Rabu, 19 Juni 2013

Books of Origin




Part 1

Edisi 1

Pendahuluan

Sebelumnya saya akan berterus terang, bahwa saya merasa kesulitan dalam menulis artikel ini. Cukup banyak pertimbangan apakah artikel ini layak tampil dan dibaca atau tidak. Masalahnya adalah bahwa sebaik apapun orang mencoba melakukan penyelidikan dan melaporkan teorinya, hingga menuliskannya di buku, termasuk buku-buku yang saya baca, apa yang diangkat mengundang banyak tentangan dari mereka yang merasa bahwa semua itu tidak benar sampai semua orang yang berlatar-belakang pendidikan formal menyetujuinya (saya menyebutnya para shcolar). Pengkukuhan suatu teori oleh para scholar masih menjadi patokan atau barometer untuk semua teori yang diajukan. Bahkan orang yang mengajukan sebuah teori itu pun, khususnya yang tidak berlatar belakang dari pendidikan formal (sebut saja non-scholar), mendapat tekanan keras karena teori yang dihasilkannya diragukan kualitasnya. Para scholar berpendapat bahwa mereka para non-scholar tidak menggunakan metode-metode scientific dalam melakukan penyelidikan, termasuk memasukkan data-data dan informasi dari sumber yang diragukan kebenarannya.

Jadi menurut para scholar, jika teori dihasilkan dari penyelidikan yang diragukan secara scientific, ditambah data-data yang diambil dari sumber-sumber yang diragukan secara scientific (pseudo-science), maka teori tersebut tidak layak dipertimbangkan sama sekali. Saya pun pernah mencoba mengangkat suatu topik yang saya ambil dari buku Graham Hancock ke sebuah forum kecil. Dan langsung saja saya mendapat komentar pedas yang mengatakan bahwa Karya Graham Hancock adalah "sampah".

Kira-kira seperti itulah situasinya. Karya-karya yang dihasilkan oleh Graham Hancock, Michael A. Cremo, Robert Bauval, dan penulis lainnya akan selalu mendapat julukan "Sampah" dari para scholar. Namun menurut saya, jika mereka mau meluangkan waktu sedikit untuk membaca dan melakukan cross-check atau pengkajian ulang terhadap karya-karya itu ke arah yang yang mereka anggap scientific, maka mereka seharusnya mengakui bahwa terdapat kejanggalan-kejanggalan pada teori-teori bahkan fakta-fakta scientific mereka sendiri, yang harus dipertanyakan ulang dan dikaji ulang kebenarannya oleh mereka sendiri.

Jika karya-karya tersebut dianggap sampah, maka karya-karya seperti apa lagi yang juga berkategori sampah? Apakah kitab suci yang berisikan doktrin-doktrin suatu ajaran atau agama juga sampah?
Kitab suci seperti Al-Quran, Injil, Taurat (Torah), Zabur, Veda, semua tidak scientific. Maka apakah semua itu sampah? Saya bertanya kepada kalian, pembaca blog ini. Sebelum membaca lebih lanjut, camkanlah baik-baik, bahwa anda mungkin sedang membaca sebuah "sampah" sekarang. Dan saya adalah penulis sampah.

Jika ada dari para pembaca yang meragukan topik-topik yang saya angkat dalam semua tulisan saya di blog ini, saya tidak ragu-ragu untuk dengan segala kerendahan hati mengajak anda mengkaji sendiri semuanya. Di sisi sebelah kiri dari blog ini terdapat daftar buku-buku yang sudah saya baca yang menjadi sumber tulisan-tulisan saya. Silahkan dicari dan dibaca dan simpulkanlah sendiri. Termasuk bacalah kitab suci anda. Pertanyakan dan ujilah kebenarannya sehingga anda bisa menyimpulkan sendiri apakah yang anda baca itu sampah atau bukan.

Jika anda termasuk yang mau mencurahkan waktu dan tenaga untuk membaca, maka anda akan menemukan hal-hal menarik bersama saya. Yang paling menarik adalah bahwa ada kesamaan antara kesemuanya itu. Sekukuh apa pun keyakinan anda terhadap sesuatu yang telah diajarkan kepada anda sejak Taman Kanak-Kanak, patut mendapat kaji-ulang. Dan dengan membuka pikiran seluas-luasnya dan memasukkan informasi seluas-luasnya, maka kebenaran yang hakiki akan anda temukan. Ini hanya bisa anda tempuh sendiri, tidak bisa di bangku sekolah. Ini adalah sebuah eksplorasi pribadi. Perjalanan yang bersifat fisik dan spiritual anda sendiri.


UNDERWORLD

Graham Hancock dalam bukunya "UNDERWORLD: The Mysterious Origins of Civilization", adalah sebuah laporan hasil kegiatannya selama bertahun-tahun dalam menyelami banyak situs di dunia. Di dalam ekspedisi yang dimodalinya sendiri itu, ia melakukan banyak penyelaman ke dalam laut di banyak tempat di dunia. Lengkap dengan foto-foto yang bisa anda lihat sendiri, akan banyaknya struktur-struktur bekas bangunan yang jelas tidak mungkin dibentuk oleh alam. Bangunan batu yang sempurna datar dan sempurna tegak lurus 90 derajat, simetris, yang hanya mungkin dibuat oleh manusia. Bangunan-bangunan ini ditemukan di Laut Jepang, India Utara dan banyak lagi.


Apakah manusia zaman dulu tinggal di dalam laut? Apakah manusia dulunya adalah manusia ikan? Sengaja saya bertanya seperti ini untuk menggelitik rasa ingin tau anda. Jika manusia tidak pernah bisa bernafas di dalam air, maka pastinya bangunan-bangunan itu dibangun di atas air. Lalu apakah kemudian setelah dibangun manusia memindahkannya ke dasar laut? Tentu tidak. Kesimpulan yang paling masuk akal adalah bahwa bangunan-bangunan itu dibangun di atas tanah kering, dan kemudian tenggelam karena permukaan air laut yang naik. Setuju?

Ini adalah usaha Graham Hancock dalam menjawab hal yang sederhana, dengan metode yang paling sederhana pula. "Kapankah bangunan-bangunan itu dibuat?" Dikarenakan pengukuran umur melalui metode carbon-dating tidak dapat dilakukan terhadap batu-batuan, maka ia harus menggunakan cara lain. Yaitu mengganti pertanyaannya menjadi, "Kapankah permukaan air laut naik hingga menenggelami bangunan-bangunan itu?" Dengan meminta para ahli geologis di sebuah universitas, ia meminta dibuatkan simulasi pada program komputer dengan mempertimbangkan data-data yang berhubungan dengan zaman es, hingga berakhirnya zaman es - apa yang terjadi pada permukaan bumi, khususnya di daerah dimana bangunan-bangunan itu berada.

Mungkin perlu disinggung sedikit bahwa telah menjadi sebuah pengetahuan formal (yang dikukuhkan oleh para scholar) bahwa ada sebuah periode di masa lalu dimana hampir seluruh permukaan bumi bagian utara tertutup es setebal 2 mil (3.2 Km). Tinggi permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, dan jumlah daratan lebih luas dari sekarang. Dan ada masa dimana es tersebut mencair. Butuh 1,000 tahun bagi es itu untuk mencair, menambah tinggi permukaan laut. Dan ribuan tahun lebih lagi untuk mencapai konsisi bumi seperti sekarang ini. 

Dengan simulasi komputer - dengan cara menghitung mundur, maka dapat dilihat bahwa wilayah tempat bangunan-bangunan bawah laut itu berada, pernah bebas dari air, yaitu sekitar 12,000 tahun yang lalu. Perkiraan ini tepat pula dengan perkiraan dimana 12,000 tahun yang lalu (atau 10,000 tahun SM) adalah saat zaman es berakhir (es mulai mencair) dimulai.

Tidakkah temuan ini menurut anda sangat mencengangkan? Tentu saja! Perlu anda ketahui, telah menjadi pengetahuan formal bahwa kebudayaan manusia modern baru dimulai sekitar 3,000-5,000 tahun SM. Dengan demikian, salahkah saya jika menarik kesimpulan bahwa peradaban manusia harusnya sudah dimulai lebih tua dari apa yang diyakini para scholar? Bukan 5,000 tahun SM, melainkan 10,000 SM!,

Tidak cukup sampai di situ. Jika pada 10,000 tahun SM manusia sudah mampu membangun kota yang kompleks dan sangat luas (seluas Manhattan), maka kapan peradaban manusia-manusia itu benar-benar dimulai?

Saya mengingatkan kepada anda bahwa kita membicarakan peradaban manusia yang harus dimulai dari hanya mampu tinggal di dalam gua, berburu dengan alat-alat senderhana, belum mengenal api, hingga mampu membangun bangunan dari batu besar, yang satu bongkahnya bisa seberat ratusan ton. Seperti misalnya pada reruntuhan bangunan batu yang ada di Puma Punku dan Tiahuanaco di dataran tinggi Bolivia (dan masih banyak lainnya lagi - yang mengindikasikan bahwa mereka harus sudah menggunakan alat canggih yang kuat untuk mengangkatnya, memotongnya, memahatnya, dan meletakkannya dengan susunan sempurna tegak lurus dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Ditambah juga jika anda mencoba memasukan selembar kartu ke sambungan antar batu-batu itu disusun, maka tidak ada celah sedikitpun bagi kartu itu untuk bisa menyelip di antaranya. Boleh dikatakan bahwa peradaban dan teknologi yang telah dicapai manusia-manusia itu sama majunya dengan manusia sekarang. Maka kembali ke pertayaannya; kapan peradaban manusia itu benar-benar dimulai? Maka akan wajar jika saya menjawab; tentunya jauh lebih tua dari hanya 10,000 tahun SM! Seberapa tua? Nanti kita jawab bersama-sama.

Sedikit mengingatkan dan mengajak untuk berpikir sederhana; masih adakah celah bagi para scholar untuk membuang (debunk) fakta ini? Apakah sudah sepatutnya mereka menanggapi temuan ini dengan serius dan melakukan ekspedisi serta penyelidikan serupa? Ya. Seharusnya mereka melakukan itu. Tapi tidak, mereka menilai bahwa temuan bawah laut seperti ini masih terlalu lemah untuk dijadikan bukti peradaban masa lalu, karena bisa saja struktur batu itu semua adalah bentukan alam, seperti erosi air laut. Hingga kini para ilmuwan scholar tidak pernah mau melakukan ekspedisi ke sana. Dan temuan-temuan semacam ini masih dianggap tidak scientific dan tidak layak untuk ditindaklanjuti. Bagaimana menurut anda? Silahkan diamati dan simpulkan sendiri.

Ada sekolompok orang lain yang mencoba mencari jalan tengah atau alternatif dari semua ini. Mereka mempetimbangkan tingkat peradaban masa lalu yang harus sudah sangat maju, namun juga mempertimbangan keteguhan para scholar bahwa peradaban manusia baru dimulai 5,000 tahun SM. Maka mereka mencoba menelurkan sebuah teori yang dikenal sebagai "Ancient Alien Theory". Bahwa ada makhuk asing (alien atau Extra Terrestrial intelligence) dari planet lain yang datang ke bumi dan mendirikan semua bangunan-bangunan itu. Apakah para scholar menerima toeri alternatif ini? Tentu tidak! Semua itu hanya sampah!

Saya pun tidak menerima toeri Ancient Alien, karena sumber-sumber lain yang saya baca justru mengarahkan saya kepada manusia itu sendiri. Bahwa bumi ini punya sejarah panjang. Lebih panjang dari apa yang diketahui orang. Manusia dan Bumi sudah sangat banyak menorehkan cerita. Cerita yang terlupakan. Cerita itu bisa kita temukan lagi. Dan kita akan tau yang kebenarannya.


Yonaguni Monument

      

Tujuh gambar di atas adalah Reruntuhan Bangunan batu di laut dekat pulau Yonaguni, Jepang. Ulasan lengkapnya bisa disasikan di video di bawah ini.



  
The ancient city of Dwarka

  

Dua gambar di atas adalah reruntuhan kota batu yang ditemukan di laut tepi kota Dwarka (http://en.wikipedia.org/wiki/Dwarka), India utara. Atas Kiri adalah hasil pindai sonar yang diambil dari permukaan laut ke dasar laut, dimana ditemukannya reruntuhan tersebut. Gambar atas kanan adalah rekaan / simulasi komputer dengan perspektif 3D kota tersebut.

Kota Dwarka kini/modern yang sekarang ada di India utara, diduga oleh sebagian scholar asal India, adalah nama yang diambil dari kota Dwarka kuno yang ada di dalam kitab Mahabharata, yang diduga kota tesebut hancur di masa lalu akibat perang besar (Pandava melawan Kurava). Masyarakat India sangat meyakini keberadaan kota Dwarka kuno. Dan kini mereka percaya bahwa reruntuhan kota yang ditemukan di dasar laut adalah kota Dwarka kuno. Dwarka adalah kota yang menjadi tempat tinggal / dipimpin oleh Krishna. Oleh karenanya, Dwarka yang sekarang banyak didirikan monumen-monumen serta tempat ibadah untuk menyembah Dewa Krishna.

Video dibawah adalah liputan mengenai Dwarka.




Astronomical Aspects

Saya memilih "Underworld" sebagai pembuka tulisan saya di atas karena saya ingin langsung menunjukkan kepada anda hubungan antara reruntuhan yang ditemukan dengan zaman es (ice age). Dimana sudah ditetapkan secara formal bahwa zaman es adalah lebih dari 10,000 tahun SM. Ini bisa dijadikan patokan atas usia reruntuhan yang ditemukan di dasar laut. Banyak sumber-sumber informasi lain yang bisa anda jadikan bahan pertimbangan. Sebagai contoh buku-buku seperti "Fingerprints of the Gods" oleh Graham Hancock, "Atlantis: The Lost Continent Finally Found" oleh Arysio Santos, dan lainnya. Juga banyak yang bisa anda temukan di youtube yang berupa salinan dari episode-episode menarik History Channel, National Geographic Channel, dll.
  • "Fingerprints of the Gods" by Graham Hancock
  • "Supernatural" by Graham Hancock
  • "Forbidden Archeology: The Hidden History of the Human Race" by Michael A. Cremo
  • "Human Devolution: A Vedic Alternative to Darwin's Theory" by Michael A. Cremo
  • "Atlantis: The Lost Continent Finally Found" by Arysio Santos
Perlu diketahui bahwa satu metode populer yang digunakan ilmuwan untuk mengukur usia suatu obyek adalah dengan carbon-dating (penanggalan karbon). Sayangnya, carbon-dating tidak dapat digunakan bila obyek yang akan diukur tidak memiliki unsur karbon sama sekali. Kita ketahui bahwa semua obyek organik yang terpendam dalam tanah ribuan tahun lamanya akan membantu (menjadi fosil) seluruhnya dan kehilangan unsur organiknya sehingga menjadikan obyek-obyek seperti ini tidak bisa diukur usianya dengan metode carbon-dating.

Ada metode lain yang bisa digunakan selain carbon-dating, yaitu Diatom. Diatom adalah micro-organisme bersel satu yang ada sejak bumi ini terbentuk, hingga kini. Manusia telah mengkatalogkan puluhan ribu jenis diatom di bumi. Jika ada benda (artefact) jatuh ke tanah kemudian tertutup air, diatom pada air kemudian mati di sekitar artefact itu. Kemudian lapisan tanah menutup artefact. Lapisan di atasnya pun mengalami kejadian serupa yaitu diatom yang baru (di lapisan atas) akan mati, terkubur oleh lapisan beriktunya, dan seterusnya. Sehingga, jika orang menggali dari atas hingga ke posis artefact itu berada, orang akan menemukan lapisan-lapisan tanah berikut sisa-sisa diatom. Diatom inilah yang dianalisa di laboratorium untuk dicocokkan dengan katalog diatom yang kemudian ditaksir usia lapisan tanah tersebut - yang berati juga menaksir usia artefact itu sendiri. Namun metode ini tidak dapat dihandalkan untuk menaksir usia bangunan batu yang berada di permukaan tanah yang minim air. Maka kita harus beralih ke metode lain, yaitu seperti yang akan disinggung di bawah ini.

Selain Zaman Es, ada satu lagi aspek penting yang menjadi bahan pertimbangan dalam penaksiran usia suatu peradaban. Yaitu aspek astronomi. Saya sangat menganjurkan anda menonton semua video yang saya tampilkan di sini (Dan mungkin anda perlu menontonnya beberapa kali). Anda akan mengerti dengan bantuan visualisasi yang baik dan narasi yang gamblang mengenai aspek astronomi sebagai acuan penting untuk penaksiran usia peradaban manusia. Anda akan sedikit bergidik hanya dengan membuka pikiran anda sedikit untuk mencoba mengerti apa yang ingin disampaikan oleh para non-scholar itu, para pseudo-science, anda bisa menilai sendiri apakah mereka layak dipertimbangkan secara serius atau tidak. Dan apakah julukan pseudo-science cocok diberikan kepada mereka.

Aspek astronomi penting yang diangkat di sini adalah "Precession". Rotasi bumi pada porosnya tidak selalu diam di tempat. Tapi bumi bergoyang condong sedikit pada intinya sehingga menjadikan rotasi bergoyang (tilted). Anda bisa membayangkan gasing yang diputar - walaupun gasing berputar pada porosnya, ia juga bergoyang ke kanan dan ke kiri. Begitu pula dengan bumi. Inilah precession

Ilustrasi: Precession pada Gyroscope.
Implikasi dari precession ini adalah bahwa bagi seseorang yang berdiri di bumi, bintang-bintang atau benda-benda langit tidak akan selalu tetap pada posisinya. Gugus bintang - gugus bintang akan senantiasa bergerak sesuai precession planet bumi. Siklus precession adalah sekitar 26,000 tahun. Artinya, sebuah gugus bintang, misalkan Cirrus - akan bergerak dari satu posisi di langit hingga hilang dari horison dimana kita tidak dapat melihatnya lagi (tapi bisa dilihat di langit bumi bagian lain), hingga kemudian muncul dari horison dan kembali menuju posisi semula - memerlukan waktu 26,000 tahun.

Kemudian, orang telah mengamati bahwa reruntuhan-reruntuhan bangunan batu di seluruh dunia, seperti Pyramid dan Sphinx di Mesir, Anchor Wat di Cambodia, Reruntuhan kota Tiahuanaco di Bolivia, dan lain-lain, memiliki korelasi dengan posisi gugus bintang di langit (astronomical alignment). Namun kejanggalan-kejanggalan pun ditemukan di sana. Contohnya adalah Pyramid besar di Giza yang menurut para ahli adalah memimik gugus bintang Orion, namun pyramid tersebut berposisi tidak pas dengan gugus bintangnya. Begitu pula Sphinx yang berwujud singa seharusnya menghadap persis ke gugus bintang Leo di langit - Tetapi gugus bintang Leo tidak terlihat di langit Mesir sekarang.

Maka hanya ada satu penjelasannya; Yaitu bahwa bangunan-bangunan itu dibangun oleh manusia ketika gugus-gugus bintang yang dijadikan patokannya masih tampak di langit. Dan dengan memasukkan precession ke dalam analisa ini, berarti kita harus menghitung mundur ke masa lalu dimana gugus-gugus bintang itu masih terlihat di langit Mesir. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan simulasi komputer. Maka kapankah gugus-gugus bintang itu pernah berposisi di langit Mesir? Anda saya anjurkan menonton video di bawah dari awal sampai selesai. Jawabannya ada di sana.




Forbidden Archeology

Adapun temuan-temuan lain juga tidak kalah pentingnya. Saya perlu menyampaikan sebuah buku yang menjadi sumber informasi saya, yaitu "Forbidden Archeology: The Hidden History of the Human Race" karya Michael A. Cremo dan Richard L. Thompson. Buku ini saat pertama kali diterbitkan cukup mengejutkan dunia. Terutama dari para scholar, yang tentu saja menentang apa yang dilaporkan di dalam buku tersebut. Buku setelah 900 halaman lebih ini mengangkat semua temuan-temuan arkeolog yang bersifat kontroversial, karena menentang apa yang diajarkan di text book sekolah. jika terbukti kebenarannya, ini berarti semua buku sejarah di dunia harus ditulis ulang.

Cremo dan Thompson menampilkan ratusan penemuan oleh archeologist di dunia dari yang diakui dan yang tidak diakui oleh komunitas science. Tidak diakuinya ratusan temuan-temuan itu dikarenakan kejanggalannya yang mencolok, yaitu taksiran usia artefact-artefact yang berumur jutaan tahun! Tentu saja hal ini sangat kontradiktif dengan mainstream science. Temuan-temuan itu tidak mendapat tempat di komunitas scholar. Ditutup, dilupakan. Bahkan para scholar yang mengajukan teori atas temuan-temuan kontradiktifnya itu dikucilkan dan karirnya berakhir tragis. Seperti yang dialami oleh Geologist Virginia Steen-McIntyre, PhD. Bukti-bukti yang diajukan pun kerap dinyatakan hilang.

Begitu besar pengaruh tulisannya pada dunia, sang penulis, Michael A. Cremo, diundang oleh berbagai universitas dan komunitas-komunites pemerhati sejarah di seluruh dunia untuk meyampaikan kuliah atau ceramah mengenai buku yang ditulisnya.

Saya tidak akan mengulas jauh atau menyadur ulang buku besar ini. Jika anda tertarik akan isi seluruhnya, saya sarankan anda membacanya sendiri sehingga anda punya pandangan unik yang mungkin berbeda dengan saya, dan kita bisa membahasnya. Namun cara terbaik yang singkat adalah bila anda menyaksikan video di bawah ini. 




Human Origin?

Saya harap saat ini anda sudah menyaksikan semua video yang saya pilih di atas. Penting untuk anda menyaksikan semua video itu sebelum melanjutkan membaca tulisan ini lebih lanjut.

Lalu, bagaimana kita bisa menjelaskan asal-usul manusia sebenarnya? Apakah manusia berevolusi dari kera seperti pada teori Darwin? Bukti-bukti kontradiktif mengisyaratkan bahwa manusia sudah memulai peradaban jauh lebih tua dari perkiraan para scholar. kita tidak berbicara ribuan tahun, tapi ratusan-ribu hingga jutaan tahun!. Ini artinya ada masa dimana manusia hidup bersama dengan makhluk kera yang diprediksi Darwin, juga bersama dinosaurus.

Apakah ada penjelasan lain yang lebih baik? Begitu sulitkah kita menerima bahwa peradaban manusia mungkin sudah dimulai jutaan tahun yang lalu? Anda kemudian mulai memicingkan sebelah mata dan mulai meragukan semua yang anda baca di sini karena ada pertentangan dengan keyakinan anda, dengan doktrin yang terpartri di dalam tulang dan darah anda sejak anda lahir. Ini adalah sebuah revolusi cara berpikir. Anda boleh menutup halaman ini dan berhenti membaca sekarang, atau anda masih bersedia membuka pikiran anda sedikit lebih luas, dan meneruskan membaca.

Anda tidak perlu khawatir karena saya pun pernah mengalami keraguan serupa. Bila keyakinan saya dipertanyakan kebenarannya, maka sikap saya adalah mencoba mengkajinya. Bagi saya, mengetahui kebenaran yang hakiki jauh lebih penting dari doktrin apa pun. Sedikit kebenaran jauh lebih berharga ketimbang doktrin seumur hidup. Lagipula saya tidak ingin meletakkan keyakinan saya pada (maaf) "sampah".

Bagaimana menerimanya? bagaimana cara berdamai dengan apa yang anda ketahui dan membuat pikiran tenang kembali? Apakah anda merasa lebih baik tidak tau sama sekali?


===============

Selanjutnya saya akan mulai memasuki pembahasan inti yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Anda boleh mengatakan bahwa ini akan menjadi sebuah alternative of Human Origin, Alternate History, atau anda boleh saja berpendapat bahwa ini hanyalah sebuah pendapat dan kisah satu arah tanpa perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebuah mitos. Dongeng. Tidak lebih.

Apapun pendapat anda, saya sudah cukup berterima kasih kepada anda yang sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca sampai di sini. Ini bukan doktrin. Kita semua bebas berbeda pedapat. Dan akan jauh lebih baik jika anda juga bisa meluangkan waktu melakukan eksplorasi sendiri di topik ini. 


Bersambung ke Part 2



===============
ER


8 komentar:

Adam mengatakan...

Salam dari Malaysia!

Terima kasih pak!Saya selalu membaca postingmu sejak 2009.Teruskan menulis.Bagus tulisan ini!


Adam Rizki

rainbowrainandsunshine mengatakan...

apa uda pernah baca conversation with god book 3? itu bagus banget nyeritain bginia2 juga. sama alien interview. itu juga berhubungan sama civilization asli.

Erianto Rachman mengatakan...

@Adam Rizki:
Terima kasih sudah mengikuti tulisan saya sejak 2009. Semoga saya tetap diberikan ilmu yang memadai untuk terus menulis.

Erianto Rachman mengatakan...

@rainbowrainandsunshine:
Saya belum membacanya.
Namun inilah kekhawatiran saya. Anda mengatakan bahwa buku itu "nyeritain bginia2 juga" mensyiratkan bahwa apa yang saya tulis sudah jauh menyimpang dari mainstream science.

Saya berusaha sebaik mungkin bahwa apa yang saya tulis masih layak dibaca oleh siapapun yang berada di mainstream. Tapi memang seorang yang bukan berasal dari mainstream tidak akan mampu menulis sebaik mereka yang mengenyam pendidikan mainstream. :-)

Adapun demikian, saya selalu berusaha mengajak pembaca berpikir bahwa pada akhirnya kita mau membuka pikiran bahwa manusia berasal dari "atas" dan "turun" ke bawah. bukan sebaliknya.

Manusia ada makhluk mulia dan mampu kembali ke "atas" dari tempat kita yang sekarang di "bawah" ini.
Bahwa spiritual adalah cara, dan transformasi dari material ke immaterial.
Dan seharusnya mainstream science pun sepaham dengan ini. Seperti yang diyakini pula oleh DR. MD. Santo.

Jadi, tulisan saya pada tingkat ini adalah sebuah ajakan perjalanan spiritual bagi pembaca. membuka mata hati dan mencari Tuhan di kebenaran / realita yang hakiki.

rainbowrainandsunshine mengatakan...

@mas erianto saya pernah denger "words doesn't teach, life experience does" mungkin kata2 saya yang itu keliru me representasikan dengan apa yang sebenernya yang ingin saya sampaikan. hehehe

sbnernya apapun itu uda sangat mainstream sepertinya (walaupun ini penilaian saya sih bukan pengamatan) terutama bagi scientist. namun jelas ga bakal jadi mainstream di tv nasional indonesia hahaha.

hmm, kenapa berpikiran untuk mengajak dibandingkan dengan menawarkan konklusi yang mas tulis, karena kalau mengajak orang ga mau gimana? mending santai dan orang seperti saya dan mas adam dari malaysia dan juga pasti banyak yang lainnnya juga pasti dateng untuk baca tulisan ini.

saya bisa baca tulisan mas eri yang keren tapi berat banget buat saya pribadi bukan cuman sekedar blog walking, tapi saya juga mencari kebenaran dan banyak bertanya. karena mungkin tidak seperti mas eri saya belum tercerahkan sehingga saya banyak pertanyaan.

dan saya yakin banyak banget orang2 bedon seperti saya yang juuga nyari tulisan2 seperti ini. jadi ini bukan kebetulan tapi juga semesta merancangnya demikian. klo menurut saya dont try too hard mas, malah jadi banyak pertentangan dan konflik.

bocoran dikit aja, kali aja kita bisa diskusi lebih lanjut. haha
alien interview adalah sebuah buku yang berisi laporan resmi dari airforce amerika tentang insiden jatuh nya ufo di roswell. nah setelah alien nya itu di bawa, alien nya di interview melalui secara telepatik sama seorang wanita,perawat berusia 23 taun. setelah beberpaa minggu alien itu bercerita tentang alam semesta ini. dan selanjutnya percis seperti apa yg mas eri tulis di cosmic religion.

we are all one, mengindividualisasi menjadi berbagai macam entiti.

yg keren, alien itu bilang badan manusia itu produk mereka. kita semua hybrid being. dan bumi adalah penjara bagi entiti di semesta yang membangkang. seru mas serius. thx

Erianto Rachman mengatakan...

Saya tidak memasukkan Extra Terrestrial Intelligence Entity ke dalam tulisan saya.
Mungkin tidak akan sama sekali.
Dan saya tidak akan berkomentar apapun mengenai hal tersebut.

rainbowrainandsunshine mengatakan...

but it's worth to read and i convince you. kecuali klo mas eri berpendapat kedua buku ini "sampah". then, i couldn't do anything :(

keep writing!

nb: klo rsvp buat nonton the fabric of the universe (bner ga sih nih judulnya) masih beberapa bulan lagi saya boleh dateng ya mas hehe

Erianto Rachman mengatakan...

Silahkan datang. terbuka untuk umum kok.
Tapi daftar (RSVP) nya belum dibuka. Saya bersama teman lain masih cari lokasi dan saya masih mengerjakan subtitle bahasa indonesianya.