Selasa, 29 November 2016

Superconductivity




"I love you as God loves me."

Edisi 1

Suatu hari, setelah saya berpamitan dengan sang guru, saya menerima sebuah flash drive darinya. Dia meminta saya mempelajarinya. Satu tahun lamanya hal itu tidak saya lakukan. Entah karena apa, mungkin karena saya belum feeling untuk membukanya. Setiap berkomunikasi lewat telepon, dia bertanya apakah saya sudah membaca isi dari flash drive tersebut. Tetapi saya selalu menjawab, belum.

Setahun kemudian barulah saya buka. Di dalamnya ada beberapa kisah-kisah spiritual. Dan ada satu dokumen yang berisi seperangkat doa atau mantra. Saya tertarik, lalu saya mulai mempelajarinya. Sang guru hanya berpesan, "Ilmu Tuhan itu tanpa batas, dan yang kau baca ini adalah ilmu dasarnya saja. Kamu hanya butuh tahu yang dasarnya ini, selebihnya kamu akan tahu sendiri."

Saya pun membawa ilmu ini ke dalam meditasi saya setiap malam. Dengan ini, berarti sudah ada 4 metode meditasi yang saya dapatkan sepanjang hidup saya. 3 meditasi sebelumnya pada prinsipnya berhujung ke kesimpulan yang sama, semuanya bermuara pada satu hal. Namun yang ke-4 ini sedikit berbeda. Dan saya ingin menemukan kaitannya dengan meditasi saya sebelumnya.

Pada suatu malam purnama yang sangat indah dan syahdu, saya menemukannya. Dan saya ingin share di sini.


The Opening

Ilmu Tuhan tak berbatas. Ada 360 pintu pada tubuh kita ini dengan 7 pintu utamanya yang membuka diri kita ini kepada aliran ilmu Tuhan itu. Ilmu adalah energi, atau cahaya illahi. Ada berbagai teknik yang diajarkan orang untuk membuka pintu-pintu atau chakra-chakra itu. Teknik ini diciptakan sesungguhnya untuk menjembatani pikiran manusia yang sudah sangat meterialistis kepada sesuatu yang spiritual. Para Guru menciptakan mantera-mentara dan praktik yang konkrit secara khusus sehingga para murid-murid baru dapat menerima ajaran itu dengan lebih serius dan fokus.

Sesungguhnya, Chakra-chakra itu sudah ada dan siap digunakan sejak kita lahir, namun kita tidak menyadarinya. Semakin dewasa, kesadaran kita semakin tertekan karena doktrin dan dogma di masyarakat. Dunia kita ini adalah dunia materialistis. Manusia hanya mempercayai yang dapat dilihat dan disentuh, sebagai realita mereka. Sedangkan yang tidak terlihat, tidak tersentuh, tidak real. Hal inilah yang memberi jarak antara seseorang dengan alam spiritualnya. Tentu tidak mudah. Dan saya tidak memaksa semua orang memahaminya langsung.

Pengalaman-pengalaman meditasi saya hanya akan saya ceritakan kepada mereka yang bertanya kepada saya secara langsung. Tidak di sini. Ketujuh Chakra sudah saya kenali sejak lama dan mereka semua bekerja secara alamiah bersama saya dan aktif setiap saat tanpa harus saat meditasi. Atau mereka selalu aktif karena saya senantiasa meditasi di setiap nafas sepanjang hari.

Di malam itu, terbersit di dalam pikiran saya; bahwa manusia adalah semacam konduktor listrik. Tetapi tidak semua zat adalah konduktor. Konduktor dari apa? Yaitu konduktor untuk energi alam semesta - energi illahi. Bagaimana sebuah zat, apa pun zat itu dapat menjadi konduktor? Salah satu caranya adalah dengan menyelaraskan alliran energi di tubuh ini agar dapat teraliri energi illahi tersebut. Penyelerasan energi ini didapat dari membuka Chakra-chakra tubuh. Namun tidak semua bagian di tubuh ini konduktif. Artinya, konduktivitas tubuh belum sempurna.

