Sabtu, 14 Desember 2013

Cosmic DNA




Edisi 3

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca blog saya. It has been a long journey from the first article I wrote to reach this one now.

Saya ingin me-recap dan menarik kesimpulan dari semua tulisan saya karena saya merasa sudah waktunya untuk berbuat demikian. Sebagian dari pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa dan apa maksud saya menulis sejauh ini, yang dimulai dari lingkup science, khususnya fisika teoretis, hingga merambah ke arena spiritual? Sebagian pembaca mungkin kecewa dengan perubahan ini. Namun saya yakin sebagian yang lain dapat melihat ‘benang merah’-nya dengan jelas. Namun akan tidak adil bila saya tidak menyinggung serta menjelaskanya dalam tulisan khusus. Inilah tulisan khusus itu, yang saya harap dapat menjelaskan alasan saya dengan lebih baik.


Di dalam tulisan saya yang mengulas science, sudah jelas bahwa saya ingin mengarahkan pembaca ke sebuah kesimpulan penting, yaitu bahwa science sudah mengindikasikan adanya ke-SATU-an bahan dasar pembentuk alam semesta. Dan bahwa bahan dasar itu-pun memerlukan medium untuk eksis. Medium itulah yang saya beranikan diri untuk menyimpulkan sebagai Tuhan. Keberadaan alam ini adalah di dalam sebuah medium yang Maha Besar dan Maha Satu. Dan bahwa Medium ini adalah awal dan akhir untuk alam ini. Medium itu sendiri tidak berawal dan tidak berakhir. 

Science berhenti hingga di situ. Belum ada perkembangan dalam science itu sendiri yang menumbangkan kesimpulan di atas. Justru penemuan-penemuan terkini (beberapa dekade terakhir) seperti penemuan partikel eksotik Dark Matter dan Dark Energy, hingga Higgs Boson, dll, malah menguatkan kesimpulan tersebut. Jalan satu-satunya bagi saya (kita) adalah melanjutkan ke arena lain yang memang sudah seharusnya kita tempuh. Berangkat dari situ, tulisan saya berikutnya segera sangat relevan dengan kajian non-fisik, yang mana bahwa pengetahuan akan ke-Satu-an dan keberadaan Sebuah Medium itu sudah dimulai sejak dari zaman dahulu kala yang dapat dipelajari langsung melalui ajaran-ajaran kuno seperti Hindu, Buddha, Sufi, Jawa, Mesir, dan lainnya lagi yang berasal dari banyak kebudayaan-kebudayaan kuno. Sungguh menakjubkan bahwa sebuah konsep yang sangat fundamental bagi keberadaan / eksistensi manusia dan alam semesta, yang pada akhirnya berhasil disinggung oleh science, sudah ada sejak zaman dahulu kala. Tidakkah ini sangat menarik?

Pertanyaan 1; Bagaimana mereka (manusia zaman dulu) bisa lebih dulu tau?
Pertanyaan 2; Bagaimana bisa ajaran-ajaran yang berasal dari lokasi dan waktu yang berbeda-beda itu menyimpulkan hal yang sama?

Atas dasar itulah maka dalam tulisan saya selanjutnya merambah ke sejarah peradaban manusia itu sendiri. Dan pengetahuan sejarah ini tidak bisa didapat dari jalur main-stream, karena mereka kebanyakan tidak relevan dengan kesimpulan yang saya arahkan (pada paragraph 2 dan 3 di atas). Akan tetapi ada sebagian atau sekelompok orang di dunia ini yang juga merasa adanya kejanggalan pada main-stream science, dan mereka mencoba mencari atau menyelidikinya sendiri. Mereka inilah orang-orang yang dalam penelitiannya tidak terelenggu oleh dogma, doktrin ataupun pagu-pagu yang dibuat oleh main-stream science. Mereka melakukan penelitian berdasarkan fakta di lapangan dengan mengikutsertakan informasi yang didapat dari pengetahuan ajaran-ajaran kuno, dan membuka diri untuk melihat lebih luas. Membuka diri pada kemungkinan adanya ‘kesalahan’ paradigma – yang menyebutkan bahwa manusia zaman dulu pasti tidak lebih maju dari manusia sekarang, dan manusia sekarang pasti lebih beradab atau lebih maju dari manusia zaman dulu.

Sampailah kita pada sebuah thesis – yang menjadi inti tulisan saya kali ini – Jika kitapun mau membuka diri seperti mereka, maka seharusnya kita pun mampu melihat bahwa banyak pengetahuan dari main-stream yang harus dikoreksi. --- Hanya ada satu kebenaran. Tidak mungkin ada dua sejarah di bumi ini yang keduanya benar. Dan satu kebenaran itu harus relevan dengan semua aspek – termasuk science itu sendiri. --- fakta-fakta di lapangan seperti megalith dan benda-benda penginggalan sejarah, serta ajaran-ajaran dari kebudayaan kuno. Jika anda benar-benar telah membaca semua tulisan saya, dan menonton semua video yang saya pilihkan, maka anda pasti mengerti benar apa yang saya sampaikan.

Sebelum saya lanjut, saya perlu singgung sedikit, bahwa ada sebagian pembaca yang menanti-nanti saya menyinggung mengenai ancient alien. Bukannya saya meghindar dari bahasan itu, namun akan lebih baik untuk menyelesaikan terlebih dahulu seluruh tulisan saya sebelumnya sebelum menyinggung ‘alien’.

Baik, saya singgung sekarang;
Oleh karena adanya paradigma main-stream dimana manusia zaman dahulu pasti tidak lebih maju dari sekarang, maka adanya fakta-fakta atau temuan-temuan benda-benda sejarah yang ‘menyimpang’ menimbulkan masalah pelik. Jika benar manusia zaman dulu sangat terbelakang, bagaimana mereka mampu membangun megalith-megalith luar-biasa seperti yang ditemukan di Mesir, Puma Punku, Tiahuanaco, dll, dll? Maka pastinya ada suatu pengaruh yang nyata yang ‘membantu’ mereka untuk membangun megalith-megalith itu! Maka muncullah sekelompok orang yang mengajukan teori adanya kunjungan makhluk dari luar bumi yang membagikan ‘pengetahuan’ dan meminjamkan teknologi canggih untuk membangun struktur-struktur yang sangat luar-biasa itu. Ditambah lagi dengan ditemukannya peninggalan kebudayaan kuno Sumeria dengan clay tablet –nya yang kontroversial itu (yang bercerita mengenai Anunnaki – tokoh kedewaan yang dikaitkan dengan extra terrestrial), serta ditemukannya prasasti Maya yang menggambarkan kapal antariksa. --- Silahkan anda cari artikel-artikel mengenai hal-hal ini di internet jika ingin tau lebih banyak. --- menguatkan argumentasi mengenai adanya pengaruh makhluk dari planet lain (alien) di masa lalu kepada manusia di zaman kuno tersebut.

Sekelompok orang ini yakin dengan adanya ancient alien dan menantang balik kepada main-stream scientist; Jika kalian benar bahwa manusia terdahulu tidak semaju kita, maka kalian harus mempertimbangkan adanya pengaruh asing (alien) kepada manusia-manusia itu! Jika tidak, maka kalian pun tidak mungkin mampu menawarkan penjelasan yang masuk akal mengenai teknologi apa yang digunakan mereka untuk membangun struktur besar itu yang manusia sekarang-pun tidak mampu melakukannya?!

Sebuah tantangan-balik yang sangat telak. Tentunya tantangan ini ditanggapi oleh para scholar pendukung main-stream dengan argument yang tidak kalah kuatnya, seperti upaya mejelaskan bagaimana memindahkah ratusan ton batu dari lokasi yang jauh, bagaimana memotong batu granit besar itu menjadi potongan-potongan persis sermpurna dan menumpuknya satu sama lain? Dan masih banyak lagi…

Dan perseteruan antara kedua kubu ini masih berlangsung hingga sekarang.


Lalu, bagaimana dengan saya? Pastinya saya percaya akan keterbukaan pikiran dan mempertimbangkan semua aspek. Banyak artikel, buku, dan film yang telah saya baca dan tonton, dan memang main-stream science/archeology berada pada posisi yang kurang populer. Pendukung non main-stream science adalah mereka yang berlatar belakang pendidikan formal, namun bersedia mempertaruhkan seluruh karir mereka dalam mengungkapkan hasil dari suatu investigasi yang hasilnya kebanyakan bertentangan dengan teori yang sedang populer pada saat itu. Cukup banyak juga yang pada akhirnya kesimpulan yang kontroversial dipertimbangkan dengan serius oleh seluruh komunitas science. Salah satu contohnya adalah saat komunitas science harus menanggapi dengan serius untuk merevisi sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa pyramid Mesir dibangun oleh pekerja-pekerja paksa / budak, dan merevisinya dengan kesimpulan baru dimana tidak ada perbudakan dalam pembangunan pyramid. Kesimpulan baru tersebut lebih relevan dengan hal-hal lainnya. Anda bisa menyaksikan dengan lebih detail mengenai hal ini pada video di dalam artikel saya sebelumnya; Books Of Origin (Part 2).


Bagaimana dengan teori ancient alien? Menurut saya, teori ini kurang mendapat 'hati' pada diri saya karena teori ini kalah kuat dengan keyakinan saya dimana nenek-moyang manusia yang hidup di masa lalu adalah manusia dengan tingkat peradaban yang sangat tinggi. Tanpa campur tangan makhluk planet lain. Lebih tinggi dari sekarang. Silahkan baca tulisan saya sebelumnya, Books Of Origin (Part 1 dan Part 2). Namun, jika memang cukup bukti adanya pengaruh alien di masa lalu, saya pun tidak akan menutup diri untuk menerima kanyataan itu. Sementara ini, saya harus mengesampingkannya.

Manusia sekarang, yang hidup di (yang katanya zaman modern) menterjemahkan arti dari "modern" dan "canggih" melalui kemajuan teknologi. Manusia mampu membuat kapal laut, pesawat terbang, roket, satelit, komputer, internet, dll. Namun di lain sisi, sejarah manusia modern dipenuhi oleh perang, rasisme, penjajahan, pertikaian antar suku pencemaran lingkungan, dan lain sebagainya. Apakah ini yang disebut "modern". Hanya dengan berlandaskan pada pola pikir seperti ini maka kita tidak akan mampu menerima adanya kemungkinan nyata dimana definisi modern dan canggih yang dialami oleh manusia pendahulu kita jauh di luar logika kita.


Menurut saya, arti canggih atau modern atau "maju" adalah sebuah pencapaian peradaban manusia dimana manusia mampu menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan alam. Manusia maju adalah manusia yang mampu berinteraksi dengan alam sama halnya dengan berinteraksi dengan sesama manusia. Pengetahuan atau science yang dicapai semata-mata untuk pencapaian tingkat kesadaran yang tinggi. Satu-satunya network di bumi adalah network bagi kesadaran manusia dan alam (Human Higher Consciousness Grid). "Maju" dengan cara ini menjadikan manusia sadar dan tau akan kebenaran yang hakiki. Sadar akan tujuan hidup yang sebenarnya. Sadar akan eksistensi keberadaan di multi-dimensi. Manusia itu sendiri adalah sebentuk teknologi yang sangat canggih. Manusia dan alam serta Tuhan adalah sebuah ke-SATU-an.


Cosmic DNA

Baik, sekarang saya akan masuk pada ulasan inti dari tulisan ini. Jika anda sudah membaca semua tulisan saya sebelumnya, maka bolehlah saya mengajak anda menarik satu benang merah yang menghubungkan semua tulisan-tulisan saya tersebut. Tuhan adalah Medium dimana alam semesta (termasuk manusia) ini eksis, maka alam ini, dimanapun posisi yang anda pilih, memiliki satu kesamaan. Jika kita bisa mengerti dan "sadar" akan hal ini maka kita mampu mengerti dan menyimpulkan suatu kebenaran yang hakiki. 

Bayangkan tubuh anda sendiri. Tubuh anda adalah alam bagi milyaran jumlah sel. Sel-sel tersebut mematuhi satu aturan. Walaupun satu sel dengan sel yang lainnya terpisah jarak di dalam tubuh anda, namun, satu sama lain dapat mengerti sebuah aturan yang meng-govern seluruh tubuh. Setiap sel memiliki tugasnya masing-masing. Setiap sel berperan penting. Aturan tersebut tertulis di dalam DNA anda.

Begitupun dengan alam ini. Setiap entity yang ada di alam ini memiliki perannya masing-masing. Tidak ada yang eksis melalui kecelakaan / ketidak-sengajaan yang acak. Setiap entity yang eksis di alam ini adalah seperti sebuah sel dalam tubuh / Medium yang kita namakan alam semesta.

istilah "Kesadaran" yang sering saya singgung di dalam tulisan saya adalah kesadaran akan kebenaran yang hakiki mengenai alam ini dan fungsi-fungsi setiap entity di dalamnya. Semakin tinggi tingkat kesadaraan seseorang, semakin ia dekat dengan pemahaman yang sebenar-benarnya (hakiki) mengenai alam ini. Tidakkah ini merupakan hal yang paling utama? Dan inilah yang saya yakini sebagai definisi yang sebenarnya untuk "maju". Peradaban manusia yang maju adalah peradaban yang manusianya memiliki tingkat kesadaran yang tinggi. Sekali lagi saya bertanya kepada anda; Tidakkah ini sangat penting?

Kesadaran yang tinggi yang dimiliki oleh manusia-manusia pada zaman kuno itu membawa mereka pada sebuah peradaban spiritual yang tinggi. Tidak perlu ditanya apakah pada zaman itu mereka butuh internet dan komputer. Pastinya mereka tidak memerlukan teknologi fisik/material semacam itu, karena mereka hidup dalam dan demi sebuah tingkat kesadaran yang jauh lebih "canggih" dibandingkan kebutuhan mereka akan materi. Mereka mengerti, merasakan, dan dapat menggunakan energi alam yang mengalir di dalam tubuh melalui ketujuh chakra. Mereka melihat, merasa, mendengar menggunakan 360 indera mereka. Dan pada puncaknya mereka "sadar" dan mengerti akan tugas masing-masing di alam ini. Mereka mengerti akan sebuah pengetahuan tertinggi di alam ini, yaitu The Grand Master Plan alam ini. Inilah Cosmic DNA. Sebuah aturan Maha Satu dari yang Maha Satu untuk yang Satu. Alam ini adalah sebuah ke-SATU-an. Manusia adalah bagian dari Ke-SATU-an itu.

Pada awalnya, manusia diciptakan oleh Tuhan dalam tingkat kesadaran tertinggi. Manusia-pada walnya hidup di zaman Golden Age. Kemudian turun ke posisi terbawah (sekarang) di zaman Iron-Age. jika anda jeli, maka anda akan menemukan bahwa hal ini sudah difirmankan oleh Tuhan dalam kitab suci. Saya anjurkan anda mencarinya dan alami rasa takjub yang sama seperti saya.

Jadi, inilah akhir dari tulisan saya mengenai science materi atau fisika. Mau tidak mau (jika anda ikuti terus tulisan saya hingga kini), maka kita harus masuk ke ranah non-fisik / non-materialisme. Sebuah ranah spiritualisme. Disitulah ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Disitulah adanya kelanjutan jalan dari pengembaraan kita akan sebuah pencarian akhir, pencarian akan kebenaran yang hakiki.


Cosmic DNA dan Nature Knowledge

Jika memulai bertanya; apa maksud "DNA" di sini dan dimanakah bisa kita temukan di alam? Istilah DNA yang saya gunakan di sini memang saya diambil dari DNA pada makhluk hidup (Deoxyribonucleic acid), akan tetapi ini hanyalah sebuah istilah. Saya pilih DNA untuk menyampaikan pesan saya kepada pembaca bahwa seperti halnya DNA pada makhluk hidup yang membawa sifat kepada makhluk hidup itu sendiri. DNA bagaikan template atau program awal, atau rangka bangun, atau desain awal dari makhluk hidup. Sifat yang dibawanya adalah termasuk sifat fisik dan non fisik. Fisik seperti ukuran, warna, tekstur, dan lainnya (tinggi tubuh, warna rambut, warna kulit, warna mata, tekstur rambut, dll).


Lalu apa maksudnya Cosmic DNA? Adalah desain awal alam semesta, perilaku, hukum, dan semua yang berlaku di alam ini. Di dalam tulisan saya sebelumnya, "The Knowledge" saya mengulas sebuah pandangan yang berbeda mengenai bagaimana kita seharusnya memandang alam ini. Pada awalnya hanya ada Wisdom kemudian baru bisa ada Knowledge, yang dijabarkan ke dalam kumpulan Information, dan yang ter-dasar adalah Data (WKID), bukan seperti cara berpikir umum yang diawali oleh kumpulan Data, kemudian Information, Knowledge dan terakhir adalah Wisdom (DIKW).

Sehingga, pada awalnya, desain alam ini (DNA) ditentukan pada taraf Wisdom. Perilaku, sifat, hukum, serta keseluruhan skenario, serta sejarah alam semesta ini ditentukan di awal. Alam ini berawal dari sebuah kekuatan yang Maha. Sebuah Kehendak. Dari 'semacam' Ide awal atau Grand Master Plan, maka jadilah alam seperti sekarang ini.

Anda mungkin sekarang sedang memicingkan sebelah mata anda sambil meragukan pernyataan saya di atas. Namun sebelum anda berhenti membaca, saya mengundang anda untuk merenung sejenak, dan menemukan kecocokan ide ini dengan sumber-sumber lain.
Ilmu Fisika tidak bisa menjawabnya. Anda harus mencarinya di tempat lain. Jika pencarian yang anda lakukan sudah 'mentok' maka saya yakin anda akan bertindak sama seperti yang saya lakukan. Bahkan Einstein pun sempat berkata bahwa alam semesta ini bagaikan hidup dan memiliki kesadaran.


Spiritualism

Di dalam ajaran Sufi, seperti yang dikatakan oleh Sufi Teacher, Llewellyn Vaughan-Lee, PhD, bahwa jika anda mendalami spiritual (dan mysticism) dan masuk ke level meditasi terdalam (Samadhi), maka anda akan menemukan sebuah plane of existence yang berisikan pure knowledge. Anda akan bersatu dalam eksistensi tersebut dan mengetahui apa pun yang tersurat di dalamnya. Anda akan mengerti segala hal.
Dan pernyataan ini pun saya dapatkan dari di orang-orang terdekat saya yang mempelajari spiritualism dan mysticism dalam hidup mereka. Dan ini bukanlah sebuah halusinasi. Ini adalah sebuah kenyataan yang ada. Sejauh itulah manusia diperkenankan untuk menuju. Satu tingkat setelah itu adalah pure Wisdom (Brahman), atau Tuhan itu sendiri.


Renungan

Sampai di sini saya harap anda sudah mengerti mengapa perjalanan kita harus berlanjut ke ranah spiritual. Sebagai motivasi tambahan, adalah adanya petunjuk-petunjuk yang mengarah kepada sejarah dimana manusia-manusia terdahulu sebenarnya sudah tau mengenai hal ini. Ini adalah sebuah ancient knowledge, yang dikarenakan suatu proses tertentu manusia sekarang melupakan pengetahuan ini. Seperti yang dikatakan berulang-ulang oleh Graham Hancock, "Mankind now is living with amnesia, forgetting our own heritage and ancient knowledge".

"Proses tertentu" yang menyebabkan manusia melupakan pengetahuan suci ini adalah merupakan rangkaian skenario alam. Seperti yang saya ulas di tulisan saya sebelumnya, Book Of Origin (Part 1) dan  Books Of Origin (Part 2). Jika anda sudah menyaksikan video-video yang saya tampilkan, maka anda mengerti bahwa pernah terjadi pergeseran tingkat kesadaran manusia di masa lalu melalui siklus yang berhubungan dengan precession of the equinox. Seiring dengan pergeseran-pergeseran tingkat kesadaran itu, bumi juga mengalami bencana-bencana alam yang bersifat global yang hampir memusnahkan seluruh peradaban manusia.

Mengapa ini menjadi penting? So what?
Pertanyaan seperti ini hanya akan diajukan oleh mereka yang dalam 'pencariannya' atau 'perjalanannya' belum sampai pada titik 'mentok' (maafkan istilah saya, saya mencoba menggunakan kata yang mudah dimengerti). Hal ini bukan hanya penting bagi mereka yang menggeluti sejarah, terutama juga bukan bagi mereka yang masih mengutamakan materialisme di atas hal lainnya. Sesungguhnya pengetahuan ini sangat penting bagi seluruh umat manusia.

Begitu penting artinya bagi kita untuk memahami dan menemukan kebenaran yang hakiki. Kedekatan manusia dengan sesama manusia, dengan seluruh alam, dan dengan Sang Pencipta. Jika kita semua adalah SATU, maka wujud materi (badan) kita saja akan kurang sebagai ukuran kualitas manusia. Kualitas manusia yang baik adalah ditentukan oleh sejauh mana ia paham. Sedekat apa ia dengan kebenaran yang hakiki.

Seorang sahabat yang bijak pernah berkata kepada saya, "Jika semua orang berpikir dengan hati dan tidak dengan otak, maka di dunia ini tidak akan ada perang, kemiskinan, keputusasaan, dan kebencian."

Dia benar! Perkataan sahabat saya ini sangat menusuk hati saya yang paling dalam. Hanya sebaris kalimat namun untuk sungguh-sungguh memahami kebenarannya kita harus melakukan perjalanan panjang. Tidak mudah melangkah dari keterbelegguan kita terhadap segala sesuatu yang materilstis, ke arah non-material, untuk menyadari kebenaran dari kalimat itu. Walaupaun hal itu tepat ada di depan kita.

Kualitas manusia adalah kebesaran hatinya. Hati adalah sacred feminine yang terlupakan. Ia seharunsya menjadi penyeimbang. Jika feminine dan masculine sama kuatnya, maka disanalah kita akan menemukan keseimbangan alam yang sesungguhnya. Pengambilan keputusan hidup harus ditentukan oleh kedua sifat tersebut di dalam diri kita. Jika kita melibatkan hati dalam bertindak, hanya kebaikan yang akan dihasilkan. Kebaikan yang berlaku untuk seluruh alam ini.


ER

2 komentar:

Aryo Crane mengatakan...

wew blogger.. sempet mas..

Anonim mengatakan...

Saya cenderung percaya terhadap eksistensi entitas ghaib, seperti jin yang memiliki peran dalam peradaban maju jutaan tahun. Sebab acuan pasti saya adalah sekenario takdir Adam dan Hawa, yang baru eksis sekitar 10000 tahun SM.