Sabtu, 04 Maret 2017

Golden Consciousness

Kesadaran Emas




Edisi 1


Tidak ada satu peristiwa yang berdiri sendiri. Setiap peristiwa adalah rangkaian dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Dan peristiwa yang terjadi sekarang adalah rangkaian dari peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelahnya. Setiap peristiwa mengesankan rasa pada yang mengalaminya. Yang kita rasakan atas suatu peristiwa sekarang akan berkaitan dengan yang akan kita rasakan untuk peristiwa yang akan terjadi kemudian. Setiap peristiwa juga menyampaikan suatu pesan atau hikmah kepada yang mengalaminya. Pesan yang kita dapatkan dari satu peristiwa sekarang, merupakan rangkaian pesan untuk peristiwa yang akan datang.

Kisah hidup anda adalah kisah yang sangat berharga. Hargailah setiap peristiwa, seraplah pesan yang disampaikan alam ini kepada ada di balik setiap kejadian. Pesan-pesan itu sangatlah berharga, mungkin tidak harus disadari saat itu juga, tetapi di masa depan. Kaji pula rasa yang anda alami. Mengapa saya merasakan ini, bukan itu? Mengapa peristiwa yang ini membuat saya bersedih, sedangkan peristiwa lainnya membuat saya bahagia? Dan yang terpenting adalah menghargai semua peristiwa itu karena akan menentukan peristiwa yang akan terjadi selanjutnya. 

Melakukan pengamatan terhadap peristiwa adalah bentuk disiplin meditasi yang melatih pikiran (mind), yang kemudian akan menjadikan anda seorang yang lebih awas (aware) akan kehidupan ini. Melatih "Keawasan" (awareness) akan melatih kesadaran (consciousness) anda. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam artikel "Meditation".

Untuk apa melatih kesadaran? Banyak tulisan saya yang mengulas mengenai manfaat melatih kesadaran. Anda bisa membaca-baca kembali tulisan-tulisan saya sebelum ini. Kesadaran memiliki tingkatan; semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin banyak yang dapat anda pahami mengenai hidup ini. Semakin tinggi tingkat kesadaran anda, semakin sederhana pola / cara berpikir anda. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin besar energi alam semesta yang menyertai anda. Untuk apa energi tersebut? Salah satu manfaatnya adalah apa yang ingin saya sampaikan di tulisan saya kali ini. 

Pembaca Human Earth yang berbahagia, dua malam yang lalu saya mendapatkan satu ilham di dalam meditasi saya yang merupakan suatu kesimpulan dari serangkaian peristiwa yang pernah saya alami beberapa waktu sebelumnya. Saya ingin membagikannya di sini, namun saya harus menyusun cerita saya ini dengan alur yang cukup baik sehingga saya harapkan dapat dipahami dengan baik.



Chakras
(Chakra-Chakra)

Mengapa saya membahas mengenai chakra? Karena Chakra berhubungan langsung dengan tingkat kesadaran (consciousness). Tidaklah dapat dihindari kaitan kuat antara chakra dan kesadaran. Keduanya saling mempengaruhi secara langsung. Memiliki kesadaran tinggi akan melatih kepekaan chakra. Melatih kepekaan chakra akan meninggikan tingkat kesadaran. Dan yang terpenting adalah; semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin besar energi alam semesta yang menyertai anda. 

Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai tingkat kesadaran dan tingkat energi kesadaran ini, silakan baca: "The Great Attractor (Part 1)", "The Great Attractor (Part 2)", "The Great Attractor (Part 3)".

Sebagian dari pembaca sudah mengenal Chakra. Chakra adalah semacam pintu keluar-masuknya energi alam semesta yang bermanfaat bagi manusia. Total ada 360 chakra di tubuh kita. 7 diantaranya adalah yang ingin saya bahas di sini, yaitu 7 chakra mayor atau utama. Selebihnya yang 353 adalah chakra minor yang tersebar di bagian-bagian lain dari tubuh.

7 Chakra utama berlokasi di sepanjang meridian tubuh yang membujur dari atas di ubun-ubun kepala sampai ke bawah di ujung tulang ekor. Setiap chakra utama bukanlah wujud non-fisik namun berwujud organ fisik. Di dalam meditasi, kita berlatih untuk membuka chakra-chakra utama tersebut agar dapat mengalirkan energi alam semesta ke dalam dan ke luar tubuh, yang secara langsung berarti mengolah kelenjar-kelenjar fisik dimana chakra-chakra tersebut berada - menjadikannya lebih peka. Chakra adalah indera / sensor ekstra selain panca indera kita. Maka, dengan melatih terbukanya chakra, artinya melatih pula ketajaman / kepekaan indera-indera ekstra tersebut terhadap perubahan / pengaruh / stimulus dari alam ini. 

Panca indera yang sudah kita kenal baik, adalah organ tubuh yang peka terhadap perubahan energi eksternal di alam, seperti cahaya oleh mata, kepekatan serta bau di udara oleh hidung, sentuhan fisik oleh kulit, suara oleh telinga, dan rasa/taste oleh lidah. Chakra-chakra bekerja mirip dengan panca indera. Dengan melatih chakra-chakra agar lebih peka terhadap energi alam, kita bisa memanfaatkan energi tersebut untuk berbagai manfaatnya. Setiap chakra memiliki kekhususan sifatnya, terutama karena letaknya/posisinya pada tubuh, yang karakterk ini kemudian diasosiasikan dengan warna. 

  • Chakra Mahkota (Crown, Sahasrara) yang terletak di ubun-ubun kepala yang berhubungan dengan kelenjar Pineal. Jika seseorang cukup sensitif, akan tampak cahaya terang di atas kepala berwarna putih-perak. Chakra mahkota juga menjadi simbol "Aku tahu" - I Know. Maksudnya adalah pengetahuan datang karena seseorang Tahu - mengetahui - yang hakiki. Warna: Ungu. 
  • Chakra mata ketiga (Ajna) yang berada di antara alis. Chakra ini simbol dari "Aku melihat" - I See. Warna: Nila. Kelenjar fisik untuk chakra ini adalah Pituitary yang berhubungan pula dengan kelenjar Pineal.
  • Chakra Tenggorokan (Vishuddha) - "Aku berucap" - I speak. Warna: Biru. Kelenjar fisik untuk chakra ini adalah Thyroid.
  • Chakra Jantung (Anahata) - "Aku mencintai" - I love (rasa / feeling). Warna: Hijau. Kelenjar fisik untuk chakra ini dalah Thymus yang terletak di dada.
  • Chakra perut (solar plexus, Manipura) - "Aku melakukan" - I do. Warna: Kuning. Organ fisik untuk chakra ini adalah Pancreas
  • Chakra sex (Svadhishthana) - "Aku merasa" - I feel (emosi / emotion). Warna: Jingga. Organ fisik untuk chkara ini terletak di wilayah sacrum.
  • Chakra dasar (Base, Muladhara) - "Aku" - I am. Warna: Merah. Organ fisik untuk chakra ini adalah ujung bawah tulang belakang. Chakra ini bersentuhan dengan sebuah wilayah yang disebut Perineum yaitu kelenjar prostat dimana tempat berkumpulnya gulungan-gulungan energi kundalini.


Sifat-sifat atau karakter dari setiap 7 chakra utama mengedepankan fungsi utamanya terhadap berbagai perilaku atau kebutuhan. Saya tidak akan mengulas satu per satu mengenai sifat-sifat itu secara detail, karena sangat banyak atau terlalu banyak yang bisa digali di situ. Ada pun demikian, saya ingin mengajak anda menaruh perhatian pada satu hal; yaitu susuan 7 chakra utama membagi tubuh ini menjadi 3 bagian, yaitu; Tubuh bagian atas, bagian bawah, dan bagian tengah. 



Agar memudahkan saya merujuk pada diagram di atas, kita sebut saja diagram tersebut sebagai "Diagram Kualitas". Saya mengelompokkan karakteristik yang dibawa oleh chakra dalam tiga bagian tubuh manusia, yaitu:
  • Bagian atas diwakili oleh 3 chakra atas (Mahkota, Ajna, dan Tenggorokan), mereka berkaitan dengan kebijakan (wisdom), kepahamna serta pengetahuan (knowledge), penglihatan/pendangan (vision), dan suara (voice).
  • Bagian bawah diwakili oleh 3 chakra bawah (chakra perut, sex, dan dasar), berkaitan dengan Aksi/Laku (action), emosi (emotion), dan ego.
  • Sedangkan bagian tengah diwakili oleh satu chakra yaitu jantung, berkaitan dengan rasa (feeling).

Melatih kepekaan dan keterbukaan chakra-chakra pada tubuh berarti melatih ketiga bagian karakteristik manusia - atau dapat saya sebut sebagai kualitas manusia. Kembali pada pernyataan saya sebelumnya; bila tingkat kepekaan chakra berkaitan langsung dengan tingkat kesadaran, maka ia juga turut menentukan secara langsung tingkat kualitas manusia itu sendiri.



The Triangle Quality of Man
(Kualitas Segitiga Manusia)

Pada suatu hari sekitar 3 tahun yang lalu, saya berdiskusi dengan salah seorang sahabat saya dari India yang cukup lama mempelajari mengenai chakra serta pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk penyembuhan (healing), kebahagiaan hidup rumah tangga, sukses dalam karir, dan lain sebagainya. Ia mengatakan kepada saya bahwa jika seorang ingin sukses dalam karirnya maka ia sebaiknya melatih kepekaan chakra-chakra bagian bawah. Sehingga bagian bawah tubuh lebih peka dan kuat.

Saya paham dengan yang dikatakannya, karena bila kita kembali melihat pada diagram kualitas di atas, penguatan chakra bagian bawah akan meningkatkan kualitas yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan duniawi;
  • Perut (Solar Plexus) adalah Action - diperlukan untuk mengambil tindakan cepat dan juga semangat atau kekuatan dalam melakukan pekerjaan.
  • Sex adalah Emotion - berguna dalam menekankan kegigihan meraih keinginan, hasrat, kreativitas, negosiasi, pendambaan, akuisisi, kesenangan, mempengaruhi orang lain, kompetitif, dan sebagainya.
  • Dasar (Base) adalah Ego - berguna dalam menempatkan posisi di antara manusia lainnya, sebagai kepribadian yang kuat, gaya hidup, motivasi pada kebanggaan, kejayaan, kepemimpinan yang berkharisma serta terpandang.

Setelah sejenak merenung dan membayangkan diagram kualitas manusia di benak saya, saya setuju pada apa yang dikatakan oleh sabahat saya itu. Kemudian dia menambahkan kalimat yang menurut saya sangat penting dan menjadi salah satu cikal bakal tulisan saya ini, yaitu; oleh karena kita melatih bagian bawah kualitas tubuh kita, maka wujud dari energi alam yang kita olah adalah berukuran besar di bagian bawah dan mengecil di bagian atas - seperti piramid.




Percakapan kami hanya sampai di situ, dan saya tidak melakukan kajian lebih lanjut mengenainya.

Hampir setahun yang lalu, saya menulis artikel mengenai tingkat kesadaran manusia. Saya sangat menganjurkan anda membacanya untuk dapat memahami apa yang ingin saya sampaikan ini. "The Great Attractor (Part 1)""The Great Attractor (Part 2)""The Great Attractor (Part 3)".

Saya menunjukkan betapa pentingnya melatih tingkat kesadaran karena tingkat kesadaran menentukan kualitas seseorang, juga menentukan tingkat kepahaman dan kearifannya. Inilah yang terpenting dalam hidup. Hal ini pulalah yang membuat seseorang merelakan diri sepenuhnya untuk menempuh perjalanan spiritual walaupun sangat sulit, berat, dan penuh cobaan.

Tingkat kesadaran manusia juga berbanding lurus (namun eksponansial) dengan besarnya energi alam semesta yang menyertai dan yang dapat dimanfaatkannya. Anda mungkin masih ingat dengan diagram di bawah ini.



Diagram di atas menunjukkan tingkatan kesadaran yang dikalibrasi dalam skala nilai 0 sampai 1000, dimana 0 adalah kesadaran terendah dan 1000 adalah tertinggi. Skala ini juga memberikan gambaran kepada kita mengenai tingkat energi alam semesta yang dihasilkan pada setiap tingkatan kesadaran itu.

Saya juga pernah menulis mengenai hubungan antara tingkat kesadaran dan tingkat kepahaman. Semakin tinggi kepahaman kita mengenai kebenaran yang hakiki, maka semakin tinggi pula tingkat kesadaran kita. Begitu pula sebaliknya; semakin tinggi tingkat kesadaran kita, maka seharusnya tingkat kepahaman juga semakin tinggi -- semakin banyak yang dipahami. 

Sampai di sini saya telah mengungkapkan keterkaitan langsung antara tingkat Kepahaman, Kesadaran, Energi, dan Chakra. 4 pilar ini saling mempengaruhi satu sama lain. Jika terjadi peningkatan di salah satunya -- yang mana pun itu -- maka ia sepatutnya akan meningkatkan kualitas pilar yang lainnya.
  • Jika seseorang memiliki kepahaman yang lebih baik akan kebenaran yang hakiki --> kesadarannya meningkat --> semakin besar energi alam yang dirasakan --> bertambahnya kepekaan chakra di wilayah itu.
  • Bila kesadaran meningkat --> kepahaman lebih baik --> semakin besar energi alam yang dirasakan --> bertambah kepekaan chakra di wilayah itu.
  • Bila seorang melatih kepekaan chakranya, maka semakin besar energi alam yang dirasakan --> kesadaran meningkat --> kepahaman juga meningkat.
Pada akhirnya kesadaran menghasilkan kearifan (wisdom) yang memiliki energi besar.

Lalu saya menyadari satu hal yang sudah jelas terpampang di hadapan saya. Jika pelatihan peningkatan kesadaran akan menghasilkan energi besar, maka sesungguhnya diagram segitiga kita bukan berupa piramid seperti yang dikatakan sahabat saya itu, melainkan piramid yang terbalik.



Dengan berpedoman pada diagram kualitas sebelumnya, maka pelatihan kita dalam meningkatkan kepekaan dan menguatkan kualitas manusia bagian atas, adalah:
  • Mahkota (Crown) adalah Knowledge - berkaitan dengan pencapaian pengetahuan, kepahaman dan kearifan.
  • Ajna adalah Vision - semakin tinggi kesadaran, semakin peka/terbuka pula pandangan kita akan realita alam ini. Seperti menaiki anak tangga; semakin tinggi, semakin luas pula pandangan kita, baik itu dunia dan spiritual. Pandangan luas ini menjadikan kita seorang yang lebih tenang serta bijak dalam pengambilan keputusan hidup, sabar, tidak gegabah serta penuh pertimbangan. 
  • Tenggorokan adalah Voice - seorang yang berpengetahuan luas, tingkat kepahaman yang baik, ditambah pula pandangan yang luas, akan membawa pengaruh nyata terhadap apa yang diucapkannya. Bagaimana menyampaikan isi hati, pesan cinta dan kasih dalam susunan ucapan kalimat-kalimat yang baik dan dapat dipahami. Kemampuan ini cukup penting karena berupa wujud fisik dalam penyampaian pesan spiritual kepada orang lain.

---------------

Mayoritas manusia di dunia melatih kualitas diri mereka dalam bentuk segitiga piramid. Wujud fisik manusia di bumi menuntut banyak aksi dan kerja nyata untuk bertahan hidup, mencari nafkah dan berinteraksi dengan orang lain dalam pekerjaannnya. Segala bentuk pengetahuan yang dipelajari oleh mereka dirasa cukup bila sudah memadai dalam  membantu mereka dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dunia. Tidak akan lebih dari itu.

Sebagian dari mereka mungkin kurang memahami akan kualitas apa saja di diri mereka yang dapat dikembangkan, bahkan dimanfaatkan dalam kehidupan mereka. Dan yang terpenting adalah, kehidupan bukanlah hanya yang tampak secara fisik, tetapi juga yang tak tampak.

Bila berbicara mengenai kehidupan, maka kita berbicara mengenai realita alam ini. Di dalam seminar saya, "Science & Spiritual", saya memaparkan betapa pentingnya pengetahuan dan pemahaman mengenai realita. Pemahaman kita mengenai realita adalah pondasi fundamental atas semua pemahaman lain yang terjadi di atasnya. Bila pemahaman kita mengenai realita itu benar, maka benar pula semua pemahaman kita mengenai peristiwa yang terjadi di alam ini. Terutama semua peristiwa yang melibatkan kita di dalamnya, baik langsung maupun tidak.

Miskonsepsi yang terjadi di dunia dilandasi oleh pemahaman yang keliru mengenai realita. Logika berpikir pun menjadi salah dan terbalik-balik. Semakin jauh manusia terbenam dalam miskonsepsi dan kekeliruan menjadikan manusia kehilangan panduan mereka. Dan yang terparah adalah menjadikan ego yang berkemaskan sesuatu yang tampak sangat agung, sebagai satu-satunya panduan mereka.

Jika anda bertanya-tanya mengenai pernyataan saya di atas - mengenai pentingnya pamahaman mengenai realita - ada baiknya bila sempat membaca kembali beberapa tulisan saya sebelumnya. 


---------------


Sekarang tiba saatnya kita merekonsiliasikan apa yang sudah saya paparkan sejauh ini.
Kepahaman duniawi menjadikan kualitas kita seperti segitiga piramid; kepekaan indera kita terhadap dunia lebih diutamakan ketimbang spiritual.

Sedangkan seorang pengelana spiritual melakukan pelatihan kepekaan indera yang membentuk kualitas berupa segitiga piramid terbalik.

Dua arah kualitas manusia ini tampak saling bertolak belakang. Bila seorang fokus melatih keduniawiannya, maka spiritualnya berkurang. Dan bila ia fokus melatih spiritualnya, maka keduniawiannya berkurang. Sering kita mendengar orang berkata, "kita tidak bisa menggabungkan dunia dan spiritual". Atau kia mungkin juga sering mendengar, "kita tidak bisa menggabungkan science dan spiritual."


---------------


Bila kita fokus pada urusan duniawi, pekerjaan, usaha, perniagaan, ada kalanya kita berada di kondisi paling bawah (low). Mungkin sering kita merasa kecewa dengan rencana yang meleset, dikecewakan orang lain, merasa tertipu, merasa apa yang kita usahakan selama ini adalah sia-sia.

Ada sebuah kalimat yang berbunyi;
“No problem can be solved from the same level of consciousness that created it.” 
-- Famous quote from unknown writer. 
(Tidak ada masalah yang dapat diselesaikan pada tingkat kesadaran yang sama dimana masalah itu dibuat.)

Untuk menyelesaikan masalah, kita harus menggunakan kesadaran yang lebih tinggi. Maka tidak akan mungkin kita menyelesaikan masalah kita sendiri bila kondisi kualitas bagian atas kita lebih kecil dari bagian bawah (segitiga piramid). Tindakan yang sering diambil sebagai solusi adalah berkonsultasi kepada orang lain yang kualitasnya berupa segitiga piramid terbalik (kesadaran spisitualnya tinggi).

Namun bila anda yang sedang mengalami suatu masalah - anda yang merasakan masalah itu sendiri, maka bagaimana orang lain yang tidak merasakan masalah anda dapat membantu anda?

Ingat prinsip ini; sesungguhnya tidak ada penyembuhan kepada orang lain. Yang terjadi selalunya adalah penyembuhan diri sendiri (self-healing). Jadi, anda sendirilah yang seharusnya mampu menyelesaikan masalah yang anda hadapi. Orang lain sedapat mungkin memberikan bantuan berupa petunjuk. Tetapi anda sendirilah yang harus menjalani petunjuk tersebut.

Saya menggunakan istilah Healing sebagai tindakan untuk memperbaiki keadaan. Apa pun keadaan yang dimaksud.

Baca juga: "The Healer (Part 1)", "The Healer (Part 2)", "The Healer (Part 3)".

Healing adalah proses menaikkan diri dari kondisi terpuruk atau bawah (low) ke kondisi yang lebih baik. Paling tidak ke tingkat kesadaran level nilai 200 pada skala attractor. Kemudian kita akan perlahan naik kembali ke level yang lebih tinggi - lebih baik hingga pulih sepenuhnya - mendapatkan semangat dan percaya diri kita kembali, kemudian memandang masalah yang kita hadapi sebagai sesuatu pelajaran berharga yang dapat ditangani dengan baik.

Bagaimana memahami ini?
Bagaiamana melakukan ini?



The Star Quality of Man
(Kualitas Bintang Manusia)

Saya menemukan diri saya dalam kondisi sangat low, dan sangat terpuruk. Ada kekecewaan yang sangat melukai hati ini. Di antara putus asa dan pasrah. Tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ini bukan yang pertama. Saya sudah sadar akan resiko ini. Saya merenung dan hanyut dalam meditasi.

Sebelum memulai perjalanan spiritual dan perniagaan saya yang terakhir ini (meninggalkan Sanctum terakhir saya. Baca juga: "Sanctum"), saya berpamitan kepada orang terdekat saya, karena kali ini saya benar-benar secara total menyerahkan hidup dan mati saya kepada Tuhan melalui jaringan, jala-jala energi alam semesta. Saya melangkah tanpa antisipasi dan tidak menebak-nebak apa yang akan terjadi di hadapan. Namun sebentuk kekecewaan adalah salah satu kemungkinan cabaran yang menanti. Dan itu terjadi.

Dapatkah pengetahuan yang yang pelajari dan saya yakini selama ini membantu saya? Sudah banyak butir-butir kebenaran yang terpaparkan di hadapan saya yang menyatakan apa yang saya pelajari sudah benar. Bagaikan balon berisi air yang meletus di atas kepala saya karena saya tusuk dengan tajamnya jarum kepahaman. Namun kali Ini saya merelakan diri saya diuji atas sebilah lagi kepahaman yang belum terungkap. 

Bagi pengelana spiritual, membuka tabir kebenaran baru adalah jauh lebih berharga dari menemukan intan permata. Walaupun hidup didera cobaan yang menyakitkan, walaupun harus menentang dogma yang sudah terlalu kuat di masyarakat, dan walaupun harus dikucilkan dan dijauhi oleh orang-orang yang dulunya sangat dekat dengan kita, tidak ada bandingannya dengan sepercik letupan kasih Tuhan - dengan tersibaknya satu lagi tabir kebenaran yang hakiki, dan menjadikan kita manusia yang lebih paham dari sebelumnya.

Saya teringat meditasi dari perguruan Reiki Tummo binaan Bapak Irmansyah Effendi, yang telah menurunkan meditasi buka hati-nya kepada saya. Saya menggunakan meditasi itu untuk menyentuh chakra jantung saya, bagaikan belaian halus - sentuhan mesra - membuai hati ini dalam ketenangan dan ketentraman yang mendamaikan.

Kemudian, beberapa malam setelah itu dalam keheningan meditasi saya mengingat setiap orang yang pernah ada di dalam hidup saya. Dimulai dari orang tua, saudara kandung, anak, istri, sepupu, tetangga, teman, sahabat, rekan kerja, rekan usaha, termasuk semua orang yang mengecewakan saya. Saya ucapkan terima kasih kepada mereka satu per satu seraya menyebut nama dan membayangkan wajah mereka. Mereka hadir dalam hidup saya, memainkan perannya masing-masing dan mengajarkan saya pelajaran yang sangat berharga. Tanpa mereka saya tidak akan menjadi manusia seperti sekarang ini.

Kita tidak bisa melihat kejadian di masa depan, kita hanya bisa melihat kejadian di masa lalu. Setiap peristiwa merupakan bagian dari rangkaian peristiwa lain di hadapannya. Tidak ada satu pun peristiwa yang berdiri sendiri. Satu kejadian ada karena kejadian sebelumnya. Jika kita melihat sungguh-sungguh ke belakang, kita akan melihat alur rangkaian hidup kita, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya hingga ke sekarang. Kita bisa menyesal karena telah menyia-nyiakan hidup kita, atau bersyukur atas semua kejadian yang pernah kita alami. Saya memilih untuk bersyukur.

Kenapa bisa bersyukur? karena ada kekuatan yang memenangkan rasa syukur itu di atas rasa sesal. Karena syukur datang dari tingkat kesadaran tinggi, sedangkan sesal berada di tingkat kesadaran yang lebih rendah. Dan seperti yang sudah saya tuliskan di atas, Kesadaran tinggi membawa energi yang lebih besar ketimbang kesadaran rendah. Attractor besar selalu mengungguli attractor yang kecil.

Setelah tidak ada lagi orang-orang yang dapat saya ingat untuk saya ucapkan terima kasih saya pada mereka, saya memasuki meditasi hening dan kosong, hanyut masuk semakin ke dalam. Tenang, ringan, dan damai. Tiada lagi rasa kecewa sedikit pun. Saya merasa jiwa saya telah dibersihkan dari segala beban. Rasa ringan dan bersih ini sesungguhnya adalah kesadaran yang tadinya di bawah (low) telah terangkat di ke atas. Inilah self-healing.

Putus asa, artinya anda menutup semua pintu. Anda menolak mendengarkan pesan-pesan alam dan tidak mengambil sikap/tindakan apa pun atas masalah yang dihadapi. Putus asa adalah hasil terburuk yang anda dapatkan bila anda semata-mata memfokuskan kualitas hidup anda dalam pola segitiga piramid.

Sedangkan dengan hati yang tenang, kita dapat melihat segala sesuatu dengan lebih baik.
Pasrah artinya anda membiarkan semua pintu selalu terbuka. Pesan-pesan alam semesta dapat anda dengarkan dengan seksama, opsi-opsi terbuka di hadapan dan anda dapat mengambil sikap atau tindakan paling sesuai untuk masalah anda. Kebaikan seperti Inilah yang anda dapatkan bila anda memiliki kualitas hidup dalam pola segitiga piramid terbalik.

Dari pengalaman ini satu lagi balon-air pecah di atas kepala saya.
Kesadaran tinggi memang terbukti sangatlah penting bagi manusia, karena hanya dengan kesadaran tinggi itulah kita dapat mengatasi segala permasalahan dan cobaan hidup ini.


---------------


Semua yang saya pahami, saya merasakan kebenarannya. Saya sangat bersyukur.
Tidak hanya sampai di situ. Perlahan-lahan saya mulai memahami sesuatu yang jauh lebih mendasar. Sesuatu yang selama ini kurang begitu dapat saya jelaskan, sekarang dapat saya jelaskan. Inilah inti dari tulisan saya.

Hidup di antara dua dunia; fisik dan non-fisik, duniawi dan spiritual. Keseimbangan di tengah adalah tujuan utama hidup ini. Jika kita menyadari titik kesimbangan ini, kita akan sadar betapa luar-biasanya makhluk bernama manusia ini. Manusia dibekali dengan semua kemampuan untuk menjadi penguasa alam raya, dalam kepahaman yang tinggi dan luas. Manusia adalah makhluk mulia tanpa cela. Manusia memiliki semua sifat-sifat Tuhan. Jika boleh saya menggunakan istilah DNA Tuhan, maka manusia memiliki semua DNA Tuhan itu - tersimpan rapat di dalam tubuh ini. Manusia adalah zat yang mulia.

Pelatihan kesadaran berlaku dua arah. Duniawi dan Spiritual. Keseimbangan kualitas kesadaran bagian atas dan bagian bawah. Sehingga beginilah gambaran kualitas manusia yang seimbang; 



Inilah yang saya namakan sebagai The Star Consciousness. Tanpa disengaja, saya memahami makna mistis dibalik simbol Bintang Nabi Daud (The Star of David). Inilah konsep atau ilmu keseimbangan kesadaran yang akhirnya mampu saya bahasakan / tuliskan di sini.

Dua segitiga yang saling bertumpuk juga simbol dari keseimbangan sacred masculine dan sacred feminine.

Segitiga piramid (dikenal pula dengan simbol mata anak panah - yang identik dengan kejantanan) adalah simbol dari kualitas masculine - yang lebih fokus pada kualitas duniawi. Ingin saya tambahkan, di dalam meditasi, warna cahaya energi kesadaran ini adalah kuning-keemasan.

Segitiga piramid terbalik (dikenal pula dengan simbol rahim - yang identik dengan kewanitaan) adalah simbol dari feminine - yang lebih fokus pada kualitas spiritual. Di dalam meditasi, warna cahaya energi kesadaran ini adalah putih-keperakan.

Jika anda perhatikan, Ada satu chakra yang belum saya bahas. Chakra ini berada di tengah. Bukan di atas, bukan pula di bawah. Dan dengan melihat pada gambar di atas, Posisinya tepat berada di tengah gabungan dua kualitas. Chakra itu adalah chakra jantung yang sering disalah-terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "hati"

Di sinilah pentingnya hati, yang membawa kita kepada akhir dari tulisan ini.



The Golden Consciousness
(Kesadaran Emas)

Chakra jantung dengan organ thymus-nya adalah organ yang menghasilkan gelombang elektromagnetik terbesar di tubuh manusia, melebihi yang dihasilkan oleh otak. Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat ini memancar tanpa batas ke seluruh alam, dan dapat mempengaruhi DNA di dalam diri sendiri juga makhluk lain.

Baca penjelasan detailnya di sini: "The Healer (Part 1)""The Healer (Part 2)""The Healer (Part 3)".

Studi menyatakan, kekuatan gelombang thymus (chakra jantung) ini berbanding lurus dengan rasa / feeling. Dan rasa inilah yang telah dipetakan dengan cukup baik di dalam tabel tingkat kesadaran kita (Baca artikel "The Great Attractor");



Rasa-rasa tertentu seperti yang berada di bawah nilai 200 adalah rasa pada tingkat kesadaran rendah. Energi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh rasa ini pada thymus juga lemah dan cenderung akan terus turun. Berada di dekat seorang yang demikian membuat kita tidak nyaman dan cenderung ikut turun bersamanya. Bayangkan bila kita sendiri yang berada di level rendah ini, kita akan membuat orang lain di sekeliling kita tidak nyaman. Tidak hanya orang/manusia, tetapi juga mempengaruhi semua makhluk di alam.

Rasa-rasa tertentu yang berada di nilai 200 dan di atasnya adalah rasa pada tingkat kesadaran tinggi. Energi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh rasa ini pada thymus juga besar dan cenderung akan terus menguat. Berada di dekat seorang yang demikian membuat sekelilingnya merasa nyaman, positif, bahagia, suka-cita, tenang, dan termotivasi.

Rasa / feeling inilah yang menjaga keseimbangan kualitas hidup - menjaga keseimbangan Kesadaran Bintang. Chakra jantung, rasa mengendalikan kesadaran kita. Kapan saatnya membutuhkan aksi / tindakan nyata dalam duniawi, kapan kita membutuhkan kearifan spiritual. Kendali navigasi kualitas kita terletak pada rasa.

Jika rasa itu sendiri adalah bentuk kesadaran, maka dengan menyadari fungsi agung atau mistis dari rasa ini, artinya kita menyadari atas kesadaran itu sendiri. Inilah kesadaran di atas kesadaran, atau disebut Kesadaran Super (Super Consciousness). Di dalam meditasi, ini yang disebut-sebut pengamatan terhadap yang mengamati. Mengamati yang mengamati.

Sehingga boleh disimpulkan; super consciousness atau hati yang sadar, adalah navigator kesadaran.

Lalu bagaimana dengan seorang yang berada dalam kesadaran di atas kesadaran ini dalam waktu lama? Maka kondisi tersebut sudah menjadi natural dan alamiah baginya. Ia selalu sadar atas kesadarannya sepanjang waktu. Hal ini hanya dapat dicapai setelah pencapaian transformasi hati.

Transformasi hati adalah menyadari kesimbangan sejati.
Keseimbangan sejati terjadi bila dua kutub sirna dan tidak lagi relevan.
Atau boleh saya katakan; pencapaian keseimbangan sejati bukanlah dengan berusaha berada di titik tengah di antara dua kutub, melainkan meniadakan kedua kutub itu sendiri.








Sadar di atas sadar,
adalah kosong di dalam kosong
adalah tiada di dalam ketiadaan
adalah cahaya di atas cahaya.

Inilah ruang mistikmu
Inilah ruangan terakhir di dalam hatimu, dalam perjalanan pulangmu.
Inilah Super Arcanum, inilah Akhfa.

Di sini terjadi penghancuran (annihilation) atas dua kutub realita yang kau kenal selama ini,
tergantikan oleh satu kebenaran yang hakiki (absolute truth).
Keseimbangan mutlak, alamiah, sesuai untukmu.

Di sini ada satu cinta, satu kasih, tanpa syarat.

Sikapmu adalah manifestasi dari cintaNya.
Kerinduanmu adalah kerinduanNya.
Senyummu tulus bagi sesama, tanpa mengharap balas.

Alam ini ada karena cinta.
Dan kau mencintai sesamamu seperti cinta itu sendiri.
Eksistensimu adalah bagi sesama.

Seluruh alam mendengarkanmu.
Seluruh alam sujud padamu.
Seluruh alam merasakanmu seperti kau merasakanNya.
BersamaNya, di dalam aliran sungai illahi.

Hati yang mulia adalah hati tanpa bias, tanpa kutub.
Hati yang mulia adalah hati yang menyadari atas kesadaran itu sendiri.

Kearifanmu mulia karena hatimu mulia.
Semua pandanganmu mulia karena hatimu mulia.
Setiap ucapanmu mulia karena hatimu mulia.
Segala tindakanmu mulia karena hatimu mulia.
Cita dan Hasratmu mulia karena hatimu mulia.
Kepribadianmu mulia karena hatimu mulia.

Kaulah sang agung, kaulah manusia mulia, karena hatimu mulia, tanpa cela.

Mulia adalah kesempurnaan, bagaikan emas.
Kesadaranmu adalah kesadaran mulia. 
Kesadaran Emas.





Aku mengagumimu karena setiap kata yang kau ucapkan menenangkan jiwaku.
Pandangan matamu menyejukkan kalbu.
Senyumanmu meluluhkan hatiku.
Bahkan hanya berada di dekatmu membahagiakanku

Aku bertanya bagaimana bisa begitu.
Lalu kutemukan bahwa hatimu suci, murni, tanpa cela, begitu mulianya.

Aku bertanya mengapa bisa begitu.
Lalu kutemukan bahwa kau memiliki kesadaran yang sangat tinggi,
yang menjadikan begitu mulianya dirimu.

Begitulah aku hanya mampu membalas kemuliaanmu dengan cintaku.

Kau, dengan kesadaran emasmu.



---------------
Erianto Rachman

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada salah seorang murid saya yang telah membantu dalam pencetusan ide untuk menuliskan artikel ini.
Semoga bermanfaat.