Thursday, September 18, 2014

A Journey Home




"The ultimate spiritual journey is a journey into the heart. A Journey Home."

One Knowledge, One God.

Seorang anak manusia menginginkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Apakah tujuan hidup dan kehidupan seluruh ciptaanNya?

Dunia ini dihiasi banyak ragam pilihan. Namun Ia ingin tau kebenaran yang hakiki. Bagaimana mendapatkan kebenaran yang hakiki itu?

Bertanya dan bertanya. Tanpa jawaban yang memuaskan. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang sahabat lama.

Sang sahabat menjelaskan bahwa kebenaran yang hakiki adalah berasal dari Tuhan. Yang Satu. Maka hanya ada satu kebenaran hakiki.

Anak itu kembali bertanya, "Ada banyak kebenaran di dunia ini, yang mana yang hakiki?"

Sahabat menjelaskan bahwa kebenaran yang hakiki tidak terikat oleh pengelompokan yang dibuat oleh manusia. Kebenaran Yang Satu harus dipandang sebagai kesatuan. Hanya ada Satu Pengetahuan, berasal dari yang Maha Satu, seluruh alam ini berasal dari Satu Kehendak, maka seseorang haruslah siap untuk menjelajahi seluruh pengetahuan yang ada di alam semesta ini dan memandangnya sebagai sebuah kesatuan. Barulah seseorang bisa menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

Pendalaman kesatuan pengetahuan akan tercermin pada perilaku keseharian seseorang di bumi ini selama ia hidup. Dalam kesehariannya tidaklah mungkin ia memisahkan yang material dan yang non-material. Material dan Spiritual melebur menjadi satu. Yang nyata terlihat melebur bersama yang tak nyata (mistis) dalam keseharian hidup. Ibadah dan bekerja adalah satu. Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu dilakukan setiap detik, setiap nafas, dimanapun seseorang sedang bekerja di dalam kehidupan. Bila seseorang masih membedakan keduanya, kebenaran yang hakiki tidak akan pernah didapat.

Inilah pengetahuan yang hakiki. Yang Satu.
Satu Tuhan, satu pengetahuan.

Beberapa tahun kemudian sang anak kembali menemui sahabatnya. Ia menceritakan pengalamannya sejak pertemuan mereka yang lalu. "Sahabatku, aku sekarang mengerti. Dan aku siap melakukan perjalanan pulang."

--------------------

Indera manusia melihat dan mendengar keadaan alam ini dan menalarnya di dalam otak. Di dalam otak penalaran itu diikuti dengan ego. Ego membatasi daya nalar dan tetap menjaganya terjaga pada dunia fisik. Selain itu, logika materialistik yang sudah tertanam di dalam otak kita sejak kecil menghendaki pengelompokan nalar. Sangat sering kita menganggap analisa yang kita lakukan sudah cukup dan bisa dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan.

Pandangan seseorang terhadap dunia yang menyeluruh selayaknya adalah pandangan akan seluruh alam tanpa kecuali. Tidak ada satu pun yang luput. Namun pertimbangan yang terlalu besar ini selalu akan dipatahkan oleh logika materialistik dan ego, dianggap tidak relevan dan tidak menunjuang pengambilan kesimpulan yang saat itu ingin dicapai.

Memandang alam secara menyeluruh seyogyanya meminta logika material dan ego untuk tidak dominan. Ego harus ditembus. Indera yang tadinya dikendalikan oleh ego dan logika meluruh ke bawah dan menyentuh satu bagian tubuh yang lain, yaitu nurani. Atau sering disebut hati nurani, atau kita sebut sebagai hati saja. Proses turunnya otak ke wilayah hati ini disebut dengan taubah.

Sesungguhnya proses ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, dan sering disertai rasa pedih, sakit yang sangat menyiksa, - yang tidak hanya dialami di dalam diri (internal), namun juga bermanifestasi dalam bentuk fisik di dunia eksternal.
Taubah adalah awal dari proses pembersihan hati.

