Minggu, 13 Desember 2015

The New Atlantis






Part 3

Edisi 2


Setelah dari Konferensi kami kembali ke hotel. Kami masih punya waktu 2 jam sebelum harus kembali ke Jakarta. Kami menghabiskan waktu tersisa itu dengan sebaik-baiknya. DR Danny Hilman juga ikut bersama kami di hotel. Kami membahas kembali apa yang telah dipresentasikan oleh ketiga pembicara. Semua yang belum sempat ditanyakan, kami manfaatkan waktu itu untuk menanyakannya. Saya sangat antusias dan bergelora.

Waktupun menunjukkan bahwa kami harus segera meninggalkan kota Bandung. Kami berpisah dengan team Ancient Mysteries International (AMI), DR Carmen dan Pak Danny dan teamnya di Bandung. Suasana perpisahan yang mengharukan dan tidak akan saya lupakan. Selama perjalanan, di mobil, kamipun tidak henti-hentinya meneruskan pembahasan kami. 

Bruce dan DR Carmen sangat terkesan dengan kultur negara ini yang sangat ramah dan sopan. Sepanjang kunjungan mereka, mereka menemui suasana keakraban, persaudaraan, canda, gurau, namun juga bisa serius. Dan yang terpenting adalah usaha tanpa pamrih dari kami yang selalu siap membantu. Kultur seperti ini hanya ditemui di sini.

Jika saja DR Carmen tinggal lebih lama di Indonesia, ia akan mendengar kisah-kisah yang tidak akan ia temukan dari kunjungan singkat ini. Saya berkata padanya bahwa orang-orang seperti Pak Danny Hilman dan Pak Dhani Irwanto dan lainnya menyimpan banyak sekali cerita yang belum diceritakan oleh mereka. Dan tidak mungkin diceritakan pada forum resmi. Saya berkata kepada Carmen bahwa jika memang ada pengetahuan yang selamat (surviving knowledge) dari peradaban masa lalu, maka pengetahuan itu ada di sini! di tanah nusantara ini! Seperti apa pengetahuan itu?


Sebelum saya melanjutkan, saya ingin kembali pada cerita saya ketika masih di Bandung.
Konferensi dilanjutkan dengan presentasi yang dibawakan oleh Dhani Irwanto. Pak Dhani mengulas habis bukunya yang berjudul "Atlantis, The Lost City is in Java Sea".  Pak Dhani menterjemahkan kedua naskah Plato kata demi kata dan memetakannya dengan baik dengan kondisi alam Indonesia. Rasanya sulit didebat, Indonesia-lah Atlantis yang dimaksud Plato.

Plato menerima berita mengenai Atlantis dari kakeknya yang bernama Solon. Solon adalah seorang murid yang belajar di Mesir, tepatnya di sebuah kuil di pulau Elephantine di sungai Nil. Di pulau tersebut terdapat kuil yang tidak seperti kuil umumnya di Mesir. Kuil ini memuat hieroglyph yang khusus menceritakan mengenai peradaban manusia yang telah musnah, Atlantis. Kuil ini sekarang sudah tidak ada karena hancur. Solon, menurunkan kisah ini kepada Plato. Lalu dibuatkan tulisan hasil dari percakapan antara "Timaeus" dan "Critias". Plato adalah seorang filsuf dan ilmuwan terkemuka di Yunani pada masa itu. Plato tidak menuliskan sesuatu yang bersifat fiksi. Sehingga hingga sekarang orang menganggap serius kedua naskah tersebut.

Plato juga mengatakan bahwa Atlantis ada sebelum banjir besar. Ini satu hal yang menjadi titik kunci dan menjadi tolok pengukuran usia peradaban Atlantis itu sendiri, yaitu semua deskripsi pada naskah Plato mengenai Atlantis adalah bahwa Atlantis merupakan daratan yang luas. Di sebelah Selatannya terdapat lautan luas. Di masa Solon, seluruh lautan di bumi disebut dengan lautan Atlantik, maka peradaban maju yang dimaksud disebut dengan nama Atlantis. Kita tidak tau nama sesungguhnya dari peradaban itu. Dan di utara terdapat daratan yang lebih luas lagi.

Indonesia adalah negara kepulauan. Daratan luas yang dimaksud oleh Plato tidak ada di sini. Namun daratan itu pernah ada di masa lalu, yaitu masa sebelum es mencair. Di masa itu, yaitu pada masa Younger Dryas dan sebelumnya, wilayah yang kita kenal dengan "Paparan Sunda" memang benar-benar sebuah paparan, atau daratan luas, karena permukaan air laut yang rendah sehingga pulau Sumatera, Semenanjung Malaka hingga Thailand, Philippines, dan Kalimantan semuanya terhubung oleh daratan. Wilayah ini kita kenal dengan Paparan Sunda, atau Sundaland


Sundaland

Presentasi dilanjutkan oleh Pak Danny Hilman. Pak Danny memaparkan dan menceritakan dengan sangat baik pengalamannya dalam eksplorasi dan ekskavasi situs Gunung Padang. ia memaparkan temuan-temuannya seperti koin tua, batu pasak berbentuk senjata khas Jawa Barat, Kujang. Juga bagaimana ia mengukur usia situs itu dengan metode carbon-dating. Saya akan lanjutkan lagi setelah topik yang di bawah ini.

Younger Dryas


Sumber gambar/diagram: Magicians of the Gods oleh Graham Hancock,
dan DR Danny Hilman Natawidjaja


Younger Dryas (YD) adalah rentang waktu pada garis sejarah bumi, sekitar 12,800 sampai 11,600 tahun BP (Before Present, sebelum sekarang), yang diawali oleh penurunan suhu global secara drastis dalam tempo yang relatif singkat. Penyebab penurunan suhu yang drastis ini diduga adalah jatuhnya komet ke permukaan bumi dengan kekuatan besar yang debunya menutupi hampir seluruh atmosphere sehingga menghalangi sinar matahari. Bumi menjadi sangat dingin di masa YD itu. Es menutupi hampir semua wilayah utara bumi (northern hemisphere). Greenland, Eropa, Utara Rusia, Alaska dan seluruh Canada tertutup es bermil-mil tebalnya.

Lalu di penghujung 11,600 tahun BP, terjadi sesuatu lagi yang menyebabkan kenaikan suhu global secara drastis dalam tempo yang juga relatif sangat singkat. Kita bicara dalam tempo hari, bukan tahunan. Penyebab kenaikan suhu global ini diduga juga karena jatuhnya komet, tetapi bukan pada daratan kering, melainkan tepat di atas tumpukan es di utara Canada. Akibat dari tumbukan itu, es yang bermil-mil tebalnya mencair seketika dan membanjiri daratan kering di sekelilingnya. Bukti akan pernah adanya kekuatan air besar yang menyapu daratan dalam waktu singkat dapat di temui di Scabland, Washington, wilayah negara bagian Amerika Serikat. (Sumber: Magician of the Gods)

Graham Hancock di Scabland, Washington, USA.
Sumber: Magician of the Gods
Scabland adalah wilayah daratan yang sangt luas dan sangat gersang, hampir tidak ada tanah yang menutupinya, hanya lapisan tanah keras dan batu. Hal ini disebabkan oleh sapuan air dengan volume dan kekuatan yang sangat besar. Air tersebut kemudian mengalir ke laut. 

Jumlah air yang mencair dan mengalir ke laut di seluruh dunia menyebabkan arus laut-dalam di seluruh lautan bumi, terhenti. Mungkin pembaca sudah pernah tau bahwa lautan bumi kita ini terdapat aliran arus yang disebabkan perbedaan suhu air laut. Arus ini mengalir dari selatan ke utara. Dari selatan, air hangat mengalir ke utara dan bertemu suhu dingin dan es. Air menjadi dingin lalu mengalir ke kembali ke selatan. Demikian seterusnya tanpa henti. Arus laut inilah yang menjadikan laut selalu terregulasi, memperbarui kandungan oksigen dalam air. Dengan kata lain, arus inilah yang memungkinkan adanya kehidupan di laut. Dari mulai plankton, terumbu karang, hingga ikan. Jika arus ini berhenti, maka oksigen tidak akan terbentuk. Laut pun mati. 

Catatan: Kematian laut ini akan terjadi di masa depan kita yang tidak lama lagi, karena pemanasan global, es di kutub mencair, dan airnya akan merusak suhu laut global yang pada akhirnya mematikan laut seperti pada masa akhir YD. Dan saya ingin menambahkan, sebagian kita mungkin belum memahami konsekuensi dari matinya kehidupan laut, adalah tidak akan ada lagi ikan di laut. terumbu karang mati, atmosfer di bumi pun berubah. iklim berubah. Kematian laut sangat berpengaruh terhadap kehidupan di bumi.

Komet yang jatuh di awal dan di akhir YD masih berupa teori. Kita harapkan adanya tambahan bukti-bukti yang bisa mendukung teori ini. Namun satu teori mengenai sapuan air di Scabland sudah diakui oleh keilmuan mainstream. Tetapi apakah komet atau sapuan lidah matahari yang menyebabkannya? Itu masih perlu dikaji. Adapun demikian, jika kita membuka mata untuk mengkaji legenda, mitos-mitos atau teks-teks tua, beberapa kebudayaan kuno seperti Mesir, American Indian, dll menuliskan bahwa pada masa yang lalu pernah terjadi banjir besar yang ditandai terlebih dahulu oleh datangnya jelmaan dewa yang berupa burung Phoenix (burung api) dari langit, membara apinya dengan ekornya yang panjang. Apakah itu gambaran dari komet? Silakan anda melakukan research sendiri.

Komet yang menumbuk es, es akan terangkat ke udara dan menjadi hujan deras yang terus menerus (mungkin minggu, bulan atau tahun, kita tidak tau). Dan air yang mengalir ke laut di seluruh bumi menyebabkan sebagian daratan terendam air. Paparan Sunda tenggelam.


Kembali ke Konferensi

Presentasi Pak Danny terbagi dua bagian. Satu bagian awal adalah mengenai penelitiannya di situs megalitik Gunung Padang, dan yang kedua adalah mengenai Peradaban manusia masa lalu (sebelum es mencair) dan Atlantis. Seru sekali menyaksikan ini semua. Saya sempat merekam hampir seluruh presentasi beliau. Pak Danny juga menunjukkan foto-fotonya saat berkunjung ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengundang banyak pertanyaan. Seperti situs megalitik di Sulawesi yang gambarnya saya muat di artikel sebelumnya (Part 2). Beliau juga mengajukan tatanan garis waktu sejarah manusia yang baru. Pak Danny pun menutup presentasinya, dan saya pun mematikan alat perekam video saya.

Pak Danny mengambil air di sebelahnya dan meminumnya. Lalu ia melihat sesaat ke arah audience. Ia menekan tombol clicker, lalu layar berganti slide di hadapan kita, tampak satu peta besar yang terdiri dari dua daratan. Satu di kiri atas, yang satu di kanan bawah. Keduanya terpisah oleh lautan. Saya mengenali gambar itu! Namun ada yang lain. Jika Pak Dhani Irwanto mengusulkan teorinya bahwa kota Atlantis berada di laut jawa (yaitu laut antara Jawa dan Kalimantan), maka ia mengusulkannya di lokasi yang berbeda. Gambar ini adalah gambar hasil pemindaian permukaan dasar laut yang dilakukan tim eksplorasi penambangan dengan alat khusus guna mencari sumber mineral di laut. Namun terdapat kejanggalan. Dasar laut seperti terpotong oleh garis potong yang lurus sempurna dan terdapat potongan-potongan lain yang melintang terhadapnya, membentuk sudut (sepertinya) sempurna 90 derajat.

Gambar tersebut tidak sengaja didapat karena tim sedang memindai dasar laut. Kemudian setelah ditunjukkan dan dikaji oleh tim, salah seorang diantara mereka bertanya, "Ini dermaga (sea port) dimana? Apakah bekas buatan Belanda (di zaman penjajahan Belanda dulu)?"

Saya terperanjat, dan hanya mampu melongo dengan mata terbelalak serta mulut terbuka (saya benar-benar melongo, bukan kiasan). Badan saya merinding. Saat itu sedang hujan, tetesan air hujan yang semakin deras seperti menikmati - seperti meledek suasana hati saya yang sedang terpaku itu. Pak Danny lalu menekan tombol clicker, gambar hilang dari pandangan dan presentasi pun berakhir. Beliau memang tidak ingin membuka topik ini lebih lama, ia juga tidak memberitahukan dimana lokasi tersebut, dan sengaja ia tampilkan hanya sesaat. Saya tidak sempat bergerak, terpaku, dan lupa untuk merekamnya! Pikiran saya seperti diaduk-aduk. Luar biasa! Saya ingin melihatnya lagi!

Saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya lihat. Saya coba untuk menggambarkannya agar pembaca mengerti apa yang saya maksud. Kira-kira seperti ini;





The Surviving Knowledge 

Kembali ke awal dari tulisan ini, setelah dari konferensi kami pun kembali ke hotel. Di sana kami berkumpul lagi di cafe hotel itu dan saya duduk di depan Pak Danny, yang langsung saya serang beliau dengan berbagai pertanyaan yang masih seperti bara panas di kepala saya. Terutama satu pertanyaan penting, "Pak Danny, saya tau dimana lokasi itu! Lokasi itu adalah Selat Sunda!" Pak Danny tersenyum lalu menjawab, "Ternyata ada yang tau ya."

Sangat luar biasa! Satu lagi petunjuk adanya struktur buatan manusia yang tenggelam di dasar laut. Daratan di kiri atas adalah pulau Sumatera, dan di kanan bawah adalah pulau Jawa. Laut diantaranya adalah Selat Sunda.

Selat Sunda pada masa YD adalah wilayah daratan kering yang berbatasan dengan laut di selatannya. Dan di sana pernah dibangun pelabuhan besar yang membentang dari Jawa ke Sumatera. Struktur itu sekarang sudah berada di dasar laut. Sewaktu Belanda dan negara-negara Eropa datang ke Indonesia di masa kolonial, Selat Sunda sudah menjadi Selat Sunda, sudah sebagai lautan. Jadi tidak mungkin mereka yang membangunnya.

Saya rasa cukup sulit kita mengesampingkan bukti-bukti kuat seperti yang saya utarakan di atas, yang menunjukkan pernah adanya suatu peradaban maju di wilayah negara kita ini. Siapakah mereka? Bagaimana penghidupan mereka?
Apakah mereka itu kaum Atlantis seperti yang dikatakan Plato? Dan apakah nama asli dari Atlantis adalah "Sunda"?
Anyway, anda bisa melupakan mengenai Atlantis ini dulu. Yang jelas, ada peradaban manusia sebelum banjir besar di wilayah ini!

Saya tersenyum kepada Pak Danny dan Kang Uce yang berada di sampingnya. Dalam hati saya berkata, "Ayolah kita gali lebih jauh lagi... sekarang kan sudah bukan forum resmi.." Maka saya beranikan bertanya lebih lanjut kepadanya. Saya bertanya mengenai adanya tanda-tanda, apapun itu bentuknya seperti legenda, kepercayaan, mitos atau kebiasaan, atau lainnya, yang merupakan pengetahuan yang terwarisi atau terselamatkan dari peradaban masa lalu itu. Saya yakin ia tau sesuatu. Saya hanya harus bisa meyakinkan beliau untuk membuka pengetahuan itu kepada saya.

Saya ingin mengangkat satu cerita. Cerita ini saya pilih karena saya mendapatkan cerita yang sama dari dua sumber yang berbeda dan dapat dipercaya.
Di pedalaman wilayah Jawa Barat, terdapat satu suku yang memilih hidup jauh dari teknologi. Mereka menolak TV, radio, dan perangkat elektronik apapun. Mereka mengisolasi diri dari manusia luar. Yang menarik perhatian saya adalah mereka mempunyai kepercayaan bahwa nenek moyang mereka adalah seekor anjing. Di masa lalu ada seorang putri manusia yang cantik yang menikahi seekor anjing. Sang putri melahirkan anak dan dari anak itu lahirlah seluruh keturunan manusia. Mirip seperti cerita legenda Sangkuriang khas Jawa Barat yang sudah kita kenal baik, bukan?

Pak Danny melanjutkan ceritanya bahwa tokoh anjing di dalam cerita ini yang dipercaya sebagai nenek moyang mereka, bukanlah hewan anjing biasa, melainkan sebutan untuk suatu gugus bintang di langit. Saya tidak pernah tau ada gugus bintang berbentuk anjing. Ataukah ada? Apakah ini penamaan lain dari gugus bintang yang sudah kita kenali?

Saya pun mencoba menceritakan ini kepada DR Carmen. Carmen mengatakan bahwa bintang Sirius adalah bintang yang selalu mengikuti matahari kita. Bahkan ia menjelaskan bahwa sesungguhnya Sirus dan matahari adalah satu sistem binary bintang yang saling mempengaruhi satu sama lain. 

Dalam presentasinya, DR Carmen menunjukkan kepada kami bahwa bintang Sirius sangat penting artinya bagi bangsa Mesir Kuno. Tidak hanya karena ia dianggap sebagai lambang dewi Isis dan tempat lahirnya dewa Horus, tetapi juga karena Sirius jika dilakukan pengamatan melalui software Starry Night Pro di komputer, selalu berada di titik tengah, sebagai pusat dari semua perhitungan astronomi jika dipandang dari bumi. Hal ini disebabkan dan membuktikan karena Sirius merupakan kembaran atau bagian dari binary system tata surya kita, yaitu Sirius dan matahari kita.

Bintang Sirius selalu tampak senantiasa mengikuti matahari dengan setianya, maka bintang Sirius disebut juga "The Dog" star.

Adanya suatu suku di pulau Jawa yang memiliki kemiripan kepercayaan dengan bangsa Mesir kuno di Afrika utara, menurut saya terlalu aneh jika dikatakan sebagai kebetulan belaka. Menurut saya keduanya merupakan pengetahuan yang berupa warisan dari peradaban manusia yang hidup di zaman sebelum es mencair (the Surviving Knowledge).

Apakah masih ada cerita lainnya? Masih.
Tapi saya ingin memberikan kesempatan kepada anda untuk merenungkan dan memikirkannya sendiri. Lakukanlah research. Saya hanya Penyampai Pesan.



Bersambung ke Part 4

================
ER

Tidak ada komentar: