Senin, 14 Desember 2015

The New Atlantis







Part 4

Edisi 1


          "Akulah satelit yang arahkan liarmu
          Kaulah ombak yang terus mengikis karangku
          Gores luka membujur tubuh
          Punyaku bukanlah milikku
          Biarkan saja agar segera berlalu"

          "Penyampai Pesan", Opay, De Grote Postweg


Jakarta

Saya tiba di rumah hari rabu, pukul 1 pagi. Terima kasih kepada Chris Yusuf yang memberikan tumpangan kepada kami dari Bandung. Saya beristirahat selama satu hari. Semua barang bawaan sudah saya kembalikan ke tempatnya, tas sudah saya simpan kembali ke lemari. Saya masih melakukan kontak dengan Bruce dan DR. Carmen melalui SMS, Whatsapp dan Facebook Messenger. Bruce dan Carmen melanjutkan perjalanan mereka ke Jawa Tengah, tepatnya ke Yogyakarta untuk mengunjungi sekaligus meliput beberapa situs di sana, seperti candi Boroudur, candi Prambanan, dan candi Sukuh. Sebelum mereka berangkat, Hilmy sudah mengkontak teman kami yang tinggal di Yogyakarta yang bernama Donny Surya Megananda, untuk bisa memberikan bantuan logistik kepada tim Bruce dan Carmen. 

Donny bertemu Carmen dan Bruce di hotel di Yogyakarta malam harinya (hari Rabu). Donny mengirimkan saya foto dari sana. Tampak di sebelah kiri bawah adalah Donny. ia membawa serta dua orang temannya. Dan ternyata mereka adalah anggota dari group Turangga Seta, sebuah perkumpulan pemerhati sejarah kuno Indonesia. 

Carmen mengirim pesan ke saya menceritakan pertemuannya dengan tiga orang tamunya itu, dan menanyakan pendapat saya mengenai beberapa berita yang mereka bawa. Mereka merekomendasikan kepada Carmen untuk mengunjungi beberapa situs yang mungkin akan menarik perhatian Carmen. Saya berkata kepada Carmen untuk mencoba mengunjungi situs-situs itu selagi ia berada di sini, di Indonesia. Selain Sukuh, adalah candi Penataran di Blitar, Jawa TImur. Mengapa menarik? Karena ada beberapa relief-relief pada candi-candi itu yang out of place, atau "tidak pas".

Pembicaraan kami selesai hingga di situ. Saya kembali menikmati hari cuti terakhir saya. Lalu beberapa jam kemudian di hari yang sama saya menerima SMS dari Bruce. Ia menyampaikan pesan dari Carmen yang menawarkan saya untuk menemaninya ke Blitar, dan membantunya meliput video di sana. Saya masih ingat kalimat di SMS Bruce, bahwa Carmen menginginkan saya menjadi Field Producer untuk film terbarunya itu.

Saya tertegun. Tidak percaya dengan apa yang saya baca. Saya? Field Producer? Setelah berpikir dan membicarakannya dengan istri, keesokan harinya (Kamis), saya kirim jawaban kepada Bruce dan Carmen bahwa saya menerima tawarannya!

Tetapi ada sedikit masalah. Saya hanya bisa berangkat hari Jumat sore dan tidak ada pesawat langsung ke kota Malang. Saya harus ke Surabaya dulu, baru ke Malang. Saya sempat mengatakan kepada Carmen bahwa saya mungkin akan batal pergi. Saya berbicara dengan Carmen via Skype call. Carmen terdengar sudah menerima kemungkinan akan batalnya rencana saya. Namun beberapa menit kemudian Bruce mengirim SMS lagi mengatakan sesuatu yang bunyinya kira-kira seperti ini; "This is a chance of a life time, man!"  Peristiwa yang kocak...

Saya menelpon seorang yang sangat saya hormati dan sayangi. Dia adalah seorang Penyampai Pesan. Sama seperti saya. Dan saya telah dibimbing olehnya dalam banyak hal yang berhubungan dengan spiritual. Dia tinggal di Surabaya. Dan dia mendukung saya untuk berangkat. Ini karma saya, dan saya harus menyelesaikannya (Punyaku bukanlah milikku, Biarkan saja agar segera berlalu)Saya pun segera membeli tiket, memesan kamar hotel di Malang, dan mengambil kembali tas yang sudah masuk ke dalam lemari. Jumat siang saya berangkat.


Surabaya, Jawa Timur

Saya tiba di Surabaya, pukul 5.30 sore. Sang adik sudah menjemput saya di bandara Juanda. Perjalanan ini memang harus ada dia di dalamnya. Tidak mungkin terjadi dengan cara lain. Kami pun menyempatkan melepas rindu dan berbincang-bincang di sebuah rumah makan. Terjadilah ritus, pertemuan dua leburan ombak energi, sangat damai dan indah. Dialah sang Penyampai Pesan, dan saya meneruskannya.

Satu hal yang pernah dikatakannya kepada saya dulu, bahwa pencarian saya akan membawa saya kembali ke tanah ini. Di sini ada jawabannya. Karena memang di sinilah asal semuanya.

Dia mengantarkan saya sampai ke terminal bus, dan saya melanjutkan perjalanan saya ke kota Malang.


Malang dan Blitar, Jawa Timur

Saya tiba di hotel, di Malang pukul 10 malam. Saya langsung masuk ke kamar dan beristirahat. Esok paginya saya bertemu DR Carmen di restoran untuk bersarapan bersama. Ia memeluk saya erat dan tidak percaya bahwa kami bisa bertemu kembali. Seperti yang pernah ia katakan kepada saya, "...divine timing."

Kami pun menyewa mobil beserta supirnya, dan berangkat ke Blitar, ke candi Penataran, pagi itu juga.

Kami tiba di candi Penataran pukul 11 siang. Kami menggotong peralatan kami, berjalan menuju candi. Cuaca sangat bagus dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Kami meminta seorang pemandu untuk menceritakan kepada kami mengenai sejarah candi ini. Candi Penataran, atau nama aslinya candi Palah, dibuat di masa kerajaan Kediri sekitar tahun 1194 CE (Common Era, Masehi). Candi ini dibangun di dekat gunung berapi Kelud, yang menurut cerita rakyat, adalah selain untuk melakukan ibadah, juga menjaga hubungan baik dengan gunung Kelud agar tidak meletus. Hal ini disyiratkan di dalam sebuah prasasti yang ada di kompleks candi itu, yang dinamakan Prasasti Palah.
Prasasti Palah adalah prasasti yang dibuat oleh Raja Srengga dan ditemukan di halaman candi Penataran berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi menerangkan bahwa “menandakan Kertajaya berbahagia dengan kenyataan tidak terjadi sirnanya empat penjuru dari bencana” dari kalimat ”tandhan krtajayayåhya / ri bhuktiniran tan pariksirna nikang sang hyang catur lurah hinaruhåra nika”. Rasa senangnya tersebut kemudian dia curahkan dengan perintah dibangunnya prasasti yang tertulis dalam sebuah linggapala oleh Mpu Amogeçwara atau disebut pula Mpu Talaluh. Bangunan tersebut dia fungsikan untuk menyembah Bathara Palah, seperti yang tertuang dalam prasasti tersebut yang beerbunyi “sdangnira Çri Maharaja sanityangkên pratidina i sira paduka bhatara palah” yang berarti “Ketika dia Sri Maharaja senantiyasa setiap hari berada di tempat bathara Palah”.
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Penataran) 

Penggunaan candi sebagai tempat ibadah diteruskan dalam masa kerajaan Majapahit dan dilakukan perluasannya pada tahun 1415 CE. 

Pada halaman utama, terdapat relief yang menceritakan kisah dua saudara yang sama-sama melakukaan pertapaan di hutan. Saya tidak akan menceritakan dengan lengkap di sini, karena akan menjadi sangat panjang. Anda bisa membaca cerita ini di Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Penataran).



Yang menarik perhatian adalah pada bangunan candi utama, di halaman belakang kompleks candi ini. Struktur yang tersusun dari batu Andesit vulkanik itu terdiri dari tiga tingkat. Pada tingat pertama, di sekelilingnya terdapat relief yang mengangkat cuplikan kisah dari Ramayana. Pada tingkat kedua, terdapat relief yang mengangkat cuplikan kisah Mahabarata.