Sang anak menempuh jalan ini dengan tekad kuat semata-mata ingin mengetahui rahasia terdalam seluruh alam, mencari pengetahuan Illahi. Cerita hidupnya yang penuh jatuh bangun, drama penderitaan dan pencerahan yang cukup panjang dengan sendirinya dapat dituangkan ke dalam sebuah buku. Pada akhirnya ia mampu membersihkan hatinya, taubah, dan siap menerima 'kesatuan' yang disyaratkan oleh sahabatnya.

--------------------

A Journey Home

Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menceritakan hal ini. Karena kita sekarang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang paling awal ada di alam ini. Sebuah bahasa yang tidak mungkin dengan sempurna dikonversikan ke dalam bahasa apa pun di dunia. Ia adalah bahasa hati. Bahasa Tuhan.

Dimulai dari pembersihan hati, seperti membersihkan teras muka sebuah rumah yang kotor, sehingga tampaklah sebuah pintu yang tadinya tak tampak, tidak signifikan, tidak penting. Namun semua ilmu pengetahuan dunia mengarahkan perhatian kita ke sini. Ke pintu ini. Tidak ada cahaya duniawi yang mempu meneranginya. Hanya melalui cahaya illahi pintu ini tampak. Dengan kerendahan hati, kesederhanaan dan kepasrahan yang mutlak usaha pencarian pintu hati ini dapat dilakukan. Niat yang tulus untuk medapatkan rahmat / pengetathuan illahi adalah satu-satunyua kunci untuk membukanya.

Seluruh pengetahuan yang dipelajari, baik pengetahuan duniawi maupun spiritual, akan menghasilkan sebuah kunci.

Pintu pun dibuka. Ia memasuki sebuah ranah mistis. Sebuah rumah yang sejatinya adalah tempat seorang manusia berpulang. Sebuah rumah terakhir. Sebuah peristirahatan akhir. Ke dalam diri, ke dalam hati, dimana di dalamnya terdapat ruang-ruang hati yang kemudian berakhir pada satu kebenaran yang hakiki, satu pengetahuan Illahi, yaitu Tuhan.

Perjalanan mistis bersifat personal. Seorang guru hanya mampu membimbing muridnya ke depan pintu. Meskipun hubungan antara guru dan murid terjalin kuat dalam cinta Tuhan, namun perjalanan ke dalam tetap harus dilakukan sendiri oleh murid. Murid masuk lalu keluar rumah mistis itu untuk berkonsultasi dengan sang guru, menceritakan apa yang ia temui di dalam, sebelum kemudian masuk kembali. Begitu serterusnya hingga ia menemukan kebenaran pamungkas yang hakiki.


The Heart, Qalb
Yellow
The first kiss, the longing

Sang anak berdiri di ambang pintu, ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya sampai habis, beberapa kali. Jantung berdetak semakin pelan, tubuhnya merasa sangat santai dan tenang. Tiba-tiba seekor kupu-kupu datang, terbang di hadapan, hinggap sejenak di dadanya. Semerta-merta sebuah rasa hangat masuk melalui dada ke sekujur tubuh. Sebuah kehangatan yang belum pernah dirasakan. Ini adalah rasa cinta. Sang anak merasakan setitik kasih Tuhan. Sekujur tubuh bergetar, mata tak sanggup membuka, terasa berat, dan bulir-bulir air mata menitik membasahi matanya. Sang anak merasakan lemas, ia terjatuh duduk, beringsut, tak kuasa.

Beberapa waktu kemudian ia telah pulih dan kembali berdiri di depan rumah. Kembali ke dunia. Si anak telah tersentuh kasih Tuhan di hatinya. Sekarang ia dilanda rasa rindu yang teramat dalam. Ia rindu akan kasih Tuhan dan mulai menjadi candu baginya. Intoxicated by the divine love. Tidak ada kata yang mampu menjelaskan perasaan ini. Ia rela menyerahkan segalanya yang ia miliki di dunia demi untuk tersentuh kembali oleh kasih Tuhan.

