Senin, 24 Maret 2014

New Science: Alchemy

Science of the Heart


Part 2

Edisi 1


Tulisan saya kali ini berdasarkan pengalaman nyata. Saya rasa ini cara yang terbaik untuk menyampaikan apa yang akan saya sampaikan. Topiknya adalah mengenai Doa. Apa itu doa dan mengapa kita berdoa dan bagaimana doa itu seharusnya disampaikan. Semua agama di bumi ini mengajarkan umatnya untuk berdoa. Dan setelah saya pelajari mayoritas agama atau ajaran yang ada, maka saya bisa menarik kesimpulan yang di berbagai kesempatan, memutar-balikkan pemahaman orang mengenai doa. Mereka lalu berkata, “Mengapa semuanya menjadi terbalik?”

Jika apa yang saya kerjakan sekarang (menulis blog) boleh dikatakan sebagai pekerjaan informal, maka pekerjaan saya yang bertujuan mencari nafkah untuk keluarga bisa dikatakan sebagai pekerjaan formal. Atau jika saya boleh menempatkannya pada pengertian yang lebih baik, maka saya menjalani dua buah pekerjaan, yaitu spriritual dan material. Kedua aktifitas yang bertujuan satu. Ada ketentraman dengan melakukan dua kegiatan itu. Keseimbangan yang saling mengkoreksi dan saling menyempurnakan, sehingga timbullah rasa damai dan kebahagiaan. Sebuah rasa cinta, dan berbuah kasih yang berwujud penulisan blog ini. Blog ini untuk kalian. Bacalah kisah rasa cinta saya kepada segenap makhluk dan kehidupan di alam semesta ini, dan rasa kasih dari saya berupa pemberian pengetahuan saya yang terbatas ini kepada semua manusia. Rasakanlah bahasa alam yang hanya bisa anda dengarkan dengan hati, bahasa alam adalah bahasa hati, yang universal, language of the gods, interaksi antar sesama manusia dan seluruh alam berdasarkan Kesadaran Tuhan, melalui hati yang mengetahui – The Knowing Heart.

Ini adalah peristiwa kesekian kali yang saya alami, namun saya akan angkat satu saja. Beberapa bulan yang lalu ketika saya berangkat pulang dari pekerjaan material saya, seperti biasa saya menggunakan taksi untuk pulang. Ketika masuk ke dalam taxi, hati ini menggerakkan saya untuk berbicara kepada supir taksi. Ada rasa bahwa saya harus berbicara padanya. Oleh karena saya belajar untuk mendengar hati, dan percaya pada bahasa ‘rasa’ (hati) ini, maka saya tidak ragu untuk membuka percakapan. Perjalanan yang seharunys hanya memakan waktu 1 jam 15 menit atau kadang 1 jam 30 menit, terjadi dalam 2 jam (mungkin lebih). Peristiwa itu membawa pengaruh positif bagi saya dan sang supir. Kami menikmati perjalanan kami dengan penuh kebahagiaan. Dan inilah ceritanya.

Saya akan menutupi identitas sang supir, Identitas material tidaklah penting. Yang terpenting adalah bagaimana hati kami mempertemukan kami. Alam bekerja dengan kesadaran Tuhan. Sehingga kami pun bertemu di dalam taksi. Sang supir dalam keadaan sedikit galau. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana saya bisa merasakannya, tapi begitulah. Ia galau, dan ia bercerita bagaimana itu bisa terjadi padanya. Ia dulu seorang karyawan berposisi cukup tinggi di sebuah perusahaan tambang batu-bara. Kemudian perusahannya mengalami kendala ekomoni yang memaksa pemiliknya untuk mem-PHK sebagian besar karyawannya. Termasuk dia, yang sekarang menjadi supir taksi ini. Ia meratapi nasibnya yang berubah drastis. Ia sudah punya rumah bagus di sebuah kompleks perumahaan yang bagus, mobil, istri, dan anak-anak. Hidupnya dirasa baik sebelum kemudian masalah ekonomi melanda mereka sejak ia di-PHK. Pada awalnya ia tidak percaya dan masih sangat berharap ia dipanggil oleh perusahaannya untuk bekerja kembali. Namun setelah beberapa bulan berlalu panggilan itu tidak datang. Dan persediaan tabungannya serta pesangonnya semakin menipis. Ia pun memutuskan melakukan pekerjaan apapun yang bisa ia lakukan, yaitu dengan menjadi supir taksi. Tidak berhenti sampai di situ. Pada awalnya ia menganggap pekerjaannya sebagai supir taksi ini sebagai pekerjaan sementara sambil menunggu penggilan pekerjaan yang lebih baik. Namun setelah beberapa bulan berlalupun ia masih menjadi supirt taksi. ‘Mengapa ini terjadi?’ ‘Bagaimana membayar uang sekolah anak-anak besok?’ Dan berbagai pertanyaan serupa, penyesalan, kekecewaan, kepedihan, dirasakan olehnya.

Kemudian, seperti yang mungkin anda bisa bayangkan, di rumah, sang istri menemukan pula batas kesabarannya, melihat sang suami mengeluh dan meratapi nasib yang berubah semakin buruk. Kondisi ekonomi yang tidak ada solusinya, pertengkaran pun menjadi kejadian sehari-hari di antara mereka. Hingga emosi amarah tidak jarang tersalurkan kepada anak-anak mereka.

Terlebih, ia juga berkata bahwa ‘uang menentukan kebahagiaan. Karena tidaklah mungkin mereka yang hidup di kolong jembatan bisa berbahagia dari orang yang tinggal di dalam rumah gedung.’

Saya merasakan kemelut hitam dari Pak Supir ini. Energi negatif masuk ke dalam diri saya dan mempengaruhi saya untuk beberapa waktu sambil terus mendengarkan ceritanya. Setelah ia selesai bercerita sejenak, saya pun membiarkan hati ini berbicara melalui pita suara saya. Dan yang terbaik adalah dengan tidak mengajarkan apa-apa. Saya bukan guru atau uztad. Saya hanya bisa sharing sesuatu yang pernah saya alami atau saya ketahui dari proses belajar saya (yang sampai kapanpun saya masih belajar, tidak ada momen dimana saya boleh mengatakan bahwa saya sudah cukup belajar). Jika saya harus membagi pengetahuan kepada orang ini, maka alam akan mengijinkan pembicaraan ini selesai dengan waktu yang cukup, dan sang bapak supir ini menerima pengetahuan itu dengan baik. Itulah yang ada di dalam pikiran saya sebelum saya mulai menanggapi ceritanya. The gods were watching, the gods were listening. And the gods were allowing, the gods were allowing my knowing heart to be spoken, to be shared, with love and gratitude.

Saya mulai bertanya kepadanya ‘apakah yang ia rasakan sekarang membuatnya tak berdaya, tidak ada yang mampu menolongnya, ia merasa sendiri, bahkan Tuhanpun tidak mau mendengarkan doanya lagi?’ Ia menjawab dengan penuh emosi, ‘Ya’ Ia sudah merasa tanpa harapan dan tak tertolong lagi. Kemudian saya bertanya lagi, ‘apakah perasaan itu membuatnya marah dan menghukum tuhan?’ Tampak jelas ia berusaha untuk tidak menghubungkan Tuhan ke dalam pembicaraan ini, saya merasakan bahwa Ya, ia sudah pada posisi terburuk dalam hidupnya dan menyalahkan Tuhan. Namun ia berat untuk berterus terang. Ia merasa malu. Saya pun tidak ingin memojokkannya dengan pertanyaan lanjutan. Saya tahu ia menyalahkan Tuhannya. Ia bercerita bahwa Ia sudah menjalankan semua sholat dan tahajud, dengan penun air mata ia berdoa setiap hari meminta rizki yang akan mampu mengeluarkannya dari kepahitan hidup ini. Doa itu tidak pernah dijawab oleh Tuhan.

Saya mulai bercerita padanya.
Adalah seorang spiritualist dari Negara Amerika bernama, Gregg Braden, ia terkenal dengan bukunya, “The Divine Matrix”. Ia bercerita mengenai bahasa alam dan bagaimana bahasa alam ini harus kita dengar, dan bagaimana kita bisa berbicara pada alam. Silahkan anda, pembaca blog ini, mencari buku ini di toko buku (amazon.com). Buku itu ditulis dari pengalaman nyata. Ia mendapat undangan dari berbagai komunitas di seluruh dunia untuk membedah bukunya itu. Dan ceramah-ceramahnya bisa anda saksikan di youtube. Ada dua cerita dari buku dan ceramahnya yang ingin saya angkat di sini.

Pertama.
Dalam usahanya mencari pencerahan, Gregg Braden melakukan perjalanan ke Himalaya, Tibet, dimana di sana ia berguru berpuluh hari lamanya kepada seorang biksu Buddha. Setiap hari ia melakukan meditasi dan ikut berdoa bersama sang biksu, dan semua biksu lainnya. Biksu-biksu di kuil itu berdoa dengan khusuk dengan mengucapkan satu atau beberapa kata secara berulang-ulang. Gregg pun bertanya, “Wahai Biksu, saya mengerti bahwa anda berdoa dengan menyebutkan kata-kata atau kalimat, saya mengerti apa yang anda ucapkan, dan sekarang saya mengerti bahwa ucapan anda itu bukanlah doa yang sesungguhnya, namun ada sesuatu yang terjadi di dalam sana (di hati), saya ingin tahu, apa apa yang terjadi sesungguhnya ketika anda berdoa?”

Sang biksu menjawab, “Doaku adalah perasaanku.” (“My feeling is my prayer”).

Sang Biksu tidak mengucapkan apa-apa lagi yang menjelaskan jawabannya. Gregg menghabiskan hari-harinya di kuil dan pulang ke Amerika dengan pertanyaan yang semakin banyak ketimbang sebelum ia pergi ke Tibet. Ia tidak mengerti apa maksud jawaban sang Biksu. “My feeling is my prayer”.

Kedua.
Beberapa tahun setelah kejadian pertama di atas, Gregg menerima panggilan telpon dari sahabatnya yang memiliki keturunan Indian. Bahkan ia masih mempraktikkan ritual-ritual Indian di lingkup komunitas dan keluarga dekatnya. Ia memanggil Gregg untuk ikut dengannya ke pedalaman Arizona yang tandus, di sana adalah tempat nenek-moyangnya, suku Indian kuno, Daerah itu tandus karene kekeringan jarang hujan. Ia mengajak Gregg untuk menyaksikan upacara ritual meminta hujan. Gregg dengan semangat menyambut baik ajakan yang sudah ditunggu-tunggunya itu. Ia sudah lama menantikan untuk menyaksikan sendiri prosesi upacara meminta hujan itu. Mereka pun pergi ke lokasi yang ditentukan oleh sahabatnya.

Lokasi cukup jauh di pedalaman sehingga mereka harus menginap di penginapan di kota kecil terdekat. Sesampainya di lokasi, mereka mendapat padang tandus, kemudian sang sahabat menggambar lingkaran di atas tanah (medicine wheel) dan berdiri di atasnya, tanpa alas kaki. Ia juga menggulung celanana hingga sampai ke betis. Kemudian berdoa berjalan berkeliling lingkaran, dan tampak pula ia melakukan gerakan-gerakan lainnya. Setelah beberapa saat, ia pun berkata pada Gregg bahwa upacara sudah selesai dan ia mengajaknya pulang ke penginapan. Gregg dengan kecewa bertanya kepada sahabatnya, ‘Apa yang kau lakukan tadi? Begitu sajakah?’ Gregg mengharapkan adanya orang lain selain dia dan sebuah ritual yang dramatis dengan melibatkan hal-hal yang spektakuler. Namun bukan itu yang dia saksikan. Dan terlebih lagi, tidak ada hujan. ‘apakah kau bercanda?’

Mereka meluangkan waktu hingga dua malam di penginapan setelah upcara itu. Dan pada hari ketiga, tampak langit gelap, dan hujan deras pun jatuh dari langit. Hujan begitu derasnya hingga beberapa lokasi tergenang air. Mereka tidak bisa pulang ke kota asal mereka karena cuaca begitu buruknya. Gregg lalu mendatangi temannya dan dengan perasaan berkecamuk hebat ia menyerbu sahabatnya dengan berbagai pertanyaan, ‘apa yang kau lakukan di padang itu? Doa seperti apa yang kau ucapkan?!’

Gregg terkejut dengan jawaban sahabatnya, ‘aku tidak berdoa meminta hujan. Aku merasakan hujan sudah datang. Aku merasakan air membasahi dan merendam sepatuku sehingga aku harus melepaskan sepatuku. Air menggenang semakin tinggi hingga aku harus menggulung celanaku. Angin bertiup kencang dan hujan semakin derasnya hingga aku menggigil kedinginan. Kemanapun aku berjalan, hanya ada air, dan pohon-pohon merunduk tertiup angin bahkan beberapa ada yang roboh.’

Gregg terperanjat dan terpana atas jawaban temannya, dibenaknya ada kilas balik dari beberapa tahun yang lalu ketika ia masih di Tibet. Ia teringat sang Biksu dengan jawabannya yang misterius, “My feeling is my prayer!”

Gregg sekarang mengerti. Inilah bahasa alam. Inilah apa yang dimaksud oleh sang Biksu. Ia sekarang mengerti semuanya.

Kembali ke bapak Supir Taksi.
Saya berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada pak supir untuk mencerna cerita saya. Beberapa kali kami salah jalan, ini pasti karena pikirannya yang terbagi antara menyupir mobil dan mendengarkan cerita saya. Saya tersenyum karena the gods were with us. And they were making this trip more interesting.

Kemudian saya melanjutkan.
Saya menyimpulkan kepadanya bahwa cerita tadi memberi contoh nyata bagaimana seseorang, kita, seharusnya bersikap di atas bumi ini. Komunikasi antara manusia dan alam, antara manusia dan Tuhan adalah "rasa". Feeling, perasaan. Bukan dengan ucapan yang keluar dari mulut. Ucapan berasal dari otak, dan otak kita didominiasi oleh sifat masculine, logika dan ego/nafsu, dan keduniawian. Jika kita bisa menyingkirkan logika dan ego, maka mulut kita akan berhenti berucap. Karena selebihnya adalah rasa. Rasa adalah bahasa abstrak, Rasa adalah bahasa hati/batin. Inilah bahasa alam.

Ego is demanding. Ego is wanting. Ego is saying. Ego is nafs. Ego is illusion.
Heart is receiving. Heart is giving. Heart is longing. Heart is love and gratitude.

Saya lanjutkan bertanya kepadanya, ‘apakah bapak sekarang dalam kondisi sehat, dan punya istri yang sehat juga, serta anak-anak yang sehat? Bukankah bapak punya rumah dan mobil yang melindungi dari kehujanan? Apakah bapak masih bisa makan bersama ditengah keluarga yang sangat mencintai bapak?’

Dari sini dialog mulai berubah. Saya merasakan titik klimaks dimana ego yang tadinya memuncak mulai turun ke arah hati. Ia akui bahwa ia memiliki itu semua. Bahwa ia tidak hidup melarat. Bahwa ia seharusnya seorang supir yang sangat berbahagia. Saya katakan padanya bahwa kebahagiaan itu harus disyukuri. Apa yang sudah diterima di dalam hidup ini harus disyukuri. Adalah kurang elok bila kita selalu meminta lebih sedangkan kita melupakan apa yang sudah kita terima.

Dari otak turun ke hati, atau dari ego turun ke batin adalah proses yang menyakitkan. Inilah yang disebut “Taubah’. Taubah adalah peristiwa melemahnya ego dan menguatnya hati. Turunnya ego dari otak ke hati di dada ini. Ini mungkin terjadi kepada setiap orang. Suatu proses yang sangat menyakitkan. Karena ego tidak akan mudah menyerah. Ia begitu sombongnya mempertahankan posisinya, tidak rela mengakui keterpurukan atau kekalahan. Sedangkan sesungguhnya tidak ada keterpurukan dan tidak ada kekalahan. Terpuruk dan kalah adalah ilusi yang termanivestasi oleh ego manusia. Sedangkan bahasa rasa atau bahasa hati membuat manusia mengerti arti sesungguhnya kehidupan ini. Tidak ada perbedaan. Baik, buruk, kaya, miskin, semua sama. Perbedaan yang terjadi adalah kualitas hati mereka.

Saya katakan, hanya bapak yang tau hati bapak sendiri. Apakah bapak sedang mengalami taubah atau tidak. Akan tetapi, jika benar, maka hidup bapak akan dipenuhi satu rasa, yaitu syukur. Dari syukur (gratitude), akan timbul cinta (love). Dan dari cinta akan timbul kasih (gratitude, giving) kembali. Terus begitu tanpa terputus dan tidak ada rasa lainnya yang berasal dari ego yang mengharuskan bapak meminta, menuntut akan segala hal yang bersifat duniawi.

Saat itu terjadi, maka di setiap momen keteringatan kita kepada Tuhan, hanya ada rasa syukur. Tidak ada lainnya. Dan rasa (feeling) syukur inilah doa kita yang sebenar-benarnya. Our feeling of gratitude is our true prayer.

Segala keinginan duniawi tidak lagi relevan. Apakah pantas atau relevan kita meminta uang kepada Tuhan? Tidak. Tuhan bukan tempat untuk meminta. Tuhan bukan tempat untuk menuntut. God is Love and we are feeling gratitude toward God. That is it!

Tidak perlu kita pikirkan (lagi-lagi dengan otak) sebanyak apa harta yang kita mau, berapa banyak mobil yang kita mau. Kebahagiaan bukan ditentukan oleh itu. Kebahagiaan tidak memiliki syarat apapun. Kebahagiaan itu sekarang! Tanpa syarat! Dengan senantiasa bersyukur maka hanya ada rasa syukur yang kita alami sepanjang waktu.

Telaah lagi cerita Biksu dan Indian di atas. Mengapa hujan bisa turun tanpa ia harus meminta? Karena sesungguhnya ia bersyukur karena hujan sudah datang. Ia me-Rasa-kan / feel bahwa hujan sudah datang, dan ia sangat beryukur karenanya. Maka hujan pun datang.

Inilah inti dari tulisan saya kali ini.
Jika kita meminta sesuatu yang spesifik, maka kita mengakui bahwa kita sedang membutuhkan sesuatu itu - sesuatu itu tidak ada / tidak kita miliki. Maka sesuatu itu tidak kita dapatkan. Namun jika kita bersyukur akan sesuatu yang sudah kita dapatkan, maka sesuatu itu akan datang lagi dan lagi dan lagi.

Sampai di sini pastilah anda (dan pastinya Pak Supir pun) bertanya kepada saya, ‘kok terbalik ya?’ Saya tersenyum dan lagi-lagi senyuman ini saya tujukan kepada the gods who were listening to our conversation. Saya katakan, “tidak terbalik!”. Selama ini semuanya sudah benar adanya, hanya saja manusia membalikkannya dengan ilusi yang diciptakannya sendiri – oleh ego. Manusia menuntut adanya simbol, atau perwujudan atas segala sesuatu yang abstrak. Doa adalah bahasa alam yang abstrak, di luar logika otak manusia saat ini. Sehingga manusia merasa perlu melogikannya ke bentukan/wujud doa yang selama ini kita ketahui dari doktrin. Bahwa doa harus menghadap ke atas, meratap dan meminta sesuatu yang kita tidak punya. Manusia tidak bisa menerima keyataan yang sesungguhnya bahwa doa adalah rasa. Apa yang kau rasakan saat ini adalah doamu!

Jika kau merasa sedih, maka sedih akan datang.
Jika kau merasa bahagia, maka kebahagiaan akan datang!

Setelah dua jam berlalu dengan dialog seru antara saya dan Pak Supir, ia pun berucap, ‘berarti orang yang hidup di kolong jembatan tidak bisa kita bilang bahwa mereka tidak berbahagia ya? Dan kita tidak bisa mengatakan bahwa orang kaya itu pasti bahagia ya?’
Benar. Tidak perlu kita pertanyakan mengapa Tuhan menciptakan kaya dan miskin, karena pertanyaan itu tidak relevan. Kualitas manusia dinilai dari kualitas hatinya.

Beberapa bulan kemudian Pak Supir mengirim SMS kepada saya bahwa ia gunakan mobil miliknya untuk memulai usaha baru yaitu persewaan mobil. Dengan demikian ia memanfaatkan aset yang ada dan akan lebih sering di rumah mengelola usahanya dan lebih dekat dengan keluarga. Ia meminta doa dari saya agar usahanya berjalan baik. Lalu saya membalas dengan, "Bapak sudah sukses dan berbahagia, bersyukurlah selalu".


OM Shanti Shanti Shanti


Pernahkah anda mengalami dimana rasa syukur anda atas kebahagiaan yang anda terima mendatangkan kebahagiaan yang lebih, lagi, lagi, dan lagi?
Pernahkah anda me-rasa terpanggil untuk memberi lebih kepada orang lain yang membutuhkan atau aktif menjadi relawan di kegiatan sosial?

Pernahkah anda menderita kepahitan hidup dan kekecewaan yang teramat sangat hingga membuat anda ingin mati saja? Bersyukurlah dan terimalah penderitaan itu sebagai anugerah Tuhan yang terpenting di dalam hidup anda. Karena penderitaan yang anda alami itu dapat menuntun ego anda untuk turun ke hati anda (taubah) dan merasakan cinta kasih Tuhan.

Berbicaralah kepada alam. Melalui hati anda. Hati adalah seperti otot yang harus dilatih untuk lebih peka. Sesombong apa anda sudah berjalan di muka bumi ini? Turunkanlah emosi, ego, nafsu anda dari atas (otak), turun ke hati anda. Gunakan hati untuk merasakan setiap butir udara yang anda hirup sebagai pemberian Tuhan yang teristimewa, setiap butir air yang anda minum sebagai karunia terbesar. Rasakan rasa cinta dari setiap orang di dekat anda. Rasakan cinta dari Tuhan dan seluruh alam. Mereka berbicara kepada anda. Mereka rindu anda dan anda pun rindu pada mereka.

Mulailah berlatih me-rasa dan kurangi berucap. Karena ucapan berasal dari otak yang dihuni oleh ego dan nafsu duniawi. Dan hanya ucapkan sesuatu dari hati.

Listen to the gods, the archetypal energies, listen to the nature. 
Listen to the drops of rain, listen to the breeze of wind, listen to the trees, the birds, listen with your heart, and listen to the heart of other person. 
If all people think with their hearts, then there will be no suffering in this world.


La illaha illallah.
There is no God but God.
OM Shanti Shanti Shanti.


This is Alchemy, the science of the heart.

7 komentar:

seiza kireina Hanafiah mengatakan...

Tuhan seperti menuntun saya kepada tulisan ini untuk memahami perasaan buncah yg tidak pernah bisa terjelaskan oleh diri saya sendiri. Terimakasih sudah mau berbagi om eri :-)

Erianto Rachman mengatakan...

Dear Seiza Kireina Hanafiah,

Terima kasih kembali.
Sila ikuti terus tulisan-tulisan saya selanjutnya.

bhuwono nang mengatakan...

”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim [14]: 7)

Maha Benar Allah dengan segala Firma-Nya ...

Benang merah yang terjalin dari tulisan yg satu dan lainnya semakin jelas mengiring kita kepada satu kebenaran hakiki yaitu Ke - Esaan Tuhan.

Dan menurut sy semakin tidak dapt dipungkiri bahwa ada suatu jaman dimana hubungan antar Pencipta dan yg diciptakan-Nya begitu nyata dan real tidak terhalang oleh hijab ego sehingga "my feel is my prayer" adalh bukan merupakan idiom belaka tetapi sudah merupakan rutinitas keseharian belaka.

Dan benar adanya bahwa bukanlah galaksi yang maha luas ini sebagai misteri tetapi adalah diri kita sendiri sebagai manusia yang merupakan ciptaan Allah satu2nya yang diberikan kewenangan sebagai Mahluk tertinggi derajatnya di alam ini.

Karena rahasia apalah yang takkan dapat terungkap atau terpecahkan sekalipun berada di dalam black hole bila kita sudah menyatu dengan Syang Hyang Maha ...

Terima kasih Mas Er ...

Erianto Rachman mengatakan...

@ mas Bhuwono,

Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada anda yang telah mengikuti tulisan saya.
Saya hanya me-recite (iqra') apa yang sudah ada di alam dan di buku-buku. Tidak ada sesuatu yang baru di sini.

Dan memang mungkin bisa kita bayangkan sekarang bagaimana hubungan 'nyata' antara manusia dan Tuhan yang pernah terjadi di zaman dahulu.

Dunia saat ini penuh dengan kabut dan tirai keduniawian / materialisme yang menutup ilmu universal yang hakiki. Manusia lebih menerima doktrin dan semua ajaran yang bersifat materialistis, termasuk baik-salah, pahala-dosa, reward-punishment, dll. Tirai duniawi itu membuat segala sesuatu yang benar dan ada di depan kita menjadi tidak terlihat.

Syukurlah kalau ada pembaca seperti mas Bhuwono ini yang mengerti apa yang saya sampaikan dan sekiranya mau mengakui kebenaran yang hakiki apa adanya tanpa tirai apa pun.

Salam.

Anonim mengatakan...

Terima kasih mas eri, akhirnya saya sepenuhnya mengerti bagaimana seharusnya berdoa.