Saya dan DR Carmen
Kita langsung pada tingkat kedua ini yang dikatakan adalah relief dari kisah Mahabarata. Mahabarata adalah cerita yang sangat panjang, jadi tidak mungkin diukir seluruhnya pada dinding candi ini. Kisah yang diangkat adalah mengenai dewa Krishna yang ingin mempersunting dewi Rukmini namun tidak disetujui oleh saudara Rukmini yang kemudian mencoba menghalangi persuntingan itu dengan cara mendatangkan pesaing calon suami bagi Rukmini. Dikisahkan Rukmini meminta Krishna untuk menculiknya sehingga mereka bisa menikah di tempat lain.

Saya mengikuti cerita yang terukir pada dinding candi. Dari kiri ke hingga mengelilingi dinding candi. Namun saya merasakan ada yang janggal pada relief ini. Apakah karena saya tidak terlalu paham akan kisahnya, ataukah memang ada yang janggal pada relief ini. Yang saya lihat adalah sebuah kisah perjalanan. Dan di akhir relief terdapat pertemuan berbagai kultur manusia. Saya tidak akan mengambil kesimpulan apapun. Saya akan menunggu film dari DR Carmen dan menyaksikan bagaimana ia meramu dan menyajikan hipotesanya sendiri.


Perhatian saya tertuju pada hiasan kepala (head dress) yang terlihat pada relief/fresco di atas.
Hiasan kepala mereka apakah berasal dari kebudayaan yang ada di Nusantara ini?
Juga perhatian tertuju pada perisai dan pedang mereka.

Perhatikan hiasan kepala dan bentuk muka dari figur di atas.
Apakah ras Asia? Ataukah Maya, atau The Sea Peoples? atau lainnya?


Kiri: Apakah itu pohon kaktus? Kanan: mengingatkan pada... Olmec?

DR Carmen selalu mengingatkan kepada saya untuk menghindari pengambilan kesimpulan yang terburu-buru atau mengemukakan pendapat yang tidak didasari penelitian dengan menggunakan metode ilmiah yang baik. Apalagi mengatakan bahwa temuan kita adalah yang benar dan tidak memberikan ruang bagi teori lainnya untuk berkembang. Tindakan seperti itu hanya akan mengubur diri sendiri. Pekerjaan kami di sini adalah mengumpulkan data, bukan menarik kesimpulan. Tetapi tentu saja saya boleh berbicara bebas dengannya (off record) mengenai dugaan-dugaan liar seputar apa yang kami lihat di candi Penataran ini. Namun maaf, saya tidak akan menuliskannya di sini.

Saya dapat membayangkan dan bertambah respect saya terhadap DR Carmen Boulter, karena ia seorang diri berdiri di dua pijakan. Satu pijakan di sisi keilmuan main-stream dan pijakan yang lain ada di sisi non main-stream. Saya pernah berkata padanya yang menyayangkan diri saya sendiri tidak mengambil jurusan Archeology melainkan Civil Engineering sewaktu masih belia dulu. Namun Carmen segera menepis perkataan saya dengan jawabannya yang encouragingArcheology adalah ilmu yang terlalu kaku, ini sebabnya ia mengambil PhD dalam bidang Linguist.

Jadi, menurut saya, siapa pun bisa terjun melakukan penelitian sejarah manusia asalkan ia memakai metode ilmiah yang baik, ditunjang data yang cukup dan analisa yang meyakinkan. Karena justru dengan memiliki latar belakan keilmuan selain Arkeologi, kita bisa meyumbang pemikiran-pemikiran dan pandangan baru yang tidak didapat oleh Arkeolog. Semua bidang ilmu seharusnya bergabung bersama dalam melakukan penelitian sejarah manusia. Kita membutuhkan Archeologist (Seperi DR Carmen), AnthropologistGeologist (Seperti DR Robert Schoch dan DR Danny Hilman), Linguist (Seperti DR Carmen), Astrotnomist, Astrologist, Egyptologist, Engineer (Seperti Robert Bauval), Mathematician (Seperti R.A. Schwaller de Lubicz), Physicist, AstrophysicistCosmologistJournalist dan independent researcher (Seperti Graham Hancock, John Anthony West, Dhani Irwanto), dan lain-lainnya. 

Saya meliput video sebanyak-banyaknya dari berbagai sudut. Sesekali kami berteduh di bayangan candi, menghindari teriknya matahari yang semakin tergelincir ke Barat, sambil merenung dan berdiskusi mengenai implikasi apabila dugaan kami benar. Misalnya, jika dugaan bahwa relief candi di lantai dua itu menceritakan tentang perjalanan ke luar dan bertemu kebudayaan lain di belakan bumi yang lain. Tentunya bukan masyarakat kerajaan Kediri yang diceritakannya. Candi Penataran bukanlah struktur kuno seperti Situs Gunung Padang. Candi Penataran tergolong baru. Maka mengapa masyarakat kerajaan Kediri yang membangun candi ini mengukirkannya di sini? Apa alasannya? Apakah mereka berusaha mengabadikan suatu pengetahuan yang mereka terima dari nenek moyang mereka? Siapakah nenek moyang mereka? Dugaan demi dugaan tidak akan ada habisnya. Datanya masih jauh dari cukup.

Kamipun melanjutkan pengambilan video dari udara dengan menggunakan quad-copter (drone). Jam menunjukkan pukul 3 sore, kami berkemas dan pulang ke Malang. Kami tiba di Malang pukul 6 sore, kembali ke hotel untuk membersihkan diri, lalu saya mengajak Carmen ke sebuah restoran untuk makan malam. Restoran Melati, Hotel Tugu, dengan museum koleksi pribadi pemilik hotel yang sangat legendaris. Tempat ini sangat spesial bagi saya, karena saya merayakan beberapa kejadian penting di hidup saya dengan makan bersama teman atau keluarga di restoran ini, 15-20 tahun yang lalu. Dan hari ini termasuk hari yang perlu dirayakan.

Keesokan paginya kami menghabiskan waktu di hotel. Saya memulai menuliskan kisah perjalanan ini di blog saya, (Part 1). Sementara Carmen memastikan jadwal perjalanan selanjutnya tersusun dengan rapih.

Kami berangkat bersama ke kota Surabaya dengan kereta api dari Stasiun pusat kota Malang. 2 jam kemudian kami turun di stasiun Gubeng, Surabaya. Di sana sudah menjemput, sang adik saya beserta istri dan putrinya. Kami makan malam bersama, kemudian berpisah di bandara Juanda. Carmen melanjutkan perjalanannya ke Bali sebelum kemudian kembali ke Canada untuk melakukan post-production filmnya.

Saat berpisah, Carmen membisikkan ke telinga saya sesuatu yang tidak akan saya lupakan selamanya, karena saya selalu merenungkannya sejak itu. Sampai sekarangpun.


The New Atlantis?

Kita sudah tiba di penghujung tulisan ini. Tiba bagi saya untuk merenungkan satu per satu implikasi dari apa yang saya terima dari perjalanan ini.

Memang ada peradaban di masa lalu sebelum banjir besar. Saya rasa arah penelitian arkeologi dan sejarah kita mengarah pada temuan bukti-bukti yang menguatkan adanya peradaban tersebut. Bukti-bukti atau petunjuk-petunjuk yang ditemukan itu juga merujuk pada indikasi kuat bahwa peradaban lampau itu musnah karena bencana besar yang besifat global - terjadi di seluruh wilayah bumi.

Ada berapa banyak peradaban di masa lalu? Saya mengusulkan ada 4 karena berkesesuaian dengan paling tidak 2 sumber pengetahuan, yaitu teks di kitab suci Quran, dan teks bangsa Maya kuno. Saya bisa saja salah, ini adalah teori saya. Dan saya terbuka terhadap teori lain jika memang lebih baik.

Seberapa jauh di masa lampau kebudayaan pertama itu? Kita mendapatkan angka 800,000 tahun, yang didapat dari penelitian terhadap usia batu pembentuk Sphinx dan dinding batu yang mengelilinginya. Namun kita masih harus menunggu bukti-bukti lainnya seiring perkembangan penelitian yang dilakukan manusia. Terus terang saya tidak berani berpikir terlalu jauh, seperti 800,000 tahun.

Peninggalan-peninggalan peradaban lampau yang berupa sruktur-struktur dari bebatuan mungkin telah mengalami perbaikan yang dilakukan peradaban-peradaban lalu. Seperti halnya patung Sphinx itu sendiri, yang telah mengalami renovasi dan pengukiran ulang pada wajahnya selama kurun waktu ribuan tahun. Jadi kita menghadapi situs-situs pra-sejarah yang sudah tertumpang tindih oleh peradaban satu dan peradaban lainnya searah waktu zaman dalam rentang garis sejarah yang panjang (ribuan hingga puluhan ribu tahun).

Peradaban lalu itu masing-masing musnah dikarenakan bencana alam yang bersifat global - terjadi di seluruh planet bumi ini. Seperti banjir besar, gempa bumi, dll. Kandidat penyebab beberapanya adalah jatuhnya komet, Solar Flare, dan ledakan gunung berapi, seperti Gunung Toba di Sumatera Utara yang pernah meletus sekitar 70,000 tahun BP.

Jika kita menyempitkan lingkup bahasan pada peradaban terakhir sebelum peradaban kita sekarang ini, kita menduga banjir besarlah yang telah menyapu peradaban tersebut. Dan ini sesuai dengan kisah yang terdapat di berbagai teks di banyak kebudayaan di bumi. Teks di kitab Taurat, Injil dan Quran yang mengisahkah banjir besar yang dialami oleh Nabi Nuh dan umatnya, lalu teks bangsa Sumeria, Maya, Inca, kisah dari beberapa suku Indian Amerika, dan lainnya yang menyinggung bencana serupa. Juga ditunjang bukti-bukti mencairnya es dalam jumlah sangat besar di akhir masa Younger Dryas. Dan jika boleh saya menambahkan, juga kisah benua yang tenggelam dari Plato, Atlantis.


Surviving Knowledge?

Sewaktu bangsa Spanyol datang ke dunia baru, Amerika selatan, mereka bertemu bangsa Aztec. Dan mereka melihat banyaknya bangunan-bangunan besar di dunia baru itu. lalu bertanya kepada pemimpin bangsa Aztec, "Kaliankah yang membuat bangunan-bangunan itu?" Sang pemimpin tertawa sambil menjawab, "Bukan!, para dewa yang membuatnya, di masa lalu sebelum moyang kami datang ke tanah ini!".

Bangsa Maya mengenal sesosok dewa yang bernama, Quetzalcoatl. Quetzalcoatl dikisahkan adalah dewa yang datang dari laut setelah bencana banjir besar melanda dunia, Quetzalcoatl datang dengan kapal tanpa dayung, dengan buih-buih air di kakinya. Quetzalcoatl datang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada bangsa Maya kuno. Mengajarkan bertani, bercocok tanam, dan lain-lain. Quetzalcoatl juga disimbolkan dalam wujud ular bersayap. Mirip dengan simbol yang digunakan oleh bangsa Mesir kuno.

Bangsa Inca juga mengenal sosok dewa yang bernama Viracocha. Viracocha adalah dewa yang juga datang dari laut setelah bencana banjir besar melanda dunia. Viracocha  disebut juga the White God, karena kulitnya putih dan memiliki janggut berwarna putih. Viracocha mengajarkan ilmu pengetahuan kepada bangsa Inca, bertani, bercocok tanam, dan lain-lainnya. 

Bangsa Sumer kuno dalam mitosnya juga mengisahkan adanya banjir besar yang parallel dengan kisah Nabi Nuh. Bahkan diduga kisah mengenai banjir besar di dalam kitab-kitab keturunan Ibraham berasal dari mitologi bangsa Sumer ini.

Bangsa Mesir kuno memiliki kepercayaan; Di awal waktu, hanya ada lautan. Kemudian muncul pulau daratan (the Mound of creation). Di atasnya berdirilah sosok dewa pencipta, Atum Ra. Lalu seekor burung phoenix (burung api) terbang dari pulau itu, menyebarkan benih-benih kehidupan.

Bagaimana dengan bangsa Nusantara ini? Adakah yang bisa kita pelajari dari budaya dan mitologi bangsa kita yang mungkin merupakan pengetahuan peninggalan peradaban manusia sebelum banjir besar? Tentu saja! Dan jika kita gali lebih dalam, kita akan menemukannya dalam jumlah yang tidak sedikit dan saling berhubungan. Seperti apa yang dipesankan oleh Sabdo Palon dan Nayo Genggong. Alam kita adalah suci dan hidup, Kita berdiri di atas pangkuan Ibu Pertiwi dan bernaung di bawah Bapak Langit. Keduanya sedang prihatin melihat kita. Apa yang harus kita lakukan?

