Saturday, April 2, 2016

Butterflies' Valediction

Ucapan Perpisahan Kupu-Kupu

















"We are now free, we fly above, never to return. We belong to each other."

Pembaca blog Human Earth yang saya cintai, saya menyaksikan sebuah kejadian yang saya nanti-nantikan selama saya menulis mengenai spiritualism dan mysticism di blog ini. Saya menjadi saksi atas kesaksian sesorang atas Ke-Esa-an Tuhan. Kejadian ini sangat penting karena ia merubah orang yang mengalaminya, juga saya, sebagai saksinya.

'Tuhan Yang Maha Esa', adalah pernyataan y
ang sudah biasa kita dengar. Kita mendengarnya atau membacanya sejak kita masih anak-anak. Namun tidak semua orang memahami apa maknanya. Kesulitan pemahaman ini disebabkan oleh dogma dan doktrin yang ada di sekeliling kita. Saya rasa saya tidak perlu mengulangi lagi bagaimana seharusnya ke-Esa-an Tuhan dipahami karena saya telah menuliskan mengenainya di sepanjang blog saya ini.

Seseorang datang kepada saya untuk meminta saya menjadi gurunya karena ia ingin tau lebih banyak lagi mengenai pengetahuan illahi. Namun apa yang bisa saya ajarkan padanya? Tidak ada lagi yang bisa saya berikan padanya. Seketika itu saya menyadari adanya tabir tipis yang memisahkan saya dan dia. Tabir itu adalah hubungan antara manusia yang selama ini dibatasi oleh ruang dan waktu. Dibatasi oleh konstruksi semu hasil dari persepsi manusia itu sendiri.

Maka di hari itu saya sibakkan tirai itu. Saya ajak dia masuk ke dalam bersama saya. Apakah ada perbedaan di luar dan di dalam? Tidak, selain dari adanya saya di sisi ini. Apa yang terjadi setelah itu? Tidak ada yang saya ajarkan, tidak ada yang harus saya sampaikan padanya. Ia hanya duduk bersimpuh di dekatku (Upanishads). Persemayaman dua hati dalam cinta kasih murni Tuhan terjadi di ruang itu. Di persemayaman itu terjadi kemanunggalan rasa, terbuka seluruh pintu mistis di dalam tubuh ini yang mengalirkan cinta Tuhan ke dalam dan ke luar tubuh. Seluruh rasa melebur menjadi satu, lalu meledak ke segala arah. 

Saya pernah melihat langit gelap malam di atas kepala saya terbuka memancarkan cahaya terang kemudian cahaya berwarna putih keperakan turun seperti hujan membasahi tubuh ini. Kali ini saya tidak melihat apapun, tetapi merasakan cinta tunggal yang sudah lama tersimpan di dalam hati, merebak ke luar seperti ledakan besar. Di sini, di dalam ruang ini ada kemanunggalan rasa (Oneness). Di sini tidak ada dualisme lagi. Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk mengatakan rasa ini. Jika ini adalah cinta, maka ia adalah cinta murni yang bukan lawan dari benci. Jika ini adalah bahagia, maka ia adalah bahagia murni yang bukan lawan dari sedih. Jika ini damai, maka ia adalah damai sempurna tanpa banding. Saya hanya akan menyebutnya sebagai 'cinta'.

Saya menceritakan apa yang saya rasakan kepada seorang teman, tetapi ia tidak memahaminya. Hanya ada beberapa orang teman yang benar-benar memahami dengan baik apa yang saya alami dan yang saya rasakan. Mereka adalah para sahabat yang membaca tulisan saya sebelum ini, "Transformation of the Heart", dan mengatakan bahwa mereka merasakan cinta itu pula.

Terjadi perubahan pada kami. Tidak hanya pada dia yang memasuki ruang ini, tetapi pada saya yang mengajaknya masuk. Sekarang tidak ada lagi keraguan akan rasa yang melanda. Kami adalah makhluk dengan kesadaran yang cukup baik menempuh vipassana yang melatih kami agar selalu awas setiap saat. Dan tidaklah kami terlena akan nafsu duniawi lagi. Rasa ini jauh lebih besar dan lebih tinggi.