Agus Mutie Aba Jibril mengatakan...

Terimakasih Pk Erianto atas pencerahannya. Di sini saya ada beberapa point yg ingin ditanyakan. -bagaimana caranya bisa mengedepankan rasa itu sendiri? Dan bagaimana supaya ego/akal pikiran kita bisa selaras dengan rasa itu? -bagaimana cara mengaplikasikan rasa syukur dlm kehidupan terkadang sulit utk menerima kepahitan?
terkadang terlalu byk methode sehingga makin pusing, pingin slalu acting dan acting
Mohon pencerahannya
Terimakasih Pk Erianto

Erianto Rachman mengatakan...

@Agus Mutie Aba Jibril:

Pertama saya ucapkan banyak terima kasih telah membaca tulisan saya.
Inti pertanyaanmu saya simpulkan ke satu hall yaitu "Bagaimana bersyukur."
Bersyukur berangkat menemukan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia. Anda bisa membaca blog ini dan mengajukan pertanyaan d sini pun adalah sebentuk kelebihan yang tidak dimiliki semua orang. Banyak orang yang tidak mampu menggunakan komputer apalagi internet dan menemukan pengetahuan di sini. Bersyukurlah untuk ini.

Contoh lain, saya yakin anda dalam keadaan sehat. Sedangkan banyak orang lain menderita. Pergilah ke sebuah dusun terpencil, saksikan kehidupan mereka yang kerupuk pun sudah sangan mewah magi mereka untuk santapan siang. Beryukurlah anda yang masih bisa menikmati ayam goreng.

Bila anda sudah berkeluarga, bersyukurlah ada seseorang yang mencintai anda. Bandingkan dengan mereka yang sudah lama tidak berkeluarga dan mendambakan cinta sepanjang hidup mereka.

Bila anda sudah punya anak yang sehat. bersyukurlah. saya tidak perlu mengajari mengapa anda harus berysukur karena dititipkan anak yang sehat.

Bila anda tinggal di dalam rumah, walaupun kecil. atau sebuah kamar kost, bersyukurlah anda masih punya tempat kering dan nyaman untuk tidur.

Semua itu pernah saya alami dan semua itu selalu saya syukuri sampai sekarang.
Saya bahagia dengan hidup saya yang dulu dan sekarang karena saya bersyukur.

Kepedihan hidup berasal dari HARAPAN yang tidak terpenuhi. Siapakah yang menentukan harapanmu?
Yakin itu harapan ASLI dari dalam dirimu?
Hampir 100% orang menaruh harapan yang berasal dari orang lain; dogma dan doktrin.

Misalnya; Mengapa harus menikah di suia 25 tahun? siapa yang membuat aturan itu? dan mengapa jadi stress sibuk terburu2 mencari jodoh?

Atau; mengapa harus iri dengan kehidupan orang lain yang mungkin menurut orang2 sangat beruntung dan bahagia seperti memiliki rumah besar, mobl mewah, dll?
Kata siapa itu semua lebih baik dari apa yang kau miliki?

Apa syarat bahagiamu?
Bahagia itu bukan kemarin, bukan besok (bila kau sudah begini, begitu).
Bahagia itu sekarang. TANPA SYARAT. Karena kamu sudah bersyukur.

EGO menciptakan ilusi - salah satunya ilusi HARAPAN.
Kita boleh dan berhak berharap atau bercita-cita. TETAPI tidak semua harapan itu adalah untuk kita. Alam akan memberikan yang PAS untuk kita.
Tuhan akan memberikan yang pas untuk kita, dan unik untuk setiap manusia.
Dengan menyadari ini maka tidak ada penyesalan.

Berusahalah tanpa menyerah. Belajar dan bekerja.
Tanpa keraguan, tanpa penyesalan.
Semua yang kau lakukan akan memnbuahkan hasil.

Ego hanya bisa dikendalikan. tidak bisa dimusnahkan seluruhnya.
Kendalikan Ego dengan Syukur.

Kamu juga bertanya mengenai "rasa"
Jika aakn terasah bila dirimu bebas dari kendali ego.
saya tdak akan berbicara panjang megenani rasa, sampai anda bisa mengendalikan ego anda terlebih dulu.
Ego harus tunduk pada kesadaranmu.

jika masih ada yang ingin ditanyakan, silakan.

Salam.