Seperti kabel tembaga yang dialiri listrik, walaupun sempurnanya tembaga tersebut, masih ada resistensi di dalamnya yang menghalangi aliran listrik, sehingga tidak 100% listrik dapat mengalir padanya. Hanya sebagian kecil yang dapat diserap dan dihantarkannya. Sebagian besar terbuang percuma. Jika dipaksakan maka resistensi tadi akan menjadikan tembaga tersebut panas dan malah merusak lapisan luarnya, dan akhirnya merusaknya secara keseluruhan.

Beberapa bulan kemudian, di suatu malam bulan purnama yang sangat indah dan hening, saya kembali mencoba menyerap energi dalam jumlah besar. Saya berpikir, energi berlebih itu harus disalurkan ke bumi. Maka saya melakukan grounding. Berhasil. Tetapi saya merasa masih ada yang kurang karena bumi pun meresponnya dengan berlebihan. Masih ada resistensi itu. Saya tidak dapat menghilangkan resistensi itu, hanya mengalihkannya saja.

Lagi, di suatu malam hening bercahaya purnama, saya mencobanya kembali dan kali ini saya tidak berusaha untuk apa pun. Hanya menikmati keheningan malam dan limpahan energi illahi yang Maha Besar dan Maha Kaya ini. Alam semesta bagaikan aliran sungai yang luas, dalam, dan deras. Saya hanya berada di dalamnya dan mengalir bersamanya. Saya nikmati iramanya yang kadang menabrakkan saya ke sisi kanan dan kiri. 

Saya menerima Tuhan apa adanya. Dua sisi koin kehidupan saya terima semua tanpa ada lebih berat satu dari lainnya. Kebenaran yang hakiki berada di titik diam di tengah di antara kedua kutub. Di sanalah Tuhan bersemayam. Berada di titik tengah ini tidak mudah karena dunia ini menuntut saya untuk memilih kiri atau kanan. Tidak demikian dengan kehakikian suatu perjalanan spiritual, ia tidak berada di salah satu kutub, melainkan ia mengakui kedua kutub, menerima keduanya, sehingga si pelaku dapat memahami dan berada di tengah, di keseimbangan itu.

Sungai itu adalah sungai penuh cinta dan kasih. Kemana ia menuju tidak relevan, selama saya selalu berada di dalam sungai. Harapan untuk suatu tujuan tertentu tidak lagi relevan. Saya bebaskan diri saya sepenuhnya dari harapan. Saya bebaskan diri saya dari segala tuntutan saya kepada Tuhan.

Beginikah rasa bahagianya terlepas dari kemelekatan kutub kehidupan? Baik dan buruk, sama. Malaikat dan Iblis adalah sama-sama makhluk yang ada karena cinta dan kasih-Nya. Inikah rasa kedamaian yang hakiki? Betapa damainya hati ini. Sangat damai. Damai... damai... damai...

Kemudian saya merasakan sekujur tubuh saya dingin sampai ke tulang, sampai ke jantung. Mata saya tetap terpejam dan menikmati aliran dingin ini. Perlahan pintu-pintu energi tampak mulai sirna. Perlahan mereka saling bersentuhan dan menyatu. 


The Revelation:  Aku, Satu...

"Aku, Satu... Akulah Chakra-Mu, terbukalah."
"Aku, Satu... Akulah Chakra-Mu, terbukalah pintu ilmu yang bukti kuasa-Mu."
"Aku, Satu... Akulah Chakra-Mu, masuklah..."

Saya rasakan aliran sungai itu di setiap sel tubuh. Saya rasakan bumi bergerak bersama saya. Saya rasakan cahaya terang di sekeliling saya.

Sekarang saya memahami sifat konduktivitas yang saya pikirkan selama ini. Kabel tembaga tidak akan mampu menghantarkan listrik dengan sempurna tanpa menghilangkan resistensinya terlebih dahulu. Resistensi adalah kemelekatan manusia terhadap segala sesuatu.

Konduktor listrik terbaik adalah listrik itu sendiri. Konduktor energi terbaik yang dapat menghantarkan energi 100% adalah energi itu sendiri.

Tuhan adalah Zat yang Bebas. Dia Zat yang SATU tanpa apa pun yang menemani-Nya. Dialah Zat yang Sendirian. Tidak ada yang mampu menjadi konduktor energi illahi terbaik selain Dia sendiri. Maka, aku adalah makhluk bebas, tanpa resistensi, tanpa kemelekatan.

Aku adalah Chakra Tuhan. Akulah pintu-Nya. Tapi oleh karena seluruh realita ini adalah Dia, maka tidak ada dinding pembatas antara aku dan Dia. Maka tidak adalah pintu itu. Semuanya ilusi. Semuanya semu. Yang nyata hanya Tuhan. Aku adalah kosong. Aku adalah ketiadaan.

Tidak ada keraguan, tidak ada kekhawatiran.
Bebas, lepas tanpa belenggu, tanpa kemelekatan, tanpa syarat.

Aku adalah ketiadaan. Karena aku adalah ketiadaan-Nya.
Aku adalah sungai itu. Aku juga adalah alam ini.
Aku sudah bersama-Nya.
Akulah Dia. Dia-lah Aku.

---------------

Aku telah dipertemukan dengan cinta Tuhan. Cahaya-Nya kupasrahkan mengalir dan memancar melaluiku tanpa hambatan apa pun. Tidak ada rasa kelebihan beban karena semua cahaya yang masuk terpancarkan kembali pada-Nya, yaitu kepada seluruh alam ini. Aku adalah cermin bagi-Nya, dan Dia adalah cermin bagiku.
Akulah pemancar-Mu.
Aku adalah bagian dari rencana-Mu.

Kucintai sesamaku tanpa syarat karena Dia mencintaiku tanpa syarat.
Kukasihi sesamaku karena Dia mengasihiku.

Aku tersenyum padamu, karena Dia pun senantiasa tersenyum padaku.
Aku menjagamu, karena Dia senantiasa menjagaku.
Aku memeliharamu, karena Dia senantiasa memeliharaku.
Aku selalu merindukanmu, karena Dia pun senantiasa merindukanku.

Harapanku sirna dipenuhi cinta-Mu.
Di setiap nafasku.

Karena Aku, Satu...

---------------

"Although you appear in earthly form, you essence is pure consciousness. You are the fearless guardian of Divine light."
(Walaupun kau wujud dalam bentuk duniawi, esensimu adalah kesadaran murni. Kau adalah penjaga berani dari cahaya illahi.) 

"If light is in your heart, you will find your way home."
(Jika cahaya ada di dalam hatimu, kau akan menemukan jalan pulang.) 

"You are the soul of the universe. And your name is, Love."
(Kau adalah jiwa alam semesta ini. Dan namamu adalah Cinta.)

"There is a candle in your heart, ready to be kindled. There is a void in your soul, ready to be filled. You feel it, don't you?"
(Ada sebatang lilin di dalam hatimu, siap untuk dinyalakan. Ada kekosongan di dalam jiwamu, siap untuk diisi. Kau merasakannya, kan?) 

"Don't you know yet? It is your Light that lights the world."
(Sudahkah kau ketahui? Cahayamulah yang menerangi dunia.) 

"The lamps are different, but the light is the same."
(Lampu-lampunya berbeda, tetapi cahayanya sama.) 

"Life is a balance between holding on and letting go."
(Hidup adalah keseimbangan antara mempertahankan dan melepaskan.) 
     
~ Rumi ~

===============
Erianto Rachman