Saya berharap akan ada lebih banyak manusia-manusia kini yang terbuka indera ekstra-nya dan terpanggil untuk meneliti, mencari, menggali pengetahuan yang tersembunyi itu. Dan pencarian itu dimulai di sini, di wilayah Nusantara ini. Sangat kuat dugaan bahwa di sinilah peradaban terakhir itu berpusat. Dari sinilah asal usul Vedic Culture and Aksara Sanskrit. Di sinilah pencatatan pengetahuan dimulai.


~~~~~~~~~~~~~~


DR Carmen mengatakan kepada saya bahwa tujuan ia membuat film "The Pyramid Code", adalah untuk membuka indera tersembunyi orang-orang yang menyaksikannya. Film ini sarat akan pesan-pesan tersembunyi. Sebuah katalis bagi manusia untuk membuka diri ke ranah jelajah baru. Sesuatu yang ia sebut dengan "The High Level Initiates"


~~~~~~~~~~~~~~


Mereka adalah manusia. Mereka adalah manusia yang sama dengan kita. Sejak terciptanya mereka telah mengalami jatuh-bangunnya tingkat kesadaran, seiring dengan siklus alamiah presessi bumi dan langit. Mereka adalah manusia-manusia yang mengalami bencana besar, dihapuskan dari muka bumi, untuk kemudian memulainya lagi dari awal.

Apakah penyebab sesungguhnya dari bencana besar itu? Adalah manusia. Manusia adalah pusat dari alam semesta. Manusialah yang menarik pergerakan benda-benda langit. Dan manusia pulalah yang menarik benda langit ke bumi ini dan ia mengatakan kepada seluruh manusia, "Aku datang atas undanganmu."

Manusia adalah dewa-dewa yang disembah oleh generasi selanjutnya. Mereka adalah The Archetypes.

Sebagian dari mereka adalah manusia-manusia yang tercerahkan, mereka bersiap untuk menjadi apa yang disebut sebagai "The Ascending Masters". Mereka menerima kedatangan bencana dengan kelapangan nurani. Karma harus diselesaikan. Tidak ada cara lain, karena ia adalah bagian dari alam juga. Sedangkan sebagian yang lain sudah sangat terpuruk dan tidak mungkin terhindar dari bencana yang akan datang. Telinga, mata, dan hati mereka sudah tertutup.

Ascending Masters mempersiapkan pengetahuan yang akan mereka turunkan untuk manusia siklus berikutnya. Mereka melakukan penyebaran ke berbagai penjuru bumi. Menanamkan benih-benih pengetahuan suci itu ke dalam berbagai wujud dan berbagai dimensi. Semuanya alamiah. Bumi dan langit merupakan konstruksi yang alamiah yang ada karena manusia. Dan manusia ada karena suatu kehendak. 

Sebagian dari Ascending Masters mempersiapkan bahtera besar untuk menyelamatkan sebentuk lain dari pengetahuan suci mereka. Ia adalah segelintir yang meninggalkan Ante-diluvian world dengan selamat menuju the new world - dunia yang baru. Dan mengajarkan kepada manusia selanjutnya benih-benih pengetahuan suci secara fisik.

Ascending Masters mengucapkan salam perdamaian terakhir mereka. Merekapun meninggalkan dunia lama. Sebagian dari mereka kembali ke dunia baru - terlahir menjadi manusia di dunia baru ini, yang suatu saat akan membangkitkan ingatan akan eksistensi mereka, serta menyemai benih-benih pengetahuan yang dibawanya.

Peristiwa itu berulang sejak dimulainya sejarah manusia. Tidak ada yang tau berapa kali terjadinya di masa lalu, dan akan terjadi berapa kali lagi di masa depan. Mereka adalah the archetypes, the gods, the ascended masters, the magicians, the knowledge seeders. Dan mereka ada di sini, bersama kita.


Be High Level Initiates. Look for them.
Open up to receive their seeding knowledge.
What you have to do is "Knowing".


================
ER


Tidak ada komentar: