Sunday, December 28, 2014

The Magician




Part 3

Edisi 2

Dianjurkan membaca Part 2 terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.

Sebuah buku yang ditulis Robert Bauval, berjudul "Secret Chamber Revisited", mengulas mengenai sebuah ruang rahasia yang menyimpan pengetahuan rahasia dari tokoh penting sejarah dan diadopsi oleh bangsa Yunani kuno, dialah Hermes Trismegistus, dewa Mercury, yang tak lain adalah Thoth.


Thoth adalah dewa bulan, dewa pengetahuan, dewa sihir, dewa kebajikan/kearifan, Dia selalu ada di mitologi Mesir sebagai dewa penyelamat, penolong, sebagai penengah konflik antar dewa. Ia digambarkan dengan wujud badan manusia dan kepala burung ibis. Apakah saya juga sangat memuja Thoth karena takjub akan kisah/mitologi Mesir ini? 

Yang menarik bagi saya adalah bahwa mitologi dan ajaran kepercayaan bangsa Mesir kuno begitu besar pengaruhnya terhadap kebudayaan lain yang datang ke Mesir, sampai-sampai ajaran itu diadopsi dan diintegrasikan ke agama-agama besar dunia. Bangsa Yunani menciptakan tokoh berdasarkan Thoth. Begitupula Christianity, siapapun tokoh penting agama Kristen yang datang ke Mesir pada masa itu terpukau pada ajaran Thoth-Hermes dan mengadopsinya ke dalam Christianity.

Bangsa Arab melakukan hal sama dengan yang telah dilakukan bangsa Mesir lebih dulu, salah satunya yaitu menggunakan batu bintang (meteor) yang jatuh ke bumi sebagai bagian penting dari bangunan Ka'bah. Bangsa Mesir menggunakan batu yang sama untuk batu puncak (Cap StonePiramid Besar di Giza. Bangsa Arab juga menamakan ilmu bangsa Khemit (Mesir) dengan "Al-Khemit", yang kemudian dikenal dengan Alchemy.

Banyak faka-fakta yang mengarahkan pada bukti betapa kuatnya pengaruh pengetahuan Thoth-Hermes ini terhadap ajaran-ajaran di seluruh dunia. Mengapa?
Pertama, Hal ini disebabkan oleh mitologi Mesir yang mengkisahkan Thoth mengetahui cara menghidupkan Osiris dari kematiannya. Maka Thoth mengetahui cara menghidupkan orang yang sudah mati. Thoth juga yang mengajarkan bagaimana mengirimkan ruh dari orang yang sudah mati ke alam dewa dimana ia akan dihidupkan kembali. Banyak yang meyakini bahwa ilmu Thoth tersebut masih ada dan bisa dipelajari dan dipraktekkan kembali. Mukjizat Thoth juga dilakukan oleh Nabi Isa / Yesus ketika Ia menghidupkan seseorang dari kematian. Manusia lahir, hidup, dan mati. Maka ilmu yang dianggap tertinggi adalah membangkitkan orang yang telah mati, atau menghantarkan seseorang yang sudah mati ke alam dewa (surga).

Kedua, karena kisah atau mitologi Mesir paralel dengan ajaran agama-agama Abrahamik. Di masa Christianity mencapai Mesir, mereka menemukan bahwa apa yang terkandung dalam ajaran Hermes-Thoth ini tidak hanya terdapat banyak paralel-nya, namun juga menawarkan penjelasan atau kisah yang tidak ditemukan di dalam ajaran Christianity. Bagi Islam, ini mungkin sama halnya dengan menemukan ayat-ayat Allah yang hanya diturunkan kepada Rosul namun tidak masuk ke dalam Al-Qur'an. Sehingga ayat-ayat tambahan itu layak atau bahkan harus diserap resmi sebagai pelengkap yang tak dapat dipisahkan.

Alhasil, di zaman Renaissance bagaikan terlahir agama baru - The Magical Religion, yang tentunya mengadopsi dari pengetahuan Hermes-Thoth. Sentral dari ajaran ini adalah pengakuan dan pemujaan pada Tuhan di segala hal - "God in Things".

Sesungguhnya Thoth tidak menciptakan ilmu itu. Thoth menyampaikan pengetahuan hakiki yang berasal dari Tuhan. Dan pesan sejati yang ia sampaikan kepada manusia/kita adalah seperti cuplikan percakapan Thoth dengan Poimandres (Poimandres adalah sebentuk entitas supernatural yang merepresentasikan pengetahuan Tuhan, "The Knowledge of The Creator", "The Knowledge of Ra").
Poimandres: "... hear and see, and to learn and come to know by thought." 
Poimandres: "... mendengar dan meihat, dan untuk belajar, dan mengetahui melalui pikiran."
Thoth: "I would fain learn the things that are, and understand their nature, and get knowledge of God. These are the things of which I wish to hear." 
Thoth: "Aku sangat ingin mempelajari segala sesuatu, dan mengerti sifat dasarnya, dan mendapatkan pengetahuan Tuhan. Inilah yang ingin aku dengar."
Poimandres: "I know what you wish, for indeed I am with you everywhere; Keep in mind all that you desire to learn, and I will teach you."
Poimandres: "Aku tau apa yang kau inginkan, maka sungguh Aku bersamamu kemanapun; pikirkanlah apa yang ingin kau pelajari, maka Aku akan mengajarkannya padamu."


Desire

Percapakan antara Thoth dan Poimandres di atas menyiratkan kepada kita sebuah makna penting, yaitu bahwa ilmu pengetahuan didapat dengan pertanyaan. Tanpa pertanyaan maka tidak ada jawaban. Jawaban tidak akan datang tanpa pertanyaan. Ini adalah syarat utama yang harus dilakukan oleh kita, pencari kebenaran hakiki.
"The Knowledge comes to whom it is desired."

Di dalam tulisan saya terdahulu, Science of the Spiritual (Part 1: Working with Energies)telah saya jelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini membentuk energi yang hidup. Disadari atau tidak disadari hal ini terjadi setiap saat. Para pelaku spiritual, para meditator mengetahui keberadaan energi-energi ini. Dan energi-energi hidup tersebut saling berinteraksi satu sama lain, juga dengan alam. Semakin kuat energi yang dihasilkan, semakin kuat pula pengaruhnya kepada alam.

Pengetahuan alam ini juga sebentuk energi yang hidup. Dialah yang disimbolkan ke dalam Poimandres. Thoth memintanya untuk selalu menemaninya kemanapun, sehingga ia mengetahui mengenai segala sesuatu.


Consciousness

Syarat terpenting kedua adalah Pengakuan atau Kesadaran. Dengan mengakui dan menyadari bahwa Tuhan ada di segala sesuatu, maka seseorang akan ber-laku sesuai dengan alamiahnya. Penjelasan mengenai Tuhan ada di segala sesuatu ada dalam tulisan saya yang berjudul, "Cosmic Religion". Tuhan adalah wadah atau medium dimana segala sesuatu - alam semesta - eksis. Tuhan tidak menciptakan alam di depan-Nya, atau di bawah-Nya atau dimanapun karena ruang dan waktu tidak relevan bagi-Nya. Karena Tuhan adalah Satu. Tidak ada apa-apa selain Tuhan. Maka ruang dan waktu eksis pada-Nya. Maka seluruh ciptaan-Nya eksis pada-Nya. Maka segala sesuatu di alam ini adalah manifestasi dari Tuhan. Kita eksis di dalam Tuhan. Inilah kebenaran yang hakiki.

Setelah anda mengetahui kebenaran ini, anda juga harus mengakuinya dan menyadarinya. Ini sangatlah sulit bagi sebagian besar orang karena orang sudah terbiasa dan terdoktrin dengan logika yang materialistis dan matriarki. Orang sangat sulit menerima kebenaran bahwa kita eksis di dalam Tuhan. Pengakuan di tingkat ini memerlukan perjalanan spiritual dan tempaan jiwa yang cukup panjang. Saya tidak akan memaksa anda untuk langsung tiba di sini.

Sudah pernah saya jelaskan pada tulisan-tulisan saya yang terdahulu bahwa kesadaran yang dimaksud di sini harus diawali dengan pembersihan hati, penghancuran ego, dan mempercayai hati sepenuhnya. Sebuah perjalanan ke dalam diri dan bertemu dengan Tuhan di dalam diri.


Ma'at

Thoth mengajarkan bahwa dengan menyadari keberadaan Tuhan di alam ini, dan di seluruh obyek, maka segala sesuatu mematuhi hukum atau aturan Tuhan, hukum alam, Ma'at. Tidak ada satupun yang terlepas dari hukum-Nya. Inilah syarat ketiga; kita harus menyadari adanya hukum alam yang senantiasa mengatur, meng-govern perilaku alam ini. Kedengarannya mudah. Tetapi lihatlah di kehidupan sehari-hari, hampir semua orang di dunia tidak mengetahui hukum alam. Kadang anda bisa tertawa dan menangis bersamaan mengamati perilaku manusia yang sangat bangga dengan apa yang dilakukannya namun sesungguhnya salah kaprah.

Pengakuan terhadap hukum alam ini seharusnya terwujud dalam segala tindakan kita dan prinsip kehidupan kita sehari-hari. Seperti contoh yang saya sampaikan di tulisan saya sebelumnya (Part 2). Alam bersiklus melalui revolusi planet-planet terhadap bintang-bintang, sehingga didapatlah hitungan waktu bumi yang diturunkan langsung dari langit. Inilah contoh hukum alam yang diterapkan dengan benar. Dari langit kita mendapatkan angka dengan kelipatan 12. Seharusnya kita terus menggunakan kelipatan 12 ini untuk segala perhitungan kita. Namun kita menggantinya dengan sistem metric - kelipatan 10. Ini adalah contoh perilaku manusia yang tidak mengindahkah apa yang diajarkan oleh alam kepada kita. Karena manusia hidup di zaman kegelapan dimana logika masculine - patriarki - yang materialistis sudah menguasai otak kita. 10 adalah logis, sedangkan 12 tidak logis. Apakah kita sudah lebih pintar dari Tuhan?

Bumi adalah sebuah bola energi raksasa yang senantiasa bergerak, dan senantiasa menghasilkan energi tanpa batas. Di dalam tanah dan di permukaan tanah terdapat pergerakan energi-energi yang membentuk grid meliputi seluruh planet bumi ini. Titik pusat koordinat bumi ditentukan oleh garis-garis ini. Maka seharusnya titik nol koordinat bukan di Greenwich. Tetapi manusia menentukan sendiri atas dasar 'siapa yang lebih kuat' (azas patrarki dan materialistis), bahwa titik nol adalah di Greenwich.

Setiap pertemuan garis-garis energi itu, energinya berlipat ganda. Di sanalah ditemukan struktur-struktur suci atau keramat buatan manusia kuno. Contohnya adalah Piramid Besar di Giza. Pemilihan lokasi bukan ditentukan atas pertimbangan suara terbanyak, atau atas dasar ekonomis, politis, dll. Tetapi ditentukan oleh garis energi bumi. Dan cara inilah yang benar - selaras atau harmonis dengan alam.

Anda saya anjurkan membaca buku atau menonton video: "The Code - Ancient Advanced Technology and the Global Earth Matrix" by Carl Munck.
Sedikit pengetahuan mengenai energi, silakan baca ulasannya di dalam tulisan saya terdahulu; Science of the Spiritual (Part 1: Working with Energies)

Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dari apa yang saya ingin jelaskan mengenai keselarasan atau keharmonisan dengan alam, namun tidak mungkin saya ceritakan semuanya. Saya harap anda bisa mencarinya sendiri. Dan setelah anda renungkan, maka anda akan setuju dengan saya bahwa pendidikan terpenting untuk anak-anak kita adalah pendidikan mengenai Ma'at, atau hukum Tuhan yang hakiki. Dan pengetahuan ini harus diturunkan kepada mereka dengan cinta dan kasih sayang - kasih Tuhan, agar mereka menjadi manusia yang selalu mengutamakan keselarasan dan keharmonisan dengan alam. Keseimbangan antara Feminine dan Masculine.


===============

Para leluhur kita mengetahui banyak hal yang tidak kita ketahui. Pengetahuan itu sudah ada namun terlupakan. Oleh karenanya mempelajari sejarah manusia menjadi sangat penting. Bukan sejarah yang sudah dikuasai Patriarki, bukan pula sejarah yang ditulis oleh si pemenang, bukan sejarah hasil dari keputusan bersama. Namun sejarah manusia terdahulu yang masih menjunjung tinggi keseimbangan antara Feminine dan Masculine. Manusia-manusia yang mengutamakan keseimbangan body, mindsoul, and nature. Mereka yang menjunjung tinggi kesucian dan kejujuran. Pengetahuan hakiki yang bukan ditulis oleh pemenang, pengetahuan hakiki yang bukan hasil dari pengambilan suara terbanyak. 

Hal ini tidak mudah. Sudah berapa banyak Nabi dan Rosul yang dihadirkan di tengah-tengah manusia? Mereka menyampaikan pengetahuan hakiki sama dengan yang diajarkan oleh Thoth jauh sebelum mereka. Namun hanya segelintir orang yang mengerti. Sebagian besar tidak mampu menerima kebenaran itu.

Kita berada di zaman besi, zaman kegelapan, akhir zaman, dan sedang naik kembali sesuai siklus alamiah - presesi, The Great Year, siklus Yuga. Diperlukan manusia-manusia yang bersedia memulai ascension ini. Saat mendekati titik terendah di zaman kegelapan ini, titik dimana juga terjadi pergantian tahun zodiak, sekelompok orang di berbagai tempat di dunia melakukan ritual-ritual khusus. Pelepasan energi alamiah inti bumi yang berpindah, penyambutan kehadiran kembali Ibu Bumi, dan lainnya. Tidak banyak yang tau mengenai kegiatan mereka, karena sebagian besar orang tidak akan mampu memahaminya, apalagi perduli mengenainya (bahkan mereka akan menganggap kegiatan ritus itu sebagai paganisme). Mereka mengupayakan sebuah transisi yang terbaik untuk seluruh umat manusia menuju zaman yang lebih baik. Mereka mengetahui rahasia alam. Mereka berbicara dengan alam, hidup harmonis dengan alam, mereka menyadari ketuhanan (keillahian) yang ada pada setiap obyek di alam. Mereka memahami pengetahuan Sang Penyihir, The Magician, Thoth.


===============

Apa yang saya tulis bukanlah khayalan semata. Usaha yang saya lakukan untuk menulis tulisan panjang ini dihasilkan dari keinginan kuat untuk mempelajari pengetahuan illahi yang hakiki yang kemudian berwujud pada pengalaman pribadi. Saya mengenal teman-teman yang juga melakukan praktik spiritual. Mereka membagi pengalaman mereka, dan tidak hanya saya, mereka pun mengalami hal yang serupa. Keselarasan dengan alam yang didasari kesadaran yang tinggi mengenainya akan menghasilkan aksi dan reaksi dengan alam itu sendiri. Tuhan ada di mana-mana. Tuhan ada di setiap manusia. Tuhan ada di seluruh alam ini. Karena kita dan semua adalah manifestasi dari Tuhan yang sama. 

Tidak ada Tuhan selain Tuhan.
There is no God but God. (La illaha illallah)



 

===============

Dari dictum Hermetic yang terkenal, "As above so below", dan yang tercantum di buku Asclepius, di dalam salah satu babnya yang panjang yang disebut  Lament;
Do you not know, Asclepius, that Egypt is made in the image of Heaven, or so to speak more exactly; in Egypt all the operations of the power which rule and work in heaven have been brought down to Earth below? Nay, it should be said that the whole Cosmos dwells in this our land and its temples.
Tidakkah kau tau, Asclepius, bahwa Mesir dibuat dalam gambaran Surga, atau bisa dikatakan lebih tepatnya, di Mesir semua operasi kekuasaan di surga telah dibawa ke bumi? Tidak, seharusnya dikatakan bahwa seluruh kosmos menghuni di tanah kita dan dalam kuil-kuilnya.

Kemudian tulisan tersebut berlanjut dengan kejadian dewa-dewa yang meninggalkan Mesir;
And yet, since it is fitting that wise men should have knowledge of all events before they come to pass, you must not be left in ignorance of this: there will come a time when it will be seen that in vain have the Egyptians honoured the deity with heartfelt piety and assiduous service; and all our holy worship will be found bottomless and ineffectual.
Dan orang yang arif harus mengetahui pengetahuan mengenai segala kejadian sebelum mereka berlalu, kau tidak boleh dalam kondisi tidak tau mengenai hal ini; akan ada masa ketika semua usaha orang Mesir dalam menghormati dan memuja dewa-dewa mereka dalam berbagai ritual, akan menjadi tak berarti dan tidak lagi efektif.
For the gods will return from Earth to Heaven; Egypt will be forsaken, and this land, which was once home of religion, nothing will remain but an empty tale, which thine own children in time to come will not believe; nothing will be left but graven words, and only stones will tell of thy piety... no one will raise his eyes to heaven, the pious will be deemed insane, and the impious wise; the madman will be thought a brave man, and the wicked will be esteemed good. As to soul and the believe that it is immortal by nature, or may hope to attain immortality, as I have taught you, all this they will mock at, and will even persuade themselves that it is false. 
Yaitu ketika dewa-dewa pergi meninggalkan bumi kembali ke surga; Mesir akan terlupakan, dan tanah ini, dimana pernah menjadi rumah agama, tidak ada yang tersisa selain kisah kosong, dimana para anak-anak kita tidak akan mempercayainya; tidak ada yang tersisa selain kata-kata terkubur dan hanya bebatuan yang mampu menyampaikan kisah keimananmu... tidak ada seorangpun yang akan mengarahkan pandangan ke surga, yang beriman akan dikatakan gila, yang tidak beriman dianggap arif; yang gila dianggap berani, yang jahat akan dianggap baik. Ruh dan kepercayaan keabadian yang alami, atau harapan untuk mencapai keabadian, seperti yang aku pernah ajarkan padamu, semua itu akan diejek, dan akan dikatakan tidak benar/salah.

Dewa-dewa yang meninggalkan dunia adalah seiring dengan penurunan kualitas spiritual manusia seiring dengan siklus zaman.

===============


[ER]