Wednesday, April 16, 2014

Alchemy: Science of the Heart

The Knowing Heart



Edisi 2.0

Sinonim: Hati, Qalb (Qolbu), batin, heart.

Sebelum membaca, pahamilah adanya tingkatan dari ‘mengetahui’ atau “Knowing”: 

  1. Mendengar mengenai sesuatu, mengetahui (knowing) disebut apa sesuatu itu.
    “Seorang musisi adalah orang yang telah belajar memainkan alat musik”. 
  2. Mengetahui (knowing) melalui persepsi indera.
    “Saya telah melihat seorang musisi dan mendengarkan musik”. 
  3. Mengetahui (knowing)/paham ‘akan’/ mengenai sesuatu.
    “Saya telah membaca buku mengenai musik dan musisi”. 
  4. Mengetahui (knowing) dengan melakukan dan menjadi sesuatu.
    “Saya telah mempelajari instrumen musik dan menjadi seorang musisi”.
  5. Mengetahui (knowing) melalui pengertian/pemahaman dan mampu mengaplikasikan pemahamanny itu.
    “Saya telah menguasai instrumen musik saya dan mengajarkan orang lain untuk menjadi seorang musisi”.
  6. Mengetahui (knowing) melalui pemahaman bawah-sadar.
    “Saya memainkan musik lebih dari nada yang tertera pada partitur, saya bermain musik dari hati”. 
  7. Mengetahui (knowing) di hati terdalam, kebenaran yang hakiki.
    Penjelasan untuk tingkatan ini sangat sulit dijabarkan. Pada tingkat ini seseorang telah meniadakan dinding pemisah antara logika dan hati. Antara material dan spritiual, Ia mengetahui segalanya. Ia sudah berada pada ke-SATU-an (Unity of the One, Oneness) dengan kebenaran yang hakiki. Ia telah mampu mengaktifkan seluruh chakra-nya dan berada pada ranah pengetahuan yang hakiki. Tidak ada yang tidak diketahuinya. He/she becomes omniscience. 

“The heavens, and the earth cannot contain Me, only the hearth of My faithful servant can contain Me.” (Hadits Qudsi) 


River, Pond, and Fish
(Sungai, Kolam, dan Ikan)

Adalah sebuah sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Di dalamnya ikan-ikan berenang searah aliran sungai. Engkau berada di tepi sungai itu. Tepat di bawah kakimu ada sebuah kolam kecil dimana sebagian air sungai mengisi kolam tersebut.

Suatu ketika, seekor ikan masuk ke dalam kolammu. Kau melihat ikan tersebut terjebak ke dalam kolammu. Kau mengetahui bahwa cepat atau lambat akan ada ikan yang masuk ke dalam kolammu. Kau merasakan kebahagiaan yang tak terbayangkan. Namun kemudian ikan tersebut menemukan jalan keluar dan kembali ke sungai. Engkau merasakan kesedihan yang tak terbayangkan.

Engkau pun berpikir untuk mengupayakan agar akan ada ikan lain yang masuk ke dalam kolammu. Engkau merapihkan kolam dan menunggu. Beberapa waktu kemudian ada seekor ikan yang masuk. Kau menyambutnya dengan penuh rasa bahagia dan antisipasi. Lebih dari itu, engkau memberinya makan. Ikan pun tinggal lebih lama di dalam kolam. Beberapa waktu kemudian ikan menemukan jalan keluar dan ia pun kembali ke sungai. Kolam anda kosong kembali. Anda merasakan sedih yang tak terkira.

Kau pun kembali mengupayakan agar di lain kesempatan ikan akan tinggal selamanya di dalam kolam anda. Kau mulai belajar, menimba ilmu. Kau tau bahwa ikan akan tinggal di dalam suatu lingkungan dimana ia mendapati semua kebutuhannya di situ. Maka kau merubah bentuk kolammu, melengkapinya dengan rumah-rumahan ikan, tumbuh-tumbuhan, menjaga kebersihan air dan ketercukupan oksigen, serta berlimpahnya makanan. Satu waktu kemudian seekor ikan masuk ke dalam kolammu. Engkau kali ini mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk menjaga ikan tersebut untuk nyaman di dalam kolam. Dan benarlah, ikan tersebut menikmati keindahan kolam dan menikmati makanan berlimpah yang tersedia. Ikan tinggal di dalam kolam itu bertahun-tahun lamanya. Ia tumbuh menjadi besar dan indah. Kau merasakan kebahagiaan yang tak pernah anda bayangkan sebelumnya.

Namun, setelah sekian lama, ikanpun menemukan jalan keluar dari kolam dan ia kembali ke sungai. Kau merasakan kepedihan yang teramat dalam, sedih, amarah, dan kekecewaan yang terlalu dalam dan tidak dapat dihadapi. Usaha dan jerih payah yang telah dilakukan ternyata berakhir begitu saja. Kau ingin mengakhiri permainan ini. Kau ingin mati saja.

Apa yang anda pikirkan setelah membaca cerita di atas? 

Kolam yang sudah anda buat adalah hasil dari upaya yang maksimal. Maka ia menjadi sangat indah, ukurannya jauh lebih besar dibandingkan kondisi awalnya, karena anda telah membesarkan ukurannya, dan mengisinya dengan segala bentuk keindahan. Kolam itu akan tetap ada di situ. Kolam itu adalah milik anda.

Sedangkan Ikan, bukan milik anda. Ikan akan selalu mencari sungai. Ia tidak akan selalu berada di dalam kolam. Ia akan selalu mencari sungai kembali.

Maka ketahuilah, bahwa tugas anda bukanlah mencari ikan. Melainkan membangun kolam. Kolam itulah anda. Kolam adalah bentukan spiritual dan material anda yang sesungguhnya. Sedangkan ikan adalah materi duniawi – harta kekayaan, kesuksesan, dan gemerlap kehidupan duniawi, juga termasuk pengetahuan dunia dan pengalaman.

Mungkin anda termasuk di antara mereka yang membangun kolam karena ada ikan yang masuk terlebih dahulu. Atau anda mungkin termasuk di antara mereka yang menyadari kebenaran, dimana anda membangun kolam sebelum ikan itu datang. 

Setelah kolam terbentuk sempurna, anda mungkin termasuk dari mereka yang mengalami kejadian seperti cerita di atas, yaitu kecewa bila ikan keluar dari kolam. Dan hanya sebagian kecil manusia yang menyadari bahwa pada hakikatnya, ikan itu bukan milik anda dan tidak akan pernah menjadi milik anda.

Setelah anda terpuruk, maka anda akan menyadari hancurnya ego. Anda mulai mencari hati anda dan berpikir dengan hati (taubah). Kemudian anda akan melihat betapa indahnya kolam yang anda miliki. Kemudian tidak ada yang lain yang bisa anda lakukan selain menjaga kolam tersebut, ada maupun tidak ada ikan di dalamnya. Anda terus membangun kolam tersebut tidak terpengaruh dengan ada atau tidak adanya ikan di dalamnya. Ikan tidak lagi jadi relevan untuk anda. Jika ada ikan masuk, maka anda akan menjaganya baik-baik. Dan ketika ikan itu pergi, anda pastikan bahwa ikan itu pergi dengan hati yang berbahagia dan anda merelakannya dengan hati yang berbahagia pula. Hanya ada rasa syukur di dalam hati anda. Karena anda tau kebenaran yang hakiki. Anda tau beginilah seharusnya permainan ini dimaikan. Demikianlah hidup ini harus dijalani.

Anda terus memperluas kolam anda. Anda terus menimba ilmu untuk menjadikan kolam anda lebih baik dari sebelumnya. Dan pada setiap titik waktu, anda selalu bersyukur atas keindahannya.

Entah anda sadari atau tidak, suatu saat ada sepuluh ekor ikan masuk beramai-ramai ke dalam kolam anda. Mereka hidup bebas tidak merasakan perbedaan di sungai maupun di kolam. Mereka tidak merasakan perbedaannya karena tanpa anda sadari kolam anda sudah berubah menjadi serupa sungai itu sendiri. Begitu luas dan dalamnya sehingga ikan tidak lagi melihat celah untuk membedakan kolam dan sungai. Ikan berkembang biak semakin banyak. Tak terasa beberapa tahun kemudian jumlahnya menjadi ribuan. Dan mereka pun masih tidak menemukan tapal batas ukuran kolam anda. Kolam anda menjadi terlalu besar hingga menciptakan alirannya sendiri. Air terus mengalir di dalam kolam anda. Kolam anda memiliki ekosistem sendiri. Ikan tidak perduli lagi apakah mereka akan kembali ke sungai, karena bagi mereka, mereka sudah dan selalu berada di habitat mereka. Sungai!

Apa yang anda rasakan saat itu? Anda tetap tidak merasakan memiliki ikan itu. Ikan-ikan yang jumlahnya telah menjadi ribuan itu tetap bukan milik anda. Anda justru merasa terpanggil untuk membuka lebih lebar pintu/celah di kolam anda ke sungai agar sebagian ikan bisa keluar dari kolam dengan bebas. Anda membiarkan ikan-ikan itu pergi. Sebagian besar ikan memilih tetap tinggal di kolan anda. Di sini keseimbangan terjadi.

Ikan-ikan yang beraneka ukuran, beraneka warna itu menjadi bagian dari kolam anda dan menjadi komponen penghias kolam anda. Kolam anda menjadi hidup! Dan suatu ketika anda bisa mendengar percakapan di antara mereka. Karena anda mengerti bahasa alam, anda mengetahui pengetahuan yang hakiki. Mereka bercakap-cakap mengenai pengalaman mereka berada di kolam yang lain. Mereka berbagi pengalaman, berkelakar, berkeluh kesah, bersyukur, tersenyum dan merasakan bahagia. Anda mendengar semua itu dan tidak ada rasa yang patut ditanam di dalam hati selain rasa takjub akan pengetahuan yang anda miliki saat itu. Dan tidak ada satu titik pun pada waktu yang tidak anda penuhi dengan rasa syukur kepada seluruh alam Yang Maha Satu.

Di kondisi ini anda mengetahui pula bahwa apa yang anda rasakan, dirasakan pula oleh ikan-ikan itu. Terjadi jalinan hati yang menyatu dalam ke-SATU-an. Sungai, kolam, ikan dan anda adalah SATU. Sekarang anda menjadi satu dengan semua komponen di alam ini. You now have the heart that knows everything. You now have The Knowing Heart. 

“The heavens, and the earth cannot contain Me, only the hearth of My faithful servant can contain Me.” 

Engkau adalah Dia. Kau adalah seluruh alam ini. Dan seluruh alam ini adalah dirimu. Kau adalah cermin untuk-Nya dan Dia adalah cermin untuk dirimu. Sebagian orang tidak mengerti hal yang paling mendasar ini, bahwa kau dan Dia adalah SATU. Inilah kebenaran yang hakiki. 



The Compass
(Kompas)

Tersebutlah seorang pengembara spiritual. Sejak mudanya ia haus akan pengetahuan dunia dan akhirat (spiritual). Ribuan buku telah dibacanya dan puluhan Negara telah dijelajahinya. Ia bertemu dengan banyak ilmuwan dan agamawan. Ia bertemu professor sampai ke biksu, kyai, pendeta, pastur, dari berbagai agama, semua, yang paling mengetahui mengenai ketuhanan. Ia pun mengikuti praktik-praktik ajaran-ajaran spiritual. Sang pengembara sangat ingin mengetahui kebenaran yang hakiki. Bagaimana sesungguhnya alam ini dan apa tujuan manusia diciptakan. Serta banyak pertanyaan lain yang tidak bisa ia penuhi jawabannya.

Karena kegigihannya ini, ia seperti memiliki kompas di dalam dirinya yang selalu bergerak menunjukkan arah padanya. Ia mengikuti arah kompas karena di sana ada orang lain yang cukup berilmu yang bisa ia temui untuk berdiskusi, menimba ilmu, yang mungkin dapat memenuhi dahaganya akan sebuah penjelasan yang sempurna akan kebenaran yang hakiki.

Kompas di dalam dirinya terus bergerak dan berputar.Ia pun dengan tanpa merasa lelah sedikitpun mengikuti arahan kompas tersebut. Selama 30 tahun ia terus mengembara kemanapun kompas yang ada di dalam dirinya menunjukkan arah padanya. Menginjak usianya yang ke 50 tahun, ia mulai merasa kelelahan pada fisik badannya. Ia sudah merasa kurang mampu melakukan perjalanan jauh seperti yang biasa ia lakukan. Oleh karena kehidupan yang selalu bergerak dan dinamis, maka ia tidak sempat berpikir untuk berkeluarga. Sekarang ia hidup sendiri. Sebatang kara. Namun ia masih dapat merasakan kompas di dalam dirinya selalu bergerak.

Di suatu sore, ia duduk di teras depan rumahnya. Ia melihat ada dua orang anak yang sedang bermain sepeda. Tak disengaja ia mendengarkan kedua anak itu bercakap-cakap. Seorang anak lebih besar dari yang satunya. Mereka kakak dan adik. Sang adik sedang belajar mengendara sepeda. Sang kakak mengikuti di belakanganya mengajarkan sang adik utnuk bersepeda. Setiap kali sepeda dikayuh, si adik menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri sehingga sepeda pun oleng dan jatuh. Setelah beberapa kali kejadian yang serupa menimpa si adik, sang kakak berkata,

“Janganlah kau bergoyang-goyang terus, kau akan terjatuh! Diamlah maka kau akan bergerak lurus!”

Seperti ada halilintar menyambar sang pengembara setelah mendengar ucapakan anak itu. Ia terjaga, ia terkejut. Ia manangis. Sang pengembara sekarang mengerti apa yang terjadi selama 30 tahun ini. Ia menangis dan terus menangis.

Malam harinya ia duduk di atas lantai di dalam rumahnya. Ia bermeditasi. Ia telah bermeditasi selama puluhan tahun. Namun kali ini ia melakukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Ia melihat ke dalam dirinya. Ia melihat kompas yang ada. Masih bergerak. Kemudian ia menututp mata, berhenti mengendar melalui telinga, dan yang terutama ia putuskan tali pikiran dari otak ke seluruh tubuh. Yang terjadi kemudian adalah kompas itu berhenti bergerak.

Kompas berhenti bergerak. Bukan hanya itu, sekarang kompas itu sirna. Hanya ada jarum penunjuk yang terdiam tanpa menunjukkan arah apa-apa. Setelah 30 tahun barulah ia rasakan ‘diam’ yang sesungguhnya. Ia memasuki alam tanpa batas. Ia dalam keadaan ‘sadar’, karena seluruh chakra-nya terbuka sempurna dan ia rasakan aliran energy besar datang dari segala arah. Ia berada di suatu tempat dimana ia menemukan jawaban yang sempurna atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai kebenaran yang hakiki.

Ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang di dalam pelukan erat seorang ibu. Ia merasakan aliran energy cinta yang sangat besar. Hatinya menangis karena bahagia. Tidak pernah ia merasakan cinta sebesar ini. Sekarang ia tahu segalanya.

Selama ini ia bagaikan berada di depan sebuah rumah. Ia tau ia harus masuk ke dalam rumah, namun ia ragu. Dilihatnya di halaman rumah ada rumput, pohon dan bunga.

Ia bertanya kepada rumput, “ada apa di dalam rumah?”
Rumput menjawab, “ada padang luas dimana aku bisa tumbuh lebih leluasa.”

Ia bertanya kepada bunga, “ada ada di dalam rumah?”
Bunga menjawab, “ada taman yang subur dimana aku bisa tumbuh.”

Ia bertanya kepada pohon, “ada apa di dalam rumah?”
Pohon menjawab, “ada banyak pohon dimana aku tidak lagi sendirian.”

Malam itu sang pengembara mengerti, bahwa tidak ada satu bahasa pun di dunia ini yang mampu menjelaskan dengan sempurna kebenaran yang hakiki, Setiap bahasa akan berusaha semampunya untuk menjelaskan, namun tidak ada yang sempurna. Sekarang ia tahu bahwa semua jawaban itu pada intinya adalah sama. Rumput, bunga, dan pohon semuanya menjawab hal yang sama. Dalam bahasa ruh. Bahasa ruh adalah bahasa yang tidak terucap. Karena jika terucapkan, maka ia akan terdengar berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Selama ini ia mengikuti arah kompas. Selama ini kompas selalu menunjukkan arah yang benar, namun ia belum tau bahwa arah yang sebenar-benarnya adalah di kala tidak ada lagi arah yang dapat ditunjukkan. Dikala jarum berhenti sempurna karena tidak ada arah yang bisa ditunjukkannya.

Di dalam rumah itu hanya ada dia dan DIA.
Karena pengembara dan Sang Pencipta adalah SATU. Ia adalah cermin bagi-Nya. Dan DIA adalah cermin untuk dirinya. Seperti dua cermin yg berhadapan. Masing-masing akan memantulkan bayangannya kembali. Namun kebenaran yang hakiki adalah bahwa cermin itu tidak ada.

Sang pegembara sekarang berada di dalam ketiadaan. Kosong. Realita yang selama ini ia ketahui sirna. Tidak ada wujud. Tidak ada duality. Tidak ada polarity, tidak ada apapun. Di sini semua ikatan kemelekatan antar partikel di dalam tubuh dan alam terurai dengan sempurna.

Jika kau percaya bahwa Tuhan adalah medium di mana kita eksis di dalamnya, maka tadinya ia berada di tengah-tengah medium, sekarang ia terurai dan berada pada tepian medium. Di tepian ini ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Karena memang tidak ada apa-apa lagi di luar ini. Hanya Nothingness. Ruh bersatu dengan Allah, Atman bersatu dengan Brahman. Ia telah bertemu Tuhan.

Kekhawatiran, sirna.
keinginan, sirna.
Penderitaan, sirna.

Ia dipenuhi rasa syukur.


Tambahan akhir cerita.
Sang pengembara sekarang tidak lagi mengembara. Ia menikahi seorang perempuan yang selama ini setia membaca cerita pengemabarannya melalui surat-surat yang ia kirimkan dalam setiap pengembaraannya. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Mereka hidup sangat bahagia dan di setiap titik waktu dalam hidup mereka, hanya ada rasa syukur.


----------------------------------------------------------

“The heavens, and the earth cannot contain Me, only the hearth of My faithful servant can contain Me.” 


This is Alchemy: The Science of the Heart. 

OM  Shanti  Shanti  Shanti