Ia kembali masuk dan berdiri di dalam ruang Qalb. Di ruang ini ia menyadari bahwa ia menanti dan dinanti oleh Tuhan. The lover is longing for the Beloved. And the Beloved is longing for the lover.


Spirit, Ruh
Red
The quietude, tranquility. The light upon light.

Perasaan kerinduan yang sangat dalam akan kasih Tuhan membawanya masuk lebih ke dalam. Sekarang ia menemukan ruang kedua. Di sini terjadi pertemuan antara cahaya illahi dari dalam diri dengan cahaya illahi dari luar. Sebuah pertemuan, percampuran cahaya atas cahaya. Cahaya ruh bertemu cahaya Tuhan.
"and it is light upon light"... 
(Qur'an 24:35)
Di sini ia menyadari bagian dirinya yang bersifat illahi. Ruh. Peristiwa percampuran cahaya ini hanya bisa terjadi bila seseorang benar-benar sudah menjalani proses pembersihan diri yang sering kali menyakitkan. Seseorang dicampakkan dari ketinggian, dilepas dari jabatannya, ditelanjangi dari pakaian kebesarannya, dirampas harga/nilai keduniawiannya, dan dijatuhkan seluruh kebanggannya. Yang tertinggal hanya dirinya dan Tuhan. Tidak ada arah suatu perjalanannya selain ke dalam hati. Tidak ada arah pandangannya selain ke dalam hati. Tidak ada yang mampu mendengarnya selain Tuhan yang ada di dalam hatinya.

Di dalam ruang ini ada kebahagiaan mutlak. Kebahagiaan yang sungguh tidak mungkin dapat digambarkan melalui bahasa apapun. Kebahagiaan cinta murni, bercahaya. Siraman cahaya illahi. Kebahagiaan tanpa syarat yang dirasakan antara Ruh dan Tuhan. Antara Atman dan Brahman. Inilah siapa diri kita yang sebenarnya. This is our true divine nature. 
"O soul at rest, return to thy Lord, well pleased and well pleasing. Enter as My servant, enter into My heaven." 
(Qur'an 89:27-30)
"Hai jiwa yang tenang, kembalikah kepada Tuhanmu dengan ridha. Masuklah sebagai hambaKu, masuklah ke dalam surga-Ku"

Mystery, Secret, Sirr
White
Intimacy

Wilayah hati selanjutnya adalah Sirr. Di sini ada kemurnian, kesucian, kekudusan. Di sini terjadi hubungan yang intim antara si Pencari dan Yang Dicari. Antara Lover dan Beloved. Antara Ruh dan Tuhan/Allah. Antara Atman dan Brahman. Keduanya mengalami penyatuan. Sadar akan Kesatuan. Oneness.

Ajaran Sufi mengatakan,
"until you swim in the ocean of unity you are not a real Sufi; you are just a traveler on the road of intent."
"hingga kau berenang di lautan kesatuan kau bukanlah Sufi yang sebenarnya; kau hanya pengelana pencari makna."

Ini adalah transformasi hati. Oneness
"I have become the One I love, and the One I love has become me!" 
(Al-Hallaj)
"Aku telah menjadi Yang aku cintai, dan Yang aku cintai telah menjadi aku!"

Bagi sebagian besar pengelana spiritual, bagi sebagian besar pengarung mystic, berada di kondisi ini adalah sebuah pencapaian tertinggi. Tidak ada lagi kekhawatiran duniawi. Tidak ada lagi kata-kata yang patut diucapkan. Kerinduan, pertemuan, dan penyatuan dengan Tuhan yang terjadi di dalam hati pun termanifestasikan / terproyeksikan ke dunia di luar tubuh. Sekarang sang anak - sang pengelana - memandang alam dengan pandangan berbeda. Ia tidak lagi melihat dengan indera fisik, namun juga dengan hati. Terjadi keseimbangan yang sesungguhnya antara materi dan non-materi. Ia melihat Tuhan pada orang lain, dan pada seluruh alam ini. Tidak ada rasa yang muncul selain rasa kasih. Rasa Kasih terhadap sesama manusia dan seluruh alam, karena di semua itu ada Tuhan.
"Wheresoever you turn, there is the face of God." 
(Qur'an: 2:115)
"Kemanapun kau menghadap, disitu ada wajah Tuhan." 
  
" Rose and mirror and sun and moon, what are they?
Wherever we looked, there was always Thy face."
(Mystical Dimensions of Islam)
"Mawar dan cermin dan matahari dan bulan, apakah mereka? Kemanapun kami melihat, selalu ada wajah-Mu."

Sesungguhnya, tidaklah akan ada kebencian di bumi ini jika manusia menyadari keberadaan Tuhan di dalam diri masing-masing. Kesadaran akan keillahian ini menghasilkan cinta kasih terhadap sesama manusia. Terhadap semua makhluk, termasuk seluruh alam. 

Pernahkah kau merasakah siraman hangatnya cinta ketika sehembus angin lembut menyentuh kulitmu? Pernahkah kau merasakan belaian kehangatan kasih dari pohon dan dedaunan di muka rumahmu? Pernahkah kau merasakan kerinduan yang dalam untuk bertemu tetanggamu yang baru saja kau temui kemarin?

Setiap kau langkahkan kakimu di bumi ini, kau tertunduk dalam kerendahan hatimu yang terdalam karena betapa kau merasa rendah dihadapanNya, yang terus menerus memancarkan cahaya cinta kasihNya kepadamu dari segala penjuru alam. Dari sesama manusia, dari setiap bentuk kehidupan di alam ini. Dari segenap isi alam. Karena Alam ini adalah manifestasi dariNya. Dia adalah seluruh alam ini. Termasuk dirimu. Satu dalam Tuhan. Ikatan cinta murni yang tak terpisahkan.

Kaupun merasakan begitu besarnya cintamu pada orang terdekat; istri dan anak, mereka membawa kasih Tuhan yang paling dekat denganmu di dunia ini. Dan kalian hidup di dalam sebuah rumah yang kaya dan penuh sesak akan cinta kasih Tuhan. 

Dan kau dapati tubuhmu bergetar, menangis.

OM Shanti Shanti Shanti


Arcanum, Khafi
Black
Extinction

Ruang selanjutnya sangat jarang bisa dimasuki. Karena manusia sudah sangat kewalahan merasakan cinta kasih Tuhan melalui tiga ruangan sebelumnya. Hanya segelintir orang yang sanggup meneruskan perjalananya lebih jauh ke dalam hati.

Sang anak yang sekarang siap untuk menempuh rahasia Tuhan selanjutnya.

--------------------

Kepada pembaca, saya harus mengucapkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya karena si anak yang saya ceritakan di sini harus meninggalkan saya untuk melanjutkan perjalannya menjelajahi rahasia Tuhan yang lebih dalam. Saya tidak bisa menceritakannya kepada anda karena saya tidak mampu. Karena perjalanan spiritual adalah perjalanan personal. Hanya anda dan Tuhan.
Ada rasa di hati ini untuk melarang saya melakukannya. Dan saya harus mengikuti rasa itu.

Saya hanya ingin memberikan sedikit petunjuk.
Di sini terjadi peniadaan segala bentuk kesadaran. Karena pada hakikatnya Tuhan adalah "Ketiadaan", "Nothingness". Alam ini adalah proyeksi dariNya, maka berdiri di sisi Tuhan adalah berdiri di tepian proyeksiNya. Tidak ada komponen di dalam alam proyeksi ini yang mampu mendeteksi Sang Proyektor. Ketidakmampuan ini menjadikan hasil pindaian kita sebagai ketiadaan. Namun kita tau/sadar bahwa di Ketiadaan itulah Tuhan itu.


Super Arcanum, Akhfa
Green
Annihilation, Absolute Truth

Hijau adalah Absolute Truth. Kebenaran yang Hakiki. 
Aku, Dia, Tiada.

....

--------------------
Oh Lord... please forgive my impudence...

Tidak ada Tuhan selain Tuhan.