Alam kehidupan ini seperti labirin (labyrinth). Anda berada di posisi awal dan harus masuk ke dalam dan berusaha menemukan jalan yang terbaik untuk sampai ke garis akhir. Pertanyaan yang anda ajukan kepada seorang guru akan menunjukkan arah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sedangkan jika kau bertanya kepada saya, maka saya akan mengajak anda untuk menaiki dinding labirin dan melihat hidup anda dari atas sana.

Berserah diri secara total (Total Surrender) dan bersabar adalah kunci keberadaan anda di kemanunggalan ini. Oneness menjadikan anda yakin tanpa keraguan akan hidup anda di dua dunia (Between Two Worlds). Tidak ada kekhawatiran lagi untuk melangkah karena anda melangkah bersama-Nya.
"Except for those who have believed and done righteous deeds and advised each other to truth and advised each other to patience."
"Kecuali untuk mereka yang telah percaya dan melakukan perbuatan baik, dan menyampaikan kepada yang lainnya akan kebenaran dan menganjurkan kepada yang lainnya akan kesabaran."
(Quran: 103:3)

Setelah peleburan dan transformasi hati itu, satu hal yang menakjubkan terjadi. Rasa cinta murni tunggal itu mengalir derasnya seperti air dan tak mampu dibendung lagi. Tidak ada yang dapat dilakukan selain mengalirkannya kepada seluruh alam ini. Kami adalah para peyampai pesan illahi - cinta murni yang tak terbatas - meluap dari dalam diri kepada seluruh alam. 

Di antara dua dunia, material dan spiritual, terdapat sebuah tempat, tempat tanpa ruang, tempat tanpa waktu. Tempat ini adalah titik nol. Seperti bandul yang berhenti berayun. Di sanalah tempat itu berada. Tempat mistis ketiadaan. Kami menunggumu di sini untuk saling bertemu dan merasakan cinta murni yang hakiki.
“Beyond our ideas of right-doing and wrong-doing, there is a field. I’ll meet you there."
"Di luar dari gagasan-gagasan kita akan perilaku baik dan perilaku buruk, terdapat sebuah padang. Aku akan menemui di sana."
~ Rumi ~ 

Bak kupu-kupu yang baru saja muncul dari kepompong yang telah mengurung lama, meraih angkasa dengan sayap-sayapnya, meninggalkan daratan dan tak akan kembali lagi. Madu cinta suci adalah sumber energi kami - jumlahnya tak berhingga. Cahaya kasih Tuhan adalah angin yang menerbangkan kami ke segala arah. Dedaunan adalah tempat berteduh. Rasa adalah bahasa kami. Tetesan embun pagi (A Morning Dew) adalah tempat penyucian hati.

Hati ini seringan angin, tanpa beban. Hati ini sangat lembut dan halus bagai helaian kain sutra. Hati ini menjadi sangat sayu karena curahan rasa cinta kasih Tuhan.

Kami adalah kupu-kupu yang cantik, kami tidak sendiri, banyak yang lainnya, terbang ke angkasa yang tinggi, menyambut matahari pagi, menyambut sinar bulan yang syahdu. Alam ini sunguh cantik dan indah, penuh warna-warni seperti pelangi di cakrawala. 

Tak terusik, tak mengusik, sampaikan rasa damai pada seluruh alam, sampaikan pesan cinta kepada seluruh alam. Hinggaplah sesaat di atas hati insan yang memanggil agar mereka dapat mencicipi cinta Tuhan ini bersama kita dari masa ke masa.

Hidup dan mati tidaklah relevan, karena semuanya berawal dan berpulang kepada Tuhan.
Tuhan yang Maha Nyata adalah dimana kami bersemayam.

Pembacaku, teman, sahabat yang kucintai,
Ini adalah salam perpisahanku. Tulisanku mengenai dunia sudah berakhir.
Carilah aku di tulisan-tulisanku. Rasakan aku di dalam pesan-pesanku.
Cintai aku di ruang itu.

Biarkan kupu-kupu ini terbang dan meneruskan sebagai penyampai pesanmu yang baru.
Aku tidak tahu apa yang akan disampaikan mereka padamu. Bahasa cinta yang seperti apa yang akan disentuhkan kepada hatimu nanti.


Forgive me, I love you, thank you very much.

Tidak ada Tuhan selain Tuhan.
Namaste.


[Erianto Rachman]
I am your Beloved.