Rabu, 24 Desember 2014

The Magician





Part 1

Edisi 1

"Truth is not democratic." (Robert Bauval)
"Kebenaran tidak bersifat demokratis"

Kebenaran yang hakiki bukanlah hasil dari keputusan demokratis yang dilakukan manusia. Kebenaran yang hakiki tidak diputuskan melalui pengambilan suara terbanyak. Kebenaran yang hakiki tidak berubah, absolut. Walaupun sejarah ditulis oleh sang pemenang dan selalu memihak kepada pemenang, namun kebenaran sejati akan selalu tetap tak berubah. Anda tidak bisa bertanya kepada orang lain yang sudah terkecoh oleh catatan sejarah semata. Dalam pencarian kebenaran yang hakiki, anda harus mencarinya kepada sang Kebenaran itu sendiri, yang harus diawali oleh keterbukaan pikiran tanpa batas, peningkatan tingkat kecerdasan dan tingkat kesadaran, peningkatan spiritual, mysticism, dan keterlepasan dari kemelekatan duniawi. Inilah sebuah pengetahuan suci mengenai kebenaran yang hakiki, yang terkubur, yang tersembunyi, namun selalu dijaga dan dihantarkan dari masa ke masa.
Oleh sang Penyihir.

Sungguh menarik perjalanan panjang dalam mencari kebenaran yang hakiki. Semula yang berawal dari pertanyaan yang membuka cakrawala baru melalui fisika, berlanjut pada cara spiritual yang meluaskan cakrawala tersebut, melihat dengan pandangan tanpa batas. Kemudian menyelam ke dalam samudera yang kedalamannya tak terhingga - sebuah ranah mistis penuh relung-relung misteri yang meliputi seluruh kejadian di alam semesta.

Di kedalaman samudera itu, terdapat sosok misterius yang menarik perhatian. Sebentuk pertanyaan mengenai asal-usul. Seperti ada bisikan di hati saya yang berbunyi, "Manusia adalah Misteri-Ku. Maka temukan Aku di dalam dirimu." Kalimat tersebut adalah sebuah petunjuk untuk menggali asal-usul manusia. Karena kebenaran yang hakiki juga harus meliputi atau selaras dengan sejarah 'kebenaran' itu sendiri. Dan manusia-lah pembawa kebenaran hakiki itu sejak 'awal'-nya.

'Awal' adalah perjalan ke masa lalu. Maka saya harus mencari di masa lalu untuk melengkapi pencarian saya. Dan di situlah saya bertemu dengan Sang Penyihir, The Magician.


The Beginning 

Sekali lagi saya ingin mengajak anda mengulas lagi mengenai sejarah Mesir Kuno. Adalah cukup mengejutkan dan saya harus menerima bahwa sejarah Mesir kuno jauh lebih tua dari apa yang dikatakan oleh para ahli Egyptologi modern. Bukan 4,000 atau 5,000 tahun SM. Tapi jauh jauh lebih tua dari itu. Bangsa Mesir kuno tidak lain adalah keturunan bangsa Khemit yang menempati daerah tropis subur yang luas (yang di namakan The Land of Khem) yang sekarang telah menjadi gurun Sahara. Sungai Nil mengalir di sana, yang sekarang telah berpindah (bermigrasi) sejauh 60 km ke Timur ke tempatnya yang sekarang. Perubahan dan migrasi yang terjadi selama puluhan ribu tahun.

Bangsa Khemit juga berasal-usul dari bangsa/kaum Suf yang sudah ada lebih dulu dari bangsa Khem. Sehingga kita bisa mengkaitkan posisi kaum Suf di dalam pita sejarah manusia, bahwa merekalah pemegang pengetahuan hakiki yang saya/kita cari selama ini.

Anda pasti bertanya, darimana saya mendapatkan kesimpulan ini? Apakah saya cuma mengada-ada saja?
Bagaimana bisa saya abdikan 20-an tahun hidup saya mencari kebenaran yang hakiki yang kemudian saya dengan mudahnya terpuaskan hanya dengan sebuah pengetahuan semu atau kebohongan?

Pada tanggal 13 Desember 2014 lalu, saya mengadakan acara nonton bersama film "The Pyramid Code". Pada kesempatan itu, saya berusaha menyampaikan pengetahuan dengan cara terbaik. Yaitu dengan film. Film berdurasi 3,5 jam ini tidak terlalu detail, namun sudah sangat baik dalam menghantarkan penontonnya untuk mengenal Mesir lebih jauh. Dan yang terpenting, menyampaikan pesan khusus di dalamnya mengenai asal-usul manusia, yang sesungguhnya.

Tentu saya tidak bisa mengharapkan penonton yang hadir memahami seluruh sejarah Mesir hanya dengen menonton film ini. Saya membaca banyak buku mengenai Mesir, dan hanya sekitar 10% yang ditampilkan di film ini. Dan tidak mungkin juga saya tuangkan semuanya di sini. Saya telah melakukan research literatur untuk memeriksa hipotesa saya. Dan apa yang saya temukan adalah sesuatu yang sungguh menggugah rasa takjub dan ingin tahu. Saya yakin saya berada di jalan yang benar.

Kembali kepada kaum Suf sebagai (salah satu, kalau tidak satu-satunya) bangsa tertua di bumi ini, yang menjadi cikal bakal bangsa Khemit dan Mesir kuno. Mereka menorehkan simbol-simbol pada dinding-dinding kuil yang berupa pesan kepada generasi penerus mengenai sebuah pengetahuan yang hakiki. Saya akan menyampaikan hal yang terpenting. Ini adalah yang paling mendasar dan merupakan pusat atau sumber dari segala pengetahuan. Ini adalah pengetahuan mengenai asal-usul manusia. Saya akan menjelaskannya di bawah ini.

Kepercayaan bangsa Suf/Khemit/Mesir berlandaskan pada kisah Dewa Osiris, Isis, dan Horus. Perlu diketahui bahwa apa yang kita ketahui mengenai Mesir sekarang ini berasal dari seorang sejarawan Yunani bernama Herodotus. Satu hal yang saya sayangkan dari bangsa Yunani adalah mereka selalu menggunakan ejaan Yunani terhadap apapun yang mereka temukan. Termasuk istilah atau nama yang sudah ada sebelumnya. Dan ini yang menyesatkan dan mengecohkan kita dalam mempelajari sejarah, karena kita tidak bisa mengetahui sesuatu dalam nama aslinya. Semua sudah dirubah ke dalam penyebutan Yunani.

Sebagai contoh; Osiris adalah sebutan Yunani untuk nama aslinya, "Ashur" dalam bahasa asli Suf/Khemit/Mesir. Isis juga sebutan Yunani untuk nama aslinya, "Ashut".
Hampir semua penamaan yang kita temui di Mesir telah dibuat oleh Herodotus dan peneliti dari Yunani lainnya.

Dengan mengembalikan segala sesuatu sesuai dengan bahasa aslinya, maka kita menepiskan tabir pengecoh yang akan membawa kita kepada awal pengetahuan kebenaran yang hakiki. Mengapa saya mengatakan demikian? Cobalah anda cari nama Ashur dan Ashut. Anda akan mengerti. Dan saya berharap mulai sekarang anda sudah harus lebih jeli dengan banyaknya tabir-tabir pengecoh seperti ini. Tidak hanya dari segi bahasa, tapi dari berbagai segi lainnya. Akan saya jelaskan nanti.

Dewa tertinggi adalah "Atum Ra" atau "Tem Re". Ia adalah Tuhan, dewa pertama, dewa dari segala dewa, pencipta dan penghancur. Atum Ra kemudian menciptakan dewa Shu dan dewi Tefnut. Dari keduanya lahirlah dewa Geb dan dewi Nut. Geb dan Nut melahirkan 2 pasang anak kembar yang berpasangan laki-laki - perempuan, yaitu Osiris dan Nephthys, Seth dan Isis.

Osiris menikahi Isis. Namun saudara laki-laki dari Osiris, yaitu Seth cemburu maka ia membunuh Osiris. Seth memotong tubuh Osiris menjadi beberapa bagian dan membuangnya. Isis sangat sedih, ia mencari dan mengumpulan semua potongan tubuh Osiris, dan menyatukannya kembali. Dengan meminta pertolongan dewa Thoth (atau "Tehuti" dalam bahasa aslinya) ia menghidupkan Osiris kembali untuk waktu yang singkat, namun sempat menghasilkan anak dari pernikahan mereka, yang mereka beri nama Horus. Tak lama kemudian Osiris meninggal dan kembali ke alam kosmos, menjadi gugus bintang Orion.

Tampak banyak relief yang menggambarkan Osiris duduk di singgasana didampingin oleh Isis dan Nephthys. Banyak yang mengatakan bahwa Osiris juga menikahi Nephthys yang melahirkan anak bernama Anubis. Namun ada dugaan lainnya bahwa Anubis adalah anak dari Seth dan Nephthys.

Setelah Horus dewasa, dan dengan bantuan pamannya, Thoth, ia membalaskan dendam ayahnya kepada Seth. Horus membunuh Seth.

Jika anda perhatikan dengan seksama mitologi bangsa Mesir kuno ini, kita bisa saksikan kemiripannya dengan ajaran agama Abrahamik, yaitu mengenai Adam dan Hawa (Eve). Anda bisa temukan kesamaannya - Geb adalah Adam. Nut adalah Hawa, keduanya melahirkan 4 orang anak (2 pasang anak kembar) utama. Anda akan menemukan Ashur, Ashut dan Seth di antara mereka. Menurut catatan, total anak Adam adalah 40 (20 pasang).  Namun 4 anak pertamanya (2 pasang) yang memiliki kemiripan kisah dan nama-namanya dengan mitologi bangsa Mesir kuno. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa dalam ajaran agama Abrahamik, tubuh Osiris tidak dipotong-potong melainkan dikubur, dan ia tidak pernah memiliki anak. Horus tidak pernah ada, dan Seth tidak mati dibunuh.

Adapun demikian, saya menaruh perhatian penuh pada kisah dan mitologi bangsa Mesir kuno ini, karena menurut saya kemiripan kisahnya bukan kebetulan semata. Ada hubungan yang nyata antara bangsa Mesir kuno dengan seluruh ajaran di dunia. Tidak hanya pada kisah Osiris, Isis, Horus, Seth, namun juga pada banyak prinsip-prinsip lainnya. Contoh lainnya adalah pada apa yang mereka yakini terjadi setelah kematian, Penimbangan Hati, atau "Weighing of the Heart".

Ketika seseorang meninggal dunia, maka ia akan menghadapi dewa kematian, Anubis, yang meminta orang tersebut melakukan penimbangan hati. Hati akan ditimbang melawan sebuah bulu kebenaran (atau "The Feather of Truth"). Jika hati orang itu seringan bulu kebenaran, maka ia boleh melanjutkan perjalanan kematian ke ranah para dewa (surga). Jika hati anda lebih berat dari bulu kebenaran, maka anda tidak lolos dan harus menjalani kehidupan dunia kembali. Proses penimbangan ini disaksikan oleh Osiris dan Atum Ra.

Hati yang ringan menandakan bahwa anda telah berbuat baik selama hidup. Terlepas dari kemelekatan duniawi, dan tidak ada satu ikatan duniawipun yang menghambat anda untuk meninggalkan alam fana dunia ini ke alam selanjutnya.

Memiliki hati yang ringan adalah tujuan hidup manusia. Prinsip ini tidak hanya ditemukan di ajaran Mesir kuno, melainkan di seluruh ajaran yang ada di bumi. Dalam ajaran Buddha, hati yang ringan menandakan bahwa seseorang telah terlepas dari kemelekatan terhadap segala sesuatu yang bersifat keduniawian. Ia akan bereinkarnasi menjadi sebentuk mahkuk yang lebih tinggi derajatnya. Sedangkan yang memiliki hati yang berat - artinya terlalu banyak kemelekatan terhadap keduniawian, ia akan terlahir kembali di dunia dengan derajat yang lebih rendah.

Dan masih banyak lagi paralel atau kesamaan dari ajaran Mesir kuno ini dengan ajaran lainnya di bumi ini. Saya tidak mungkin menceritakannya satu per satu, namun sudah cukup banyak alasan yang membuat saya menumpahkan segenap usaha untuk menekuni hal ini sebagai bagian dari perjalanan saya ke kebenaran yang hakiki.

Dan oleh karena ajaran Mesir juga berarti ajaran kaum Suf, yang kemudian berevolusi menjadi Yahudi, Kristen, dan Islam, maka tidaklah heran bila semua ajaran itu memiliki kesamaan yang jelas. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa ajaran ini memiliki kesamaan pula dengan ajaran lain di belahan bumi lainnya,


Shu & Tefnut

Jika Geb dan Nut paralel dengan Adam dan Hawa, maka Siapakah tokoh Shu dan Tefnut?
Tidak ada paralel di ajaran manapun untuk Shu dan Tefnut. Dimana kita bisa menemukan paralel untuk Shu dan Tefnut ini?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada pertanyaan lain yang mengganggu saya. Saya berharap anda sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya. Karena bila tidak, anda tidak akan mengerti apa yang saya tulis di sini. Anda sudah harus mengerti mengenai siklus presesi 26,000 tahun dan siklus zaman (zaman emas, zaman perak, zaman, perunggu, dan zaman besi).

Di zaman emas, manusia adalah dewa. Otak manusia bagian kanan dan kiri aktif sempurna. Keseimbangan sempurna antara Feminin dan Masculine terjadi di sini. Manusia memiliki 360 indera yang menjadikan manusia makhluk tercerdas dan paling mulia di alam. Manusia tidak membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi, karena komunikasi yang terjadi bersifat universal tanpa batas ruang-waktu. Di masa ini tidak ada perbedaan antara manusia, Jin, dan malaikat ataupun makhluk lain ciptaan-Nya, karena manusia mampu melihat dan berkomunikasi dengan semua makhluk tanpa ada batasan apapun.

Jika Adam - makhluk mulia - dan anak-anaknya diturunkan di zaman emas ini, maka sangat sulit membayangkan adanya sifat cemburu, pembunuhan, pembalasan dendam bisa terjadi di antara mereka. Seth tidak mungkin membunuh Osiris. Maka pertanyaanya adalah; kapan Adam hadir di bumi ini dalam pita sejarah kehidupan alam ini?

Kisah Adam dan Hawa adalah kisah mengenai Geb dan Nut yang diturunkan oleh ratusan atau ribuan generasi yang dimungkinkan telah tercemar atau tersalah-artikan, oleh penambahan dan pengurangan di sana-sini sehingga jadilah kisah Adam dan Hawa yang kita ketahui sekarang.

Saya tidak sedang menyalahkan kisah Adam dan Hawa yang ada di dalam kitab suci. Namun kisah Adam dan Hawa memang tidak banyak disinggung dengan cukup detail di dalam kitab suci sehingga membuka kemungkinan kisah-kisah di luar kitab suci yang berasal dari berbagai sumber. Dalam kesempatan ini saya menawarkan kisah yang berasal dari naskah kuno bangsa Mesir yang berusia jauh lebih tua dari agama manapun yang menyinggung kisah Adam dan Hawa ini.

Dengan pertimbangan di atas, maka ada dua kemungkinan jawaban. Salah satu harus benar dan yang lainnya harus salah.

Pertama,
Adam tidak hadir di puncak zaman emas. Melainkan kemungkinannya adalah Adam hadir di akhir zaman emas. Masa ini adalah masa peralihan ke zaman perak, dimana manusia sudah membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi dan dimulainya alat tukar. Material dinilai dengan material lainnya. Seiring dengan turunnya nilai spiritual pada manusia, maka tidak heran muncul pula sifat cemburu di antara mereka.

Jika kemungkinan pertama di atas benar, ini berarti Adam tidak hidup di zaman emas, atau paling tidak Adam hidup di tepian akhir zaman emas tepat saat bergulir ke zaman perak. Maka Shu dan Tefnut adalah tokoh sebelum Adam yang hidup di zaman emas.

Kedua,
Shu dan Tefnut tidak ada. Geb dan Nut bukanlah Adam dan Hawa. Osiris, Isis, Seth dan Nephthys adalah tokoh mitologi semata yang tidak memiliki kebenaran sama sekali. Sama halnya dengan kisah Adam dan Hawa. Tentunya kemungkinan kedua ini tidak menyenangkan anda. Juga bahwa ini berarti tidak ada siklus presesi dan siklus zaman yang bergulir dalam kurun 26,000 tahun.

Bila anda mempelajari sejarah seperti saya, maka anda akan segera berkata bahwa siklus presesi tidak mungkin salah. Bahwa siklus zodiak juga tidak salah. Bahwa memang ada zaman emas, zaman perak, perunggu dan besi. Nanti akan saya ulas alasannya.

Marilah kita mencoba melanjutkan analisa dalam konteks kemungkinan Pertama. Anda dihadapkan pada kemungkinan adanya manusia lain sebelum Adam! 
Bagi sebagian orang, ini adalah alasan yang tepat mengapa ketidaktahuan atau ketidakperdulian adalah yang terbaik. Ini adalah pilihan anda. Jika anda seperti saya, maka anda akan melanjutkan membaca tulisan ini.

Apakah kita harus menerima adanya manusia lain yang lebih mulia dari Adam dan hidup jauh sebelum Adam di zaman emas? Bagaimana menjelaskan hal ini?

Kita harus meninjau kembali pemahaman kita mengenai zaman emas dan manusia yang hidup di zaman emas. Siapa mereka? bagaimana mereka hidup? bagaimana wujud mereka? 


The gods & The Archetypal Energies

Dengan tingkat kesadaran yang teramat tinggi, manusia di zaman itu adalah dewa, dan sangat besar kemungkinan mereka tidak membutuhkan tubuh fisik untuk eksis. Mereka membaur dengan alam secara fisik dan non-fisik. Mereka mampu mengendalikan dan menjadi energi apa pun di alam ini. Mereka adalah energi pola dasar (Archetypal Energy).

Shu adalah dewa udara dan angin. Shu menempati posisi di antara langit dan bumi, memisahkah keduanya agar selalu ada ruang diantaranya sehingga kehidupan di bumi dapat dimulai. Shu adalah energi pola dasar untuk ruang.

Tefnut adalah dewa cairan (moist) yang meliputi semua air di bumi; air laut, sungai, danau, hujan, embun, dll. yang menjadi bahan dasar kehidupan di bumi. Shu adalah energi pola dasar untuk kehidupan.

Dari keduanya (Shu dan Tefnut), terciptalah atau lahirlah Geb dan Nut untuk pertama kalinya dalam wujud fisik, yang menjadi manusia pertama di bumi. Geb dan Nut adalah makhluk mulia dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Mereka muncul di penghujung zaman emas yang sedang bergulir ke zaman perak.

Perwujudan ke bentuk manusia fisik ini sesungguhnya adalah sebuah penuruan dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. 
"Verily, We created man of the best stature, then We reduced him to the lowest of the low."
"Sesungguhnya, Kami ciptakan manusia dengan wujud paling mulia, kemudian Kami turunkan serendah-rendahnya."
(Qur'an: 95: 4-5) 

Selain Shu dan Tefnut, banyak lagi dewa-dewa lainnya yang menjadi energi pola dasar di alam ini. Setiap dari mereka adalah perwakilan dari setiap sifat yang kita temui sehari-hari. 
Silahkan baca kembali tulisan-tulisan saya mengenai Archetypal Energies ini.

Bumi di zaman emas awal ini dipenuhi oleh manusia-manusia dalam bentuk materi dan energi pola dasar. Mereka menyatu dengan alam dan berfungsi bersama alam. Mereka juga pengendali dan pemelihara alam ini. Mungkin mereka tidak pantas disebut manusia seperti manusia yang kita lihat sehari-hari. Kesucian dan kualitas Feminine dan Masculine terbentuk seimbang, sempurna, sehingga terjadi keharmonisan antara kecerdasan dan kesadaran. Antara materi dan spiritual. 360 indera berfungsi maksimal dan tidak ada yang luput dari rasa. Tidak ada satu bahasa yang kita kenal sekarang yang dapat dengan sempurna menggambarkan situasi saat itu.

We were once gods.


Berlanjut ke Part 2

Tidak ada komentar: