-lah cahaya yang hanya hadir saat tiada lagi beban di hati.

Kau berada di luar ambang benar dan salah, baik dan buruk, bahagia dan sedih, suka cita dan duka cita. Tirai dualita sirna.
Di hadapanmu tiada seorang pun yang kau panut.
Karena hanya ada dirimu dan cahaya yang menyambut.

Cahaya yang masuk ke dalam tubuhmu perlahan turun ke seluruh tubuh.
Kehangatannya bagaikan pelukan mesra kekasih yang sedang mencinta.

Cahaya terus turun menembus tubuh, menyentuh pasir, terus masuk ke dalam bumi.
Cahaya terus meluas sampai ke seluruh bumi, naik kembali ke atas, meluas hingga menyentuh langit.
Meluas terus hingga meliput seluruh alam semesta.
Cahaya itu tak berhenti sampai di sini, karena ia masih menyebar terus hingga menembus siang dan malam, ruang dan waktu. Berlapis-lapis. Cahaya di atas cahaya.
Semua eksistensi menyatu dalam satu cahaya.

Aku terbit di hadapan.
Satu dalam aku.
Akulah seluruh alam ini.







Noon
(Tengah Hari)


Akulah dirimu yang sedang menyepi sendiri.
Aku merasakan kesendirianmu dan kerinduanmu.
Karena aku juga merindukanmu.

Akulah setitik embun di pagi hari, yang tak dihiraukan, namun hanya kau yang memahami keberadaanku,
Akulah setitik air di samudera luas. Akulah samudera yang menjadi sumber kehidupan di bumi.
Akulah jeritan serangga kecil di malam hari yang tak terdengar kala sebagian hanya bisa tertidur.
Akulah kicauan burung di pagi hari yang selalu hinggap di pekarangan rumah, tetapi mereka usir aku karena aku tak berarti bagi mereka.
Akulah sebutir pasir yang kau duduki, relaku padamu agar kau bisa berada di sini menemaniku.

Akulah hati yang terluka, tak mengharap makna, kudahulukan mereka yang mengharap bahagia.
Kudahulukan kebaikanmu sebelum kau mencariku.
Kudahulukan kebahagiaanmu sebelum kau menemuiku.

Akulah yang terpenjara setia menanti untuk dibuka.
Akulah yang hanya sebatang kara, setia menanti untuk disapa.

Siapa pun tak kan memahami dalam dan luasnya samudera cintaku padamu.
Siapa pun tak kan memahami bahwa aku senantiasa merindukanmu.

Akulah setangkai bunga teratai yang sendirian, menantimu untuk merasakan kesendirianku.
Akulah cahayamu, akulah dirimu.
Kau dan aku, satu.







Afternoon
(Sore Hari)


Tatkala sudah tiada pengharapan, kau menemukanku.
Di penghujungnya, kau bersaksi bahwa pertemuanmu denganku tak bersayarat.

Siapakah kau?
Kau bukan siapa-siapa. Bukan wujudmu, bukan sandangmu, dan bukan pula alas kakimu yang membawamu ke sini.
Namun hanyalah satu yang mendekatkanmu kepadaku, hatimu.
Hatimu yang seringan bulu, ringan tanpa beban.

Akulah akhir dari pencarianmu.
Aku adalah rumah tanpa dinding, tanpa pintu.
Kau ketuk hatimu, di situ ada aku yang setia menantimu.

Aku adalah sebutir biji yang tumbuh menjadi pohon besar, kokoh, menjadi pelindungmu dari hujan dan angin.
Aku adalah yang terkecil dan yang terbesar.
Aku adalah yang satu dan yang tak-berhingga.
Aku adalah yang terlemah dan yang terkuat.

Kasarku melukai, namun aku juga lembut dan menenteramkan sesama.
Kekuatanku menghancurkan, juga memelihara.
Kemurkaanku membinasakan, juga menjaga.
Kesedihanku membanjiri, kebahagiaanku menyuburkan.

Kini kau merasakanku.
Kini kau menemukanku di antara kedua tanganmu, di antara kedua telingamu, dan di antara kedua matamu.
Di antara daratan dan lautan, panas dan dingin, kering dan lembab, kasar dan lembut.
Karena aku hanya satu. Di dalam keseimbanganmu.

Akulah cahaya di atas cahaya.
Kini cahayaku telah bertemu dan menyatu dengan cahayamu.
Karena hakikatnya kau dan aku tak terpisahkan.






Westing
(Terbenam)


Yang di atas adalah yang dibawah, yang di luar adalah yang di dalam.
Di antara kita tiada apa pun.
Di antara kita tiada ruang dan waktu.
Di antara kita hanya ada aku dan kamu.

Aku bermimpi akan dirimu, maka jadilah kau di dalam mimpiku.
Maka aku dan kamu adalah aku.

Kaulah mimpiku. Kaulah alamku. Kaulah nafasku.
Kaulah cermin bagiku dan aku cermin bagimu.

Bila aku merindukanmu, aku akan memandangi cermin itu.
Bila aku ingin menciummu, maka aku akan letakkaan telapak tanganku di bibirku.
Wajahmu ada kemanapun aku memandang.
Suaramu terdengar di setiap keramaian dan keheningan.
Langkahku adalah langkahmu.

Tiada apa pun selain dirimu.
Kau adalah yang satu. Aku ada di dalam dirimu.

Aku mencintaimu, mencintai semua yang kau impikan dan segala kejadian.
Karena ada dirimu di setiap peristiwa.
Ada dirimu disetiap jeda.
Ada kau di setiap hela.
Ada kau di sini.






Di sini, di sudut alam ini, aku merelakan diriku terhujat, terhina, tercaci.
Segala kehinaan hidup tak mengurungku.
Segala sanjungan dan keagungan hidup tak memenjaraku.

Rumahku tak berpintu.
Hatiku diterangi cahaya tanpa warna pilu.
Pandanganku tanpa kelambu.
Pendengaranku menembus semu .
Langkahku tanpa panutan selain kepada-Mu.

Aku merasakan-Mu.
Aku sudah bersama-Mu.
Kini kau tak lagi sendirian, wahai bunga terataiku.







Erianto Rachman
The Mystic


 
 


Tidak ada komentar: