Sabtu, 12 Desember 2015

The New Atlantis






Part 2

Edisi 1



Tentu semua yang saya ketahui mengenai sejarah peradaban manusia sebelum banjir besar (Pre-flood civilization) adalah teori. Namun teori adanya peradaban tersebut tidak mungkin kita kesampingkan begitu saja karena petunjuk-petunjuknya sangat jelas, banyak, dan kuat.

DR. Carmen menceritakan kepada saya bahwa kita tidak hanya membicarakan peradaban manusia yang ada sekitar masa Younger Dryas atau Pre-flood, tetapi juga adanya peradaban manusia sebelum itu. Seperti siklus presessi, peradaban manusia juga mengalami jatuh-bangun. Sebuah peradaban dimulai dari masyarakat nomad hidup di gua-gua, hunter gatherer, kemudian berkembang dalam pengetahuan pertaniannya dan hidup menetap, berkumpul dan membentuk negara dan kerajaan, berkebudayaan, berkembang dari segi teknologi, kemudian musnah karena bencana alam yang besar. Lalu seperti di-reset kembali mengulang dari awal. Begitu seterusnya sejak zaman yang sangat lampau (Kita berbicara pada rentang waktu puluhan ribu tahun hingga ratusan ribu tahun), hingga yang terakhir yang berakhir pada banjir besar di akhir Younger Dryas. Di-reset kembali dari nol, yaitu peradaban kita sekarang ini. Manusia seperti mengalami amnesia, lupa akan masa lalu kita yang sudah mencapai peradaban yang sangat tinggi. Benarkah demikian? Apakah ada cara untuk mengakses memori masa lampau?

Sudah ada berapa banyak peradaban di masa lalu? Kita mungkin tidak akan mengetahuinya secara pasti, namun saya bisa mengangkat 2 argumentasi atau teori, sebagai berikut;

Pertama adalah dari pandangan kitab suci. Saya menemukan satu teks / surat yang menarik perhatian. Banyak pesan tersembunyi dibaliknya.


           "By the dawn
           and ten nights
           and the even and the odd
           and the night when it passes
           Is in that an oath for those who understand?
           Have you not considered how your Lord dealt with 'Aad
           Iram - who had lofty pillars,
           The likes of whom had never been created in the land?
           And Thamud, who carved out the rocks in the valley?
           And Pharaoh, owner of the stakes?
           whom oppressed within the lands
           And increased therein the corruption.
           So your Lord poured upon them a scourge of punishment."

          Al-Fajr: 1-13


Teks di atas berbicara mengenai peradaban manusia saat ini yang baru saja melewati titik terbawah kegelapan zaman, mulai beranjak menuju cahaya baru (Fajr). Ada sebanyak 10 zaman (and [by] the ten nights). Namun teks ini hanya menyinggung mengenai kejadian di masa lalu (and the night when it passes). Dan siapapun yang memahami ayat-ayat ini akan jatuh tulah padanya - semacam sumpah atau tanggung-jawab untuk menjaga pengetahuan ini dengan sebaik-baiknya (Is in that an oath for those who understand?).

Zaman atau peradaban pertama adalah yang disebut peradaban Aad. Lalu berganti dengan peradaban Iram. Iram adalah peradaban manusia yang membuat pilar-pilar besar yang belum pernah dibuat oleh siapapun sebelumnya. Kemudian peradaban Thamud, yang memahat, mengukir, memotong, bebatuan besar di lembah-lembah. Lalu peradaban Pharaoh (Firaun), yang memiliki pasak-pasak.

Tidak ada keterangan lebih banyak mengenai peradaban Aad. Lalu apakah yang dimaksud dengan "pilar-pilar" yang dibuat oleh peradaban Iram? Saya tidak ingin berspekulasi sampai saya menemukan yang paling mendekati, namun mungkin kita sudah pernah mendengar mengenai situs kuno di Baalbek, Puma Punku, dan lainnya yang terpampang di depan mata kita betapa besar ukuran batu (hingga 1000 ton per buah) yang telah dibentuk dengan sangat presisi dan diangkut dari tempat asalnya ke lokasi konstruksi bangunan-bangunan besar mereka. Bagaimana mereka memotong dan mengangkut bebatuan itu? Bahkan dengan teknologi tercanggih yang kita miliki sekarang, kita tidak bisa mengangkat batuan besar itu, atau membangun piramid, Tidak! Lalu apakah yang diketahui oleh nenek moyang kita yang kita tidak tau?

https://www.facebook.com/Calirera/media_set?set=a.10207811887159967&type=3



Lalu peradaban Thamud yang memahat, mengukir, memotong batu-batuan besar di lembah-lembah. Saya juga tidak ingin berspekulasi tanpa bukti yang baik, namun kita harus menemukannya terlebih dahulu yang memenuhi kategori ini. Lalu kita lanjutkan dengan membuat garis waktu (timeline) dan menempatkan mereka padanya dengan urutan yang sesuai dengan petunjuk atau bukti-bukti yang ada. DR Carmen berulang kali berkata kepada saya bahwa menyusun timeline baru harus dilakukan dan sangat penting artinya.

Kesemua peradaban tersebut telah mengeksploitasi alam secara berlebihan, serta korupsi dan tindakan-tindakan yang tidak baik di antara mereka. Lalu mereka musnah karena kelalaian mereka sendiri. Aad, Iram, Thamud, dan Pharaoh. Maka sudah ada 4 peradaban di masa lalu. Atau 4 malam. Maka kita sekarang ini adalah peradaban ke-5. 5 peradaban lain ada di masa depan.

Catatan: Saya sempat bertanya mengenai esensi dari peradaan ke-4 yaitu Pharaoh (Firaun) yang disebutkan itu. Dan menurut DR Carmen, dan saya setuju dengan pandapatnya, bahwa Mesir sejak era The Old Kingdom - sejak Dinasti Pertama sudah berada pada peradaban terakhir, peradaban kita, yang sudah tergelincir dari Golden Age sejak 11,000 tahun BCE (Before Common Era). Maka siapakah Firaun yang dimaksud di dalam teks di atas? Mereka adalah bangsa Mesir sebelum zaman es mencair. Dan mereka membangun pasak-pasak yang saya duga sebagai bangunan-bangunan besar yang tidak hanya menjulang di atas permukaan tanah, namun juga di bawah tanah. Dan inilah yang banyak ditemukan oleh arkeolog dan egyptolog dalam ekskavasi mereka di Mesir. Termasuk apa yang menjadi temuan baru DR. Carmen di situs Hawara, Mesir.

Yang kedua adalah dari teks kuno Bangsa Maya. Karena hal di atas sesuai pula dengan yang sudah dituliskan oleh bangsa Maya. Bangsa Maya kuno menuliskan bahwa sudah terjadi 4 matahari (Four Suns, atau 4 zaman) di masa lalu, dan kita ini adalah matahari ke-5 (the Fifth Sun). Mereka juga menuliskan bahwa setiap zaman hancur dikarenakan unsur alam yang berbeda-beda. Oleh Api, Tanah, Angin, dan yang terakhir atau zaman ke-4, adalah oleh Air - yaitu banjir besar. Mengenai hal ini diulas dengan cukup panjang oleh Graham Hancock dalam bukunya, "Fingerprints of the Gods".

Kembali kepada timeline. Jika kita tempatkan keempat peradaban di masa lalu tersebut pada sebuah garis waktu (timeline), maka seberapa jauh ke masa lalu kita harus memulai timeline kita? Untuk menjawab ini kita harus bertanya, adakah petunjuknya di bumi ini mengenai pernah adanya peradaban tertua tersebut? Adakah peninggalan mereka yang bisa kita taksir usianya?


Masalahnya untuk menjawab pertanyaan di atas adalah; masih banyak sekali permukaan bumi ini serta dasar lautan yang belum dijamah atau diselidiki oleh manusia. Penemuan situs Gunung Padang yang popularitasnya masih relatif baru, juga penemuan situs Gobekli Tepe di Turki, keduanya memutar-balikkan pengetahuan yang selama ini diakui oleh keilmuan main-stream. Kedua situs itu sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa di era tahun 10,000 BCE, manusia yang diyakini hidup di gua-gua dan menghabiskan seluruh hidup mereka untuk berburu hewan serta hidup berpindah-pindah tidak mungkin membangun situs seperti itu. Saya dan semua orang setuju bahwa hal itu memang tidak mungkin. Membangun struktur besar semacam Gunung Padang dan Gobekli Tepe memerlukan waktu dan banyak tenaga manusia dalam suatu organisasi yang di-manage dengan sangat baik. Untuk itu mereka tidak mungkin lagi hidup berburu. Mereka sudah harus menemukan cara bertani dan menyimpan hasil pertanian/makanan mereka untuk waktu lama sehingga bisa hidup menetap dan membangun komunitas besar.

Lalu, siapakah mereka itu? Sekali lagi kita dihadapi satu kemungkinan jawaban; bahwa struktur-struktur besar tersebut dibangun oleh suatu peradaban di masa lalu sebelum banjir besar. Silakan membaca buku Graham Hancock terbaru, "Magicians of the Gods". Di buku itu, Graham membahas mengenai situs Gobekli Tepe, Gunung Padang, Baalbek, dan lainnya, juga bagaimana kira-kira peradaban manusia sebelum banjir besar. Dan bagaimana banjir besar itu terjadi. Lalu ditambah lagi adanya upaya-upaya manusia kuno tersebut (yang ia simbolkan sebagai Magicians) dalam mewarisi pengetahuan mereka kepada manusia di peradaban selanjutnya, yaitu kita.

Apakah mereka memiliki ukuran tubuh yang sangat besar sehingga mampu mengangkut bebatuan masif itu? Dan apakah mungkin mereka telah menguasai ilmu/teknologi untuk melunakkan batu sehingga mereka mampu membentuk batu dengan sangat baik dan presisi? Apakah ada bukti ditemukannya manusia raksasa? Coba anda lihat video di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=G4m7BKrhxfY
Link ini saya dapatkan dari DR Carmen, dan jika anda perhatikan dengan seksama, ada potret DR Robert Schoch (Geologist) di dalamnya. Kedua ilmuwan ini merupakan ilmuwan penting yang sudah saya idolai sejak awal kiprah mereka. 

Catatan: DR Rober Schoch juga sudah datang ke Indonesia bersama Graham Hancock, mengunjungi situs Gunung Padang, Candi-candi di Jawa, ke lembah Bada di Sulawesi, serta melihat lukisan gua di Sumatera. Keduanya juga bertemu dan bepergian bersama DR Danny Hilman Natawidjaja.

Situs Gobekli Tepe, Turki
Dua situs tersebut; Gunung Padang dan Gobekli Tepe masih harus diikuti dan dilengkapi serta dibandingkan dengan temuan situs-situs lainnya, salah satunya adalah piramid besar di Bosnia. Tidak mungkin saya mengulas setiap situs kuno dengan detail di sini. Saya mengajak pembaca untuk melakukan pencarian / research sendiri di internet (yang termudah) mengenai situs-situs itu. Piramid Bosnia berukuran sangat besar dan memiliki terowongan-terowongan panjang di bawahnya, yang didalamnya ditemukan banyak bebatuan dengan perilaku, formasi, dan sifat-sifat khusus. DR Carmen sudah meliput piramid ini dan masuk ke dalam terowongan-terowongan itu. 

Saya mengambil ponsel saya lalu saya mencari di google dengan satu kata kunci, "Garut Pyramid", dan saya mendapatkan gambar-gambar Gunung Sadahurip atau lebih dikenal dengan Piramid Garut. Lalu saya menunjukkan gambar-gambar tersebut kepada DR Carmen. Beliau melihatnya dengan seksama, lalu berkata, "That's like Bosnian Pyramid!"

Kita memang masih harus mencari dan meng-explore bumi ini untuk petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan oleh peradaban masa lalu. Kita masih akan terus menemukan banyak situs-situs kuno di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang mulai menarik perhatian kalangan ilmuwan di seluruh dunia.


Kiri: Bosian Pyramid. Kanan: Garut Pyramid



Sumber foto: buku "Magicians of the Gods", oleh Graham Hancok. Foto oleh Santa Faiia.
 Foto Kiri: Kika: DR. Robert Schoch, DR. Danny Hilman Natawidjaja, Graham Hanckok, dalam kunjungan mereka ke situs Gunung Padang. Tampak DR Danny Hilman menunjukkan gambar yang sama yang ia tunjukkan kepada kami saat kunjungan kami.
Foto Kanan: Situs di Bada Valley, Sulawesi. Tampak patung megalitik yang fiturnya mirip dengan yang ada di Gobekli Tepe dan patung Moai di Easter island, yaitu kedua tangan patung yang menangkup di tengah perut. Bagaiman bisa semua patung yang berbeda lokasi itu bisa memiliki fitur yang mirip?


Menyusun timeline baru berarti menulis sejarah baru. Dan ini akan mematahkan apa yang sudah diakui oleh keilmuwan main-stream. Arkeolog mainstream berpegang teguh pada garis sejarah dimana 10,000 tahun BCE manusia masih hidup nomaden dari gua ke gua, dan berburu binatang. Manusia dengan peradaban tinggi baru muncul sekitar 6000 tahun BCE. Jadi semua struktur kuno yang ditemui haruslah berumur tidak lebih tua dari 6000 tahun BCE. Jika ada struktur yang setelah diteliti ternyata lebih tua, maka ia dianggap mustahil dan penelitian dianggap salah.

Prinsip yang selalu saya pegang adalah;
"Truth is not democratic." (John Anthony West, Robert Bauval)
Kebenaran yang hakiki bersifat absolut! Keberanan yang hakiki tidak bersifat demokratis. Kebenaran bukanlah dari keputusan bersama. Maka jika kebenaran membawa kita ke rentang waktu yang sangat jauh di masa lalu, maka kita harus mau membuka pikiran kita untuk mempertimbangkannya dan jika telah cukup bukti, menerimanya. Dan berarti keilmuwan main-stream harus mengalah. Untuk mendukung pembentukan timeline baru, kita harus menemukan lebih banyak lagi petunjuk-petunjuk di seluruh bumi, yang berupa struktur-struktur bangunan batuan tua.

Berita terakhir yang saya dengar dari DR Carmen adalah dari hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh periset asal Ukraina terhadap patung Sphinx di Mesir. Mereka mengatakan bahwa Seluruh dataran Giza (Giza plateau) pernah terendam air dalam kurun waktu yang sangat lama. Mereka mempelajari erosi (weathering) pada batu enclosure Sphinx yang tidak cukup hanya disebabkan oleh air hujan, seperti yang awalnya teori tersebut dicetuskan oleh DR Robert Schoch, namun juga karena terendam air cukup lama. Lalu, berapa tuakah usia Sphinx? Yaitu sekitar 800,000 tahun!

Hal ini membawa kita kembali kepada pertanyaan, Siapa yang membuatnya dan untuk apa? Apakah masih sebagai penanda zaman zodiac Leo (The Age of Leo)? Jika ya, maka tidak lagi 12,500 tahun yang lalu, melainkan 800,000 tahun? yang berarti juga 30 zaman zodiac Leo? 30 kali siklus presessi yang lalu?
Beritanya/laporannya dapat dibaca di sini: http://www.ancient-code.com/scientists-geological-evidence-shows-the-great-sphinx-is-800000-years-old/

Jika angka 800,000 tahun itu benar, maka kita harus pasang penanda pada timeline baru kita pada rentang 800,000 tahun. Maka 4 peradaban masa lalu memiliki pin waktu tertua yaitu di 800,000 tahun?

Saya juga ingin merekomendasikan kepada anda sebuah video yang patut ditonton. Silakan buka link ini: https://www.youtube.com/watch?v=kmBL75Yqfh0&index=74&list=FLf9b3cmR2ielgg658e-_sTw

Klaus Dona adalah seorang Kurator Museum dari Austria. Ia banyak mengulas artefak-artefak yang kontroversial. Reputasinya cukup baik. DR. Carmen sendiri mengatakan hal-hal yang baik mengenai Klaus Dona dan kiprahnya. Di dalam video itu ia menunjukkan artefak-artefak yang menjurus pada adanya peradaban yang sangat tua, termasuk Mu atau Lemuria, dan Atlantis. Klaus jugalah yang membantu DR Carmen dalam pemindaian dan pemetaan situs Hawara, Mesir.

Jika anda seperti saya, anda juga melakukan research pribadi, menyelami tumpukan buku, menonton banyak film dokumenter, mengikuti banyak wawancara dengan para pelaku, tentunya tidak akan melewatkan kisah mengenai Atlantis. Arah penelitian para researcher dunia juga membawa mereka membuka kembali naskah kuno Plato yang berjudul "Timaeus" dan "Critias". Termasuk juga bagi DR Danny Hilman dan Dhani Irwanto. Keduanya sudah menerbitkan buku yang mengulas mengenai Atlantis. Keduanya telah menterjemahkan dua naskah kuno Plato itu. Di dalam naskah tersebut, Plato mendeskripsikan dengan sangat jelas dan detail (seperti membaca buku panduan wisata) syarat-syarat alam atlantis, dari mulai lokasi geografisnya, kondisi alamnya, kondisi flora dan fauna, musim, termasuk jenis makanan. Dari semua syarat yang dituliskan, hanya ada satu tempat di bumi ini yang memenuhi 100% syarat itu, yaitu Sundaland.



Kiri: "Atlantis, The lost city is in Java Sea", karya Dhani Irwanto.
Kanan: "Plato Tidak Bohong" atau dalam versi Bahasa Inggrisnya berjudul, "Plato Never Lied", karya DR. Danny Hilman Natawidjaja




Bersambung ke Part 3


=============
ER

1 komentar:

Bambang Wijanarko mengatakan...

Luar biasa, senang sekali bisa mengerti kisah sejarah manusia di Bumi walaupun masih belum utuh benar ceritanya tetapi sudah mngundang decak kagum akan kebudayaan masa lampau yang sudah terindentifikasi. Sangat berterimakasih kepada mas Eri yang sudi berbagi di blog ini, agar kami yang tidak bisa ikut ekspedisi dan tidak punya kemampuan analisa artefak arkeology tetapi bisa menikmati cerita kesimpulannya.
Teruslah berbagi mas Eri, kami selalu menunggu tulisan baru anda dan semoga Tuhan YME memberikan pahala yang lebih kepada anda yang telah membuka pikiran kami.