Minggu, 08 Desember 2013

Books of Origin




Part 2

Edisi 1




Mohon membaca Part 1 terlebih dahulu.


Who were our Ancestors?

Tujuan dari tulisan ini, seperti yang sudah bisa diduga, adalah untuk mengemukakan bahwa sejarah umat manusia di bumi berawal dari waktu yang sangat lampau di masa lalu, lebih tua dari rekaan orang saat ini.

Video di atas adalah satu dari sekian banyak referensi video yang bagus untuk disimak baik-baik. Saya memilihkan satu saja dan semoga anda mau menyempatkan diri untuk menontonnya.

Video ini juga adalah laporan yang sangat baik – kesimpulan yang cukup untuk mewakili sumber-sumber pengetahuan lainnya yang ada di buku-buku yang pernah saya baca. Tadinya saya ingin menceritakan rangkuman satu-per-satu buku-buku itu, namun sangat beruntung saya menemukan video ini yang akhirnya mengurungkan niat saya di atas. (Disarankan menonton video ini beberapa kali hingga benar-benar mengerti apa yang disampaikan).

Selain video ini, perlu saya sampaikan sebuah hasil penelitian para arkeolog (dari majalah National Geographic) yang relevan dengan bahasan ini. Dilaporkan bahwa sejarah peradaban manusia di masa lalu sepenuhnya di-drive (atau didasari, atau digerakkan) bukan oleh kebutuhan akan pangan, seperti yang diduga oleh arkeolog sebelumnya, melainkan oleh kebutuhan spiritual. 

Maksudnya begini; Kebutuhan manusia akan kedekatan mereka dengan Tuhan, alam, bumi, dan semua aspek spiritual adalah merupakan kekuatan yang menggerakkan dan memotivasi mereka untuk hidup. Mereka membangun struktur ibadah terlebih dulu ketimbang struktur penyimpanan bahan pangan. Mereka mendahulukan kepentingan bersama akan Ketuhanan ketimbang kebutuhan mereka akan pangan. Hal ini sudah menjadi sebuah fakta sejarah. Di sumber-sumber lainnya, termasuk video yang saya di atas, smengulas lebih dalam mengenai kebudayaan-kebudayaan manusia masa lalu tersebut.

Manusia adalah makhluk spiritual yang hidup di alam keduniawian.
(Human is a spiritual being with earthly experience).

Jika anda menggunakan nalar umum saat ini untuk membayangkan kehidupan seperti apa yang dikatakan deengan Human is a spiritual being with earthly experience, Saya yakin anda tidak akan sanggup memahaminya dengan baik. Tidak masuk akal dan tidak terbayangkan. Oleh karena itu, anda perlu melakukan perjalanan ini bersama saya. Sebuah awal pejalanan untuk pemahaman yang luar biasa. Kita mulai.


State of Consciousness

Di masa lalu, manusia hidup dengan tingkat kesadaran yang jauh lebih tinggi dari sekarang. (Human lived with a higher state of consciousness).
Ini dimungkinkan karena manusia sesunguhnya memiliki 360 indera. Kita saati ini hanya mengenal 5 indera; pengelihatan, penciuman, perabaan, pendengaran, dan perasa). Dengan aktifnya 360 indera, maka manusia sangat peka terhadap seluruh kondisi alam ini baik yang fisik maupun yang non-fisik. Manusia mendengar dan bercakap-cakap dengan seluruh alam. Dengan “rasa” yang lebih banyak bisa diterima oleh indera, manusia berusaha menjaga keseimbangan alam ini. Manusia menjaga keharmonisan terhadap manusia lainnya dan hidup saling damai dan saling mencintai sesama dan alam ini. Kebutuhan akan benda-benda fisik, uang, kekayaan, dll adalah tidak penting. Inilah mengapa maka kebutuhan spiritual sangat utama bagi mereka. Mereka tau rahasia terbesar dan terdalam alam ini.

Indera-indera tersebut aktif karena kelenjar-kelenjar di dalam tubuh manusia yang semuanya aktif. Ada 7 kelenjar (gland) di dalam tubuh manusia (yang saat ini tidak aktif). Dulunya semua kelenjar tersebut sangat aktif. Kebudayaan Hindu menyebutnya dengan chakra. Ketujuh chakra tersebut aktif bersama energi yang mengalir padanya, yang disebut Kundalini (di kebudayaan lain juga disebut sebagai “Serpent of Life”, atau “The Great White Snake”).

Kesemua itu menjadikan manusia sangat sadar akan arti kehidupan yang sesungguhnya. Sadar akan peran manusia di muka bumi dan apa tujuan hidup ini. Sadar akan adanya “jiwa” pada setiap obyek di bumi, termasuk bumi ini sendiri. Sadar akan peran benda-benda langit, serta seluruh alam semesta ini tanpa kecuali. Inilah yang dimaksud dengan memiliki tingkat kesadaran tinggi (higher state of consciousness). Manusia adalah makhluk spiritual yang menghuni bumi.


Sacred Feminine & Sacred Masculine

Anda mungkin sudah pernah mengetahui bahwa otak manusia terdiri dari 2 sisi. Kiri dan Kanan. Otak kiri berperan dalam tubuh manusia yang bersifat fisik. Otak kiri bekerja untuk logika, sejarah, science, rationalisme, realita dan aturan serta dogma. Sedangkan otak sebelah kanan berperan untuk Kehidupan non-fisik yang kekal, waktu, ritual, magis, kesadaran-lain (altered-state), dan seni. Otak kiri mewakili sifa-sifat Masculine. Sedangkan otak kanan mewakili sifat-sifat Feminine.

Dengan tingkat kesadaran yang tinggi seperti yang saya sebutkan di atas, maka manusia-manusia tersebut memiliki otak kanan dan otak kiri yang aktif secara bersamaann. Hal ini tidak terjadi pada manusia sekarang. Mayoritas manusia sekarang hanya aktif otak kirinya saja. Perlu diperhatikan bahwa istilah Feminine dan Masculine yang saya utarakan di sini tidak diartikan dalam wujud kelamin laki-laki dan perempuan. Perempuan saat ini sama dengan laki-laki yang didominasi oleh otak kiri.

Konsekuensi dari dominasi otak kiri menjadikan manusia saat ini lebih mementingkan logika dan sangat mengutamakan material ketimbang spritiual. Kehidupan dinilai dengan uang dan banyaknya materi yang dimiliki serta kejayaan dalam kepemilikan materi. Peraturan-peraturan dibuat untuk mengatur manusia, karena manusia sekarang menjunjung tinggi keteraturan dan setiap perbuatan memilki konsekuensi material. Inilah manusia sekarang.

Dengan tingkat kesadaran yang tinggi, maka terjadi keseimbangan antara feminine dan masculine. Nilai-nilai atau sifat-sifat yang saya sebutkan di atas sama-sama aktif dan berperan seimbang. Manusia-manusia tersebut menjunjung tinggi keseimbangan antara logika dan seni, memandang alam dan sesama manusia dengan kasih sayang dan cinta. Hal-hal non-materi menjadi sangat penting bagi peradaban dan keberlangsungan hidup. Pengetahuan akan spiritual menjadi yang utama. Dan tidak hanya diperuntukkan bagi sesama manusia, tapi juga bagi seluruh alam semesta.

Merekalah manusia-manusia pendahulu kita. 
Inilah yang saya ingin angkat di sini.


Empowered Human

Banyak di antara kita kemudian bertanya, Jika memang dulu pernah hidup manusia-manusia dengan tingkat kesadaran yang sangat tinggi, kapan terjadinya? Dimana posisi mereka pada garis sejarah manusia secara keseluruhan? Mengapa kemudian manusia menjadi seperti manusia sekarang ini? Kapan dan bagaimana terjadinya perubahan itu? Bagaimana juga relevansinya dengan fakta peninggalan yang ditemukan orang? Dan bagaimana relevansinya dengan sejarah yang ada di dalam kitab suci?

Saya harap anda sudah menyaksikan video yang saya tampilkan di atas. Karena di sana terdapat jawabannya. Saya akan coba ulas sedikit melalui tulisan saya ini.

Intinya, pelajaran sejarah manusia yang diajarkan kepada kita di bangku sekolah harus direvisi. Karena itu tidak lagi bisa menjelaskan apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Referensi pengetahuan mengenai ini harus kita gali dari sumber-sumber lain, yaitu di ajaran-ajaran tua yang ada.

Di dalam ajaran Sufi, Hindu, dan lainnya, dikenal adanya Sacred Faminine dan Sacred Masculine. Mereka mengenal adanya Chakra dan Kundalini. Mengapa ajaran-ajaran tersebut megetahui hal-hal seperti itu? Dan apakah relevan dengan temuan arkeologi modern?

Usaha dalam penterjemahan hieroglyph pada pyramid-pyramid di Mesir menunjukkan adanya makna-makna berlapis dan tersembunyi. “Suf” adalah sebuah kaum yang sangat tua dan mengenal tulisan bangsa Mesir kuno dan dari merekalah terbuka makna tersembunyi dari hieroglyph-hieroglyph itu.

Bangsa Mesir kuno berusia jauh lebih tua dari apa yang diduga orang. Mereka pernah hidup harmonis dalam pada tinggat kesadaran tinggi dan dalam keseimbangan feminine dan masculine. Sebagian besar Pyramid bukanlah makam. Tidak ada bukti yang cukup kuat yang menunjukkan bahwa Pyramid di Giza adalah makam Firaun. Pyramid dibangun tepat di tepi sungain Nil. Bukan 8 mil jauhnya dari sungat Nil seperti yang telihat sekarang. Pernah terjadi migrasi posisi sungai yang dikarenakan perubahan kondisi alam. Dan ada suatu masa dimana Mesir merupakan wilayah hutan tropis yang subur dengan curah hujan yang sangat tinggi sepanjang tahun, Daerah ini yang disebut “The land of Khem”.  Hal ini dibutktikan pula melalui kondisi permukaan patung Sphinx. Dan ini semua menunjukkan bahwa wiliyah tersebut telah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Para arkeolog modern, para scholar, berpegang teguh pada paradigma bahwa manusia zaman dulu lebih terbelakang dari pada manusia sekarang. Manusia sekarang lebih maju dalam segala hal dibandingkan manusia zaman dulu. Jika anda mau membuka pikiran seluas-luasnya, maka paradigma di atas adalah salah besar. Justru sebaliknya, manusia zaman dulu lebih maju dalam segala hal dibanding manusia sekarang.

Saya ingatkan sekali lagi. Bahwa Jika manusia hidup dengan tingkat kesadaran tinggi, maka kondisi itu berperan langsung pada pola pikir, pandangan, serta teknologi yang mereka gunakan. Jangan membayangkan adanya perangkat komputer atau gadget ‘canggih’. Jika manusia mampu memanfaat kan semua 360 indera mereka, apakah mereka masih membutuhkan teknologi seperti telepon selular, komputer, dan lain-lainnya?

Mereka adalah empowered human, spiritual beings with earthly experience.


Garis Sejarah

Kembali pada pertanyaan utama di atas: 
Jika memang dulu pernah hidup manusia-manusia dengan tingkat kesadaran yang sangat tinggi, kapan terjadinya? Dimana posisi mereka pada garis sejarah manusia secara keseluruhan? Mengapa kemudian manusia menjadi seperti manusia sekarang ini? Kapan dan bagaimana terjadinya perubahan itu? Bagaimana juga relevansinya dengan fakta peninggalan yang ditemukan orang? Dan bagaimana relevansinya dengan sejarah yang ada di dalam kitab suci?

Sejarah harus ditinjau ulang.
Di dalam kebudayaan Hindu, mereka sudah mengenal adanya siklus waktu yang disebut “Yuga”. Di Mesir dan Maya, juga demikian. Manusia zaman itu sangat mendalami “waktu” ini. Dan bukan hanya waktu di bumi, tetapi juga waktu untuk seluruh alam. Mereka mempelajari posisi bintang-bintang di langit. Mereka sudah tau bahwa bumi memiliki precession yang bersiklus 26,000 tahun sekali. Precession ini dikenal di semua kebudayaan kuno; Hindu, Mesir dan Maya. Bagaimana bisa? Padahal ketiga kebudayaan itu terpisah jauh di muka bumi? Apakah anda masih berpikir bahwa manusia-manusia tersebut saling terisolir satu sama lain? Dan apakah tidak mungkin bahwa dulu pernah ada sebuah Global Civilization di muka bumi ini?

Jika anda sudah menonton video yang saya tampilkan, maka manusia-manusia yang sangat maju di masa lalu hidup di masa “Golden Age”. Dengan mempelajari siklus waktu alam, mereka tau bahwa manusia di bumi akan turun (decend) ke masa “Silver Age”, kemudian, “Bronze Age” dan yang terbawah adalah “Iron Age” atau “Dark Age”.
Setiap penurunan zaman, akan disertai dengan penurunan kualitas manusia. Penurunan ini adalah penurunan tingkat kesadaran. Mulai tertutupnya indera-indera mereka, dan ketidakseimbangan antara Feminine dan Masculine.

Dimana kita berada? Kita sedang berada di yang paling terbawah yaitu “Iron Age” atau “Dark Age”. Di masa inilah manusia berada pada posisi tingkat kesadaran terendah, masculine mendominasi otak kita. Dan seperti yang kita lihat, kehidupan kita diukur dan diatur oleh materi, uang, kita perlu pemimpin, kita perlu aturan yang mengikat, dogma, doktrin, ketidakperdulian dengan alam dan lingkungan, ketidakpekaan terhadap zat-zat lain yang ada di sekitar kita, dan lain sebagainya yang semua itu adalah kualitas manusia zaman ini. Bukankah karena kondisi seperti inilah maka diperkenalkannya para nabi di tengah-tengah manusia?

Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Menurut siklus waktu, maka zaman akan berulang, manusia akan kembali mengalamai kenaikan ke arah Bronze Age, Silver Age dan Golden Age. Sekarang manusia sudah melewati titik terendah dimana titik terendah inilah yang diramalkan sebagai akhir dari siklus oleh bangsa Maya dalam kalender mereka, dan zaman memasuki awal siklus baru yang menandakan mulai naiknya kembali garis sejarah kita (walaupun kita masih berada dalam Iron Age). Titik terendah ini terjadi pada 21 Desember 2012 yang lalu.



Drunvalo Melchizedek memberi pengakuan bahwa jika kita mulai menyadarkan diri ke dalam spiritualisme, maka alam ini berperilaku jauh dari apa yang kita ketahui melalui science, maupun doktrin. Tidak bisa dibayangkan, tidak bisa dijelaskan. Hanya bisa dialami sendiri untuk mengerti arti pernyataannya. Begitupula pengakuan Llewellyn Vaughan-Lee; jika kita berada pada titik terdalam dalam meditasi, maka apa yang kita rasakan/alami/saksikan sungguh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Kita hanya bisa membayangkan bahwa kondisi seperti itulah yang dialami oleh para manusia-manusia kuno di zaman Golden-Age. Seperti apa itu? Yang pasti, kehidupan tanpa uang, tanpa struktur organisasi dan pemimpin, tanpa doktrin dan dogma, tanpa eksploitasi alam dan perusakan alam. Namun semuanya (antar manusia dan antara manusia dan alam) hidup harmonis, sumber energi alami yang senantiasa terbarukan dengan sendirinya - yang bebas didapat untuk kepentingan seluruh manusia dan alam ini. Manusia saling menjadi guru dan pembimbing bagi yang lainnya. Mereka memiliki usia yang sangat panjang serta ukuran fisik tubuh yang lebih besar dan tinggi. Keseimbangan antara feminine dan masculine menyadarkan manusia akan pentingnya keseimbangan antara ibu bumi (mother earth) dan bapak langit (father sky). Harmonisasi berdasarkan cinta kasih antar semua komponen alam ini.

Apakah anda mempercayai hal ini?
Mungkin anda berpikir bahwa saya terlalu mengada-ada, dan tulisan saya ini merupakan cerita fiksi belaka. Saya tidak bisa memaksa anda untuk percaya. Saya menyampaikan apa yang saya ketahui. Kebenarannya hanya anda (masing-masing dari kita) yang bisa membuktikannya.


Manusia dan Tuhan

Kehidupan di zaman Golen Age, manusia bagaikan dewa? Apakah benar demikian? Lalu bagaimana hubungan manusia pada masa itu dengan Tuhan?

Lagi, saya tidak bisa menjawab kebenaran cerita ini. Namun mengenai hubungan antara manusia dan Tuhan dapat dijelaskan melalui apa yang saya pelajari dari Sufism, Hinduism, dan Buddhism. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, manusia secara naluri mengakui dan merasakan keberadaan zat Tuhan pada diri masing-masing, juga pada alam ini. Inilah yang menjadi dasar adanya kesadaran untuk menghormati dan menyayangi antar seluruh penghuni alam ini. Kedekatan antara manusia dan Tuhan adalah sebuah hubungan cinta kasih. Dan karena tingkat kesadaran manusia saat itu sangat tinggi, maka kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan sungguh di luar daya imajinasi kita. Tak terbayangkan.

Kapankah Golden Age terakhir terjadi? Berdasarkan perhitungan siklus precission planet bumi, maka Golden Age terakhir mencapai puncak kejayaannya 13,000 tahun yang lalu. Di masa itulah banyak megalith dibuat. Kemudian perlahan manusia mengalami penurunan ke arah Silver Age. Terjadi banjir besar yang memusnahkan hampir seluruh kehidupan di bumi. Zaman Es berakhir sekitar 10.500 tahun yang lalu. Pada hampir semua kebudayaan kuno di bumi ini (termasuk Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Maya, Inca, dan lainnya) menceritakan adanya banjir besar di masa lalu yang membinasakan umat manusia. 

Di dalam kebudayaan Hindu, dipercaya bahwa di masa lalu bumi pernah dihuni oleh dewa-dewi (gods, atau demi gods) yang mana mereka berwujud manusia namun memiliki kemampuan super. Seiring dengan berubahnya zaman ke arah yang lebih rendah, keseimbangan mulai terkikis. Sifat masculine mulai mendominasi. Ego dan nafsu mulai berkembang, manusia-manusia itu memerangi satu sama lain yang pada akhirnya saling membinasakan. Kisah-kisah peperangan ini dapat dibaca di kitab "Puranas", dalam bahasa Sanskrit yang artinya "Sejarah". Ajaran Hindu mengatakan kepada kita bahwa manusia telah mengalami devolusi, bukan evolusi seperti pada teori evolusi Darwin. Pada awalnya, manusia adalah makhluk spiritual yang kemudian ber-de-volusi menjadi manusia seperti sekarang. Human was descended from higher being to lower being. Human was devolved, Not evolved.

Begitupula di kebudayaan agama-agama Abraham (Yahudi, Kristen, dan Islam) diberitakan mengenai para manusia dan nabi pendahulu yang berwujud fisik jauh lebih tinggi dan besar dibanding manusia sekarang, dengan usia mencapai kurang-lebih 1000 tahun. Juga diberitakan Nabi Sulaiman/Solomon yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan seluruh makhluk di bumi seperti hewan, tumbuhan dan jin.

Kalau anda bertanya kepada saya; apakah cerita atau teori mengenai manusia kuno yang lebih tinggi peradabannya itu benar? Maka saya akan balik bertanya kepada anda; apakah anda tidak meyakini kitab suci anda?
Mengapa saya bersikap seperti itu? Di tulisan saya ini saya ingin menunjukkan bahwa apa yang ditemukan atau diajukan mengenai adanya manusia kuno yang tinggi peradabannya justru relevan dengan cerita di dalam kitab kuno (termasuk kitab suci agama). Dan hal ini ditunjang dengan penemuan-penemuan arkeologis
Satu hal yang menyulitkan kita adalah tidak adanya penanggalan yang jelas di dalam kitab-kitab itu mengenai kapan peristiwa-peristiwa yang diceritakan itu terjadi.
Namun jelaslah bahwa kita tidak bisa berpegang pada sumber arkeologi main-stream atau scholar saja, sumber-sumber dari kebudayaan-kebudyaan kuno juga harus mendapatkan perhatian dan pertimbangan. Justru para peneliti-peneliti bebas seperti Robert Bauval, tidak terbelenggu oleh batasan-batasan yang ditentukan/dibuat oleh para arkeolog main-stream, yang bisa membuka mata dan pikiran lebih luas untuk melihat bukti dan fakta sejarah di hadapannya.

Sudah ditakdirkan bahwa manusia akan menjadi penghancur sekaligus tauladan di muka bumi ini. Sudah dikatakan pula di dalam Alqur'an bahwa manusia telah diturunkan dari tempat tertinggi ke tempat terrendah.


Next Step

Setelah dijabarkan di atas, bahwa kita, manusia modern sekarang, hidup di zaman terrendah (Iron Age), dan sedang dalam proses untuk naik kembali, maka anda mungkin bertanya, apa yang harus kita lakukan? Apakah manusia akan naik atau ascend dengan sendirinya ke zaman yang lebih baik dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi tanpa harus melakukan apa-apa?
Manusia harus melakukan sesuatu. Tanpa tindakan, maka manusia akan lebih lama di kondisi terbawah.

Yang perlu dilakukan adalah dengan cara belajar untuk mulai memahami diri sendiri. Melatih ketujuh kelenjar-kelenjar di dalam tubuh agar lebih aktif sehingga kepekaan kita terhadap alam sekitar meningkat. Sadarilah bahwa setiap manusia memiliki zat Tuhan. Kita adalah Satu. Tidak ada yang ditutup-tutupi dalam sebuah kesatuan. Manusia adalah satu dengan alam, dengan Tuhan. Dan hanya ada satu yang dirasakan dalam kesatuan; cinta.

Banyak orang menganggap alam materi tidak patut dihubungkan dengan alam spiritual. Praktik materialisme tidak ada kaitannya dengan praktik spiritualisme. Aktivitas spiritual hanyalah pelengkap hidup dan hanya baik dilakukan di dalam tempat ibadah. Ini adalah paradigma yang salah. Sesungguhnya, kedua faktor alam materi dan spiritual haruslah dalam kondisi seimbang. Manusia harus mulai melakukan perjalanan jauh ke dalam diri untuk menemukan dan membangkitkan kualitas diri yang terpendam dan terlupakan selama ribuan tahun - The Sacred Feminine. Di dalam sana hanya ada Satu kesadaran (consciousness), Satu kebenaran yang hakiki (ultimate truth). Satu Realita yang hakiki (ultimate reality). Sebuah ke-Satu-an atau “Oneness”. 


The Wisdom

Jadi, siapakah sebenarnya nenek-moyang manusia? Mereka itukah kaum nabi Adam? Bila benar, maka Adam harusnya sudah ada jauh sebelum Golden Age terakhir, yakni sebelum 13,000 tahun yang lalu. Sejauh apa sebelum itu? Tidak ada yang tahu. Dan mengapa tidak ada satupun informasi mengenai ‘waktu’ hadirnya Adam itu kita temukan di kitab-kitab? Apakah sejarah manusia tidak dianggap penting bagi ajaran-ajaran agama? Apakah kita selamanya tidak akan bisa menemukan jawabannya?

Jika kita yakini bersama bahwa sejarah manusia diawali oleh Sang Adam, maka tentunya di masa lalu hanya ada satu kebudayaan di bumi ini. Dan menurut kitab, manusia kemudian terpecah-pecah dalam suku dan bahasa yang berbeda. Dimanakah posisi kejadian itu pada garis sejarah kita? Sudah ada berapa banyakkah Golden Age di masa lalu?

Dan kemana mereka? Punahkah? Mengapa mereka bisa punah?
Mengapa harus ada siklus zaman? Dan mengapa siklusnya harus seperti itu?
Tentunya inilah misteri terbesar manusia.

Saya berpendapat pengetahuan akan sejarah manusia sangatlah penting artinya bagi kita. Kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Mereka meninggalkan petunjuk-petunjuk untuk kita. Kita hanya harus mengasah indera-indera kita untuk bisa melihat petunjuk-petunjuk itu. Hal ini pernah dinyatakan oleh Llewellyn Vaughan-Lee, bahwa hanya dengan kepekaan indera yang terus diasah dengan meditasi terdalam (samadhi), maka kita akan mampu mengerti mengenai apapun yang ada di alam semesta ini.

Untuk mengetahui sejarah manusia yang tidak lain adalah nenek-moyang kita, maka kita harus mengalami sejarah itu kembali untuk kita sendiri. 



-------------------------------
Catatan:

Apa yang saya tulis di atas bisa benar bisa juga tidak. Saya serahkan kepada anda untuk menentukannya. Ini adalah suatu ajakan kepada pembaca untuk ikut mencari sebuah kebenaran yang hakiki.


Video tambahan:

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Luar biasa. Sudah sejauh mana kita belajar ya ?

Erianto Rachman mengatakan...

Terima kasih telah membaca tulisan saya.
Semoga bermanfaat.

Anonim mengatakan...

Saya menghargai jasa para fisikawan berkatnya Hp dan Laptop dapat memudahkan pekerjaan saya, juga bentuk, awal mula alam semesta dan partikel subatom dapat dijelaskan dengan baik.
...
Saya tahu setiap orang memiliki dasar dan pendirian kuat atas realitas hidup yang mereka anut. Stephen Hawking dan para fisikawan yang menganggap dirinya telah dewasa atas pencapaian puncak ''Theory Of Everything'' merasa yakin tidak ada yang menghendaki kesadaranya eksis, sebab keacakan dunia subatom menjadi acuan pasti bahwa semua probabilitas mungkin terjadi. Padahal mereka tidak mengetahui acuan pasti dari keteraturan.
...
Amerika, Inggris dan Jepang boleh bangga atas kemajuan bangsanya, memang berbeda jauh dengan masyarakat fanatik Agama seperti Arab Saudi dan Indonesia, yang tidak menghasilkan apapun menurut mereka.
...
Saya percaya kolerasi Takdir Tuhan dengan proses-tujuan hidup manusia. Juga kita bebas berprasangka tentang-Nya, sedangTuhan memiliki Hak Otoritas Istimewa.
...
Jika Alam Semesta memiliki maksud dan tujuan, yaitu keselarasan dan keseimbangan, atas eksitensi dari kesadaran manusia, tentunya mengharuskan adanya kehendak tingkat tinggi untuk itu. Saya melihat kecenderuangan itu ada pada aktivitas spiritual atau mistisme.

Erianto Rachman mengatakan...

Terima kasi sudah membaca tulisan saya.
Saya sangat setuju dengan anda. Tulisan saya yang terbaru akan mengangkat mengenai kesadaran tingkat tinggi ini lebih spesifik.
Saya harap anda akan membacanya juga.
Salam, ER

david nainggolan mengatakan...

wah,saya baca berkali-kali masih aja kagum sama uraian anda di artikel ini dan yang sebelumnya,benar2 membuat perspektif baru...
mungkin anda pernah membaca bukunya Jonathan Black, Secret History of The World dan The Sacred History: How Angels, Mystics and Higher Intelligence Made Our World?
Menurut saya buku itu sangat nyambung jika dikaitkan dengan uraian anda di sini,di mana sebenarnya "mind" terjadi before matter,bukan matter before mind,seperti banyak yang diusung budaya kita dewasa ini.

oh iya,saya kemarin pingin nulisin artikel tentang kelemahan teori Evolusi Darwin,kebetulan saya mengambil sumber salah satunya dari tulisan anda,sekalian saya minta ijin hehe
http://edukasi.kompasiana.com/2014/03/12/kelemahan-teori-darwinian-materialism-evolution-yang-paling-besar-dan-mencolok-638046.html

Erianto Rachman mengatakan...

@David Nainggolan:

Terima kasih telah membaca tulisan saya. Silahkan dikutip jika memang bermanfaat.
Mengenai buku, saya sempat hampir memasukkan buku-buku itu ke dalam shppoing cart (amazon.com), tapi kemudian saya tunda dulu karena ada buku-buku lain yang ingin saya baca terlebih dahulu.
Terima kasih atas rekomendasinya. Lain waktu akan saya explore kembali.

david nainggolan mengatakan...

kalau anda berminat membaca versi e-booknya lebih dulu,sambil menunggu versi cetaknya,anda bisa mendownloadnya versi epub
The Secret History of the World: As Laid Down by the Secret Societies
http://bookza.org/book/1130474/ddbec8

untuk software readernya bisa di download di
http://calibre-ebook.com/download


semoga membantu
:)

Anonim mengatakan...

ada manusia dulu yg sudah maju ,seperti diatas dan ada manusia yg purba yg terbelakang seperti teori Darwin ,penelitian ttg manusia yg sudah maju seperti itu di kesampingkan karena banyak link yg terputus ,dan sangat bertolak belakang dng teori evolusi